Wednesday, 21 October 2026


Mahasiswa UNDIP Ini Nekat Bongkar Kondisi Alor di Depan 5.155 Mahasiswa, Amran Langsung Bergerak

10 Aug 2026, 08:16 WIBEditor : Gesha

Seorang mahasiswa UNDIP asal Alor, Adriano Padama, berani membongkar kondisi pangan di kampung halamannya. Suaranya bikin Mentan Amran bergerak.

TABLOIDSINARTANI.COM, Alor – Seorang mahasiswa UNDIP asal Alor, Adriano Padama, berani membongkar kondisi pangan di kampung halamannya. Suaranya bikin Mentan Amran bergerak.

Suara seorang mahasiswa dari pelosok Alor ternyata tak berhenti sebagai keluhan.

Adriano Padama, mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP), berani membawa persoalan kampung halamannya ke hadapan ribuan mahasiswa.

Di depan 5.155 mahasiswa baru UNDIP, Adriano mengungkap kondisi distribusi pangan di Alor yang masih bermasalah.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah harga beras.

Ketika distribusi terganggu, harga beras di sejumlah wilayah Alor disebut bisa melonjak hingga Rp25.000-Rp30.000 per kilogram.

Cerita itu disampaikan Adriano saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan kuliah umum di UNDIP, Semarang, Kamis (6/8).

Amran rupanya tidak menganggap cerita tersebut sebagai keluhan biasa.

Responsnya justru langsung, jajaran terkait diminta menindaklanjuti persoalan pangan di Alor.

Tak lama kemudian, langkah yang lebih mengejutkan diambil saat Mentan Amran membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta.

Menteri Pertanian itu memilih terbang langsung ke Alor untuk melihat kondisi masyarakat dan memastikan aspirasi Adriano benar-benar ditindaklanjuti.

“Kalau pun berteriak, saya terima dengan senang hati, karena teriakannya adalah membawa aspirasi rakyat nyata, real,” ujar Amran saat berada di Alor, Sabtu (8/8).

Mentan Amran juga memberikan apresiasi khusus kepada Adriano.

Menurutnya, keberanian mahasiswa tersebut berbeda karena yang dibawa bukan kepentingan pribadi.

Adriano disebut berani menyuarakan persoalan yang dirasakan masyarakat di daerah asalnya.

“Saya bangga dengan namanya Adriano. Ini adalah putra terbaik NTT. Ini harus kita kawal,” tegas Amran.

Amran bahkan menyebut Adriano sebagai mahasiswa yang patut diteladani.

Menurut dia, mahasiswa tersebut mampu membaca “denyut nadi” masyarakat dan menyampaikan apa yang benar-benar mereka butuhkan.

“Bukan bahasa basi, bukan hanya pencitraan, apalagi mengada-ada. Inilah mahasiswa yang harus diteladani,” kata Amran.

Ada satu hal lain yang membuat Amran semakin mengapresiasi Adriano.

Ia mengatakan mahasiswa tersebut juga hidup dalam kondisi pas-pasan.

Namun, kondisi itu tidak membuat Adriano berhenti memperjuangkan masyarakat Alor.

“Membawa aspirasi rakyat bukan kepentingan pribadi. Padahal dia juga hidup pas-pasan. Tetapi memperjuangkan rakyat Alor, NTT khususnya,” ujar Amran.

Apa yang disampaikan Adriano di ruang kuliah UNDIP akhirnya berujung pada kunjungan langsung Mentan ke Alor.

Amran mengatakan keputusan tersebut diambil sebagai bentuk keseriusan pemerintah.

“Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta. Kami langsung terbang dari Jakarta, dari Jawa Tengah, langsung ke Alor,” katanya.

Di Alor, Adriano ikut mendampingi Amran meninjau sejumlah lokasi.

Keduanya melihat langsung kondisi masyarakat serta program pertanian yang disiapkan pemerintah.

Bagi Adriano, respons tersebut menjadi sesuatu yang tidak disangka.

Ia mengaku bersyukur karena aspirasinya mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena Pak Menteri sudah berkenan datang ke daerah kami yang terpencil ini. Kami sangat senang,” ujar Adriano.

Setelah melihat kondisi di lapangan, Amran memastikan kebutuhan beras masyarakat Alor menjadi perhatian pemerintah.

Ia menyebut stok beras sudah tersedia di gudang. Harga juga akan dijaga agar tetap terjangkau.

“Pak Adriano, beras sudah aman. Ada di gudang-gudang sekarang. Harga itu Rp13 ribu, sama dengan harga Jakarta. Kita sekarang tidak akan kesulitan beras,” tegas Amran.

Amran juga meminta Bulog tidak pasif, jika masyarakat membutuhkan beras, operasi pasar harus dilakukan.

“Bulog operasi pasar. Tidak ada batasan. Kalau ada yang mau beli beras, kita keluarkan. Lakukan pasar di mana dibutuhkan. Pasar murah,” imbuhnya.

Kisah Adriano akhirnya menjadi contoh bagaimana suara seorang mahasiswa bisa membawa persoalan daerah terpencil hingga langsung ke meja pemerintah.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018