
Di usia ke-56 tahun, Tabloid Sinar Tani tetap berdiri dan bertransformasi, menerangi petani serta penyuluh dengan informasi pertanian terkini.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Di usia ke-56 tahun, Tabloid Sinar Tani tetap berdiri dan bertransformasi, menerangi petani serta penyuluh dengan informasi pertanian terkini.
Tabloid Sinar Tani memasuki usia ke-56 tahun, di tengah gempuran media digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, media yang sejak awal hadir untuk mendukung penyuluhan pertanian itu terus mempertahankan eksistensinya sebagai jembatan informasi bagi pemerintah, peneliti, penyuluh, hingga petani.
Semangat tersebut mengemuka dalam acara Syukuran dan Tasyakuran HUT ke-56 Tabloid Sinar Tani yang digelar Senin (31/08).
Mengusung tema “Menanam Harapan, Menuai Prestasi”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang Sinar Tani sekaligus menatap tantangan dunia pertanian dan media ke depan.
Pemimpin Perusahaan PT Duta Karya Swasta, Mulyono Machmur, dalam pemaparannya menyinggung sejarah panjang kelahiran Sinar Tani dan kaitannya dengan kebutuhan penyuluhan pertanian pada masa awal pembangunan pertanian nasional.

Tabloid Sinar Tani lahir pada 29 Agustus 1970 sebagai media cetak yang mendedikasikan diri terhadap penyuluhan dan pembangunan sektor pertanian di Indonesia.
Kelahirannya tak bisa dilepaskan dari kebutuhan menghadirkan informasi pertanian yang bisa menjangkau penyuluh dan petani di lapangan.
Pada masa itu, penyuluh membutuhkan bahan informasi untuk memperbarui pengetahuan sekaligus menyampaikan perkembangan teknologi pertanian kepada petani.
Dalam sejarah yang disampaikan pada acara tersebut, gagasan awal media ini dikaitkan dengan tokoh pertanian Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwidjaya, yang pada periode 1968-1978 menjabat sebagai Menteri Pertanian.
Sebelum menggunakan nama Sinar Tani, media tersebut disebut berawal dari Sinar Djaya, kemudian berkembang menjadi Sinar Tani sebagai sarana penyuluhan.
Momentum kelahiran Sinar Tani juga beriringan dengan penguatan penyuluhan pertanian pada era Repelita I.
Pada 1969, pemerintah melakukan pengangkatan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) secara massal.
Kehadiran media pertanian kemudian menjadi salah satu sarana untuk membantu memperkuat arus informasi dari pusat ke lapangan.
Selama puluhan tahun, Sinar Tani mengambil posisi sebagai penghubung berbagai unsur pembangunan pertanian.

Informasi mengenai teknologi budidaya, inovasi pola tanam, kebijakan pangan, perkembangan komoditas hingga kisah keberhasilan petani menjadi bagian dari konten yang disampaikan kepada pembacanya.
Bagi penyuluh, informasi tersebut bukan sekadar bacaan. Informasi pertanian menjadi bekal untuk menghadapi persoalan nyata di lapangan yang terus berubah.
Mulai dari perubahan teknologi budidaya, dinamika harga komoditas, kebijakan pemerintah, perubahan iklim, hingga kebutuhan regenerasi petani membuat penyuluh harus terus memperbarui pengetahuan, di sinilah peran media pertanian menjadi penting.
Memasuki era digital, tantangannya pun berubah. Arus informasi semakin cepat, tetapi pada saat yang sama informasi yang beredar belum tentu benar dan sesuai dengan kondisi lapangan.
Sinar Tani pun melakukan transformasi. Selain tetap mempertahankan identitasnya sebagai media pertanian, Sinar Tani kini hadir melalui kanal digital, situs berita, media sosial, video, serta berbagai bentuk konten yang memungkinkan informasi pertanian dikonsumsi lebih cepat.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan relevansi di tengah apa yang disebut sebagai “tsunami media”.
Media cetak menghadapi perubahan besar akibat pergeseran pembaca ke platform digital.
Namun, perjalanan Sinar Tani selama lebih dari lima dekade menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap informasi pertanian tetap ada.
Yang berubah adalah cara informasi tersebut disampaikan.
Pimpinan Umum PT Duta Karya Swasta, Memed Gunawan, dalam sambutannya juga mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi.
“Mari kita bekerja sama, mari kita saling membesarkan, saling memuatkan dan memberikan masukan-masukan,” ujar Memed dalam acara tersebut.
Menurutnya, kerja sama menjadi bagian penting untuk memastikan informasi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat pertanian.
Semangat kolaborasi itu juga sejalan dengan posisi Sinar Tani yang selama ini berada di antara pemerintah, peneliti, penyuluh dan petani.
Apalagi, tantangan penyuluhan pertanian saat ini semakin kompleks.
Penyuluh tidak cukup hanya menguasai persoalan budidaya tanaman pangan, tetapi juga dituntut memahami perkembangan hortikultura, perkebunan, peternakan, agribisnis, hilirisasi hingga teknologi digital.
Penyuluhan pun bergerak menuju era yang semakin berbasis data dan teknologi.
Pemanfaatan media sosial, video edukasi, pemetaan berbasis data dan berbagai platform digital membuka peluang bagi penyuluh untuk menyebarluaskan informasi secara lebih cepat.
Dalam kondisi tersebut, media pertanian seperti Sinar Tani dituntut bukan hanya cepat, tetapi juga mampu menghadirkan informasi yang kredibel, mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan petani.
Karena itu, transformasi digital bukan sekadar memindahkan berita dari kertas ke layar ponsel.
Lebih dari itu, perubahan tersebut menyangkut bagaimana informasi pertanian dikemas agar dapat menjangkau generasi petani baru.
Acara syukuran HUT ke-56 tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan sektor pertanian.
Di antaranya Komisaris Utama PT Duta Karya Swasta Dr. Ir. A.H. Rahadian, M.Si, Ketua Harian I HKTI Mayjen TNI (Purn) Bachtiar Utomo, Wakil Ketua Umum Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPN HKTI Suroyo, praktisi penyuluhan pertanian Momon Rusmono, serta Penyuluh Ahli Utama Prof. Dedi Nursyamsi.
Sejumlah perwakilan eselon lingkup Kementerian Pertanian, Asbenindo, serta klien Sinar Tani juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Komisaris PT Duta Karya Swasta Achmad Saubari Prasodjo memimpin doa dalam rangkaian tasyakuran.
Dalam doanya, ia memanjatkan rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui sekaligus memohon kekuatan agar Sinar Tani dapat terus berkembang dan memberikan manfaat.
“Ya Allah Yang Maha Kuasa, beri kami kekuatan, kemampuan dan ketakwaan untuk bisa menyumbangkan tenaga dan kegiatan agar Sinar Tani ke depan dapat terus berkembang,” demikian doa yang disampaikan dalam acara tersebut.
Ia juga mendoakan mereka yang telah berpulang serta memohon ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
“Timpa lah amal ibadah, ampuni kesalahan mereka, tempatkanlah mereka di tempat yang Engkau ridai dan berikan kesabaran serta ketakwaan kepada keluarga yang ditinggalkan,” lanjutnya.
Doa tersebut menjadi bagian refleksi perjalanan panjang Sinar Tani. Sebab, mempertahankan sebuah media selama 56 tahun tentu bukan perkara mudah.
Ada perubahan zaman, perubahan teknologi, perubahan perilaku pembaca hingga tantangan industri media yang datang silih berganti.
Namun, kebutuhan terhadap informasi pertanian tak pernah benar-benar hilang.
Justru ketika informasi semakin deras, kebutuhan terhadap sumber informasi yang dapat dipercaya menjadi semakin penting.
Penyuluh membutuhkan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Petani membutuhkan pengetahuan yang bisa diterapkan.
Pemerintah membutuhkan kanal komunikasi yang mampu menjangkau pelaku utama pembangunan pertanian.
Di titik itulah Sinar Tani berusaha mempertahankan perannya.
Dari lembaran koran dan tabloid, kini informasi pertanian bergerak ke situs, media sosial, video dan berbagai platform digital.
Formatnya berubah, tetapi misi dasarnya tetap sama yaitu menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi insan pertanian.
Memasuki usia 56 tahun, tema “Menanam Harapan, Menuai Prestasi” pun terasa relevan.
Menanam harapan berarti menjaga optimisme bahwa pertanian Indonesia terus berkembang.
Sementara menuai prestasi menjadi gambaran dari kerja panjang petani, penyuluh, peneliti, pemerintah dan seluruh ekosistem pertanian.
Sinar Tani kini menghadapi babak baru. Bukan lagi sekadar mempertahankan media cetak, tetapi bagaimana membangun ekosistem informasi pertanian yang mampu bertahan di tengah derasnya arus digital.
Setelah melewati 56 tahun perjalanan, satu hal menjadi jelas, Sinar Tani mungkin berganti platform, tetapi perjuangan untuk menghadirkan informasi bagi petani dan penyuluh belum selesai.