
Komisi IV DPR mengapresiasi kinerja Mentan Amran selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, mulai dari pupuk bersubsidi hingga modernisasi pertanian.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Komisi IV DPR mengapresiasi kinerja Mentan Amran selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, mulai dari pupuk bersubsidi hingga modernisasi pertanian.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A. Rozak mengapresiasi kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selama dua tahun terakhir.
Sejumlah perubahan yang dinilainya menonjol meliputi penurunan harga pupuk bersubsidi, penguatan mekanisasi pertanian, perbaikan irigasi, hingga kebijakan harga gabah yang dinilai semakin memberikan kepastian bagi petani.
Menurut Hanan, transformasi pertanian tidak cukup diukur dari besarnya anggaran pemerintah maupun banyaknya program yang dijalankan.
Hal yang lebih penting adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjawab kebutuhan petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Ia menegaskan, petani merupakan pelaku utama produksi pangan.
Sementara itu, pemerintah bertugas menyediakan pelayanan, menyusun regulasi, memfasilitasi kebutuhan produksi, serta memberikan dukungan ketika petani menghadapi keterbatasan yang tidak dapat diatasi sendiri.
“Yang berproduksi itu bukan pemerintah, pelakunya adalah petani. Petani berusaha tani. Tugas pemerintah adalah pelayanan, pengaturan, dan kalau memungkinkan memberikan keringanan beban pertanian dengan subsidi,” ujar Hanan.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menempatkan petani sebagai pusat pembangunan pertanian.
Kebijakan pemerintah, menurut dia, harus mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan petani berproduksi secara optimal sekaligus memperoleh pendapatan yang layak.
Hanan juga menjelaskan, DPR menjalankan tiga fungsi utama, yakni legislasi, anggaran, dan pengawasan.
Karena itu, program Kementerian Pertanian harus dipastikan tidak hanya tersusun secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Harga Pupuk Turun
Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian Hanan adalah penurunan harga pupuk bersubsidi.
Ia menilai kebijakan tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah untuk mengurangi beban biaya produksi petani.
Menurut Hanan, persoalan pupuk tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar internasional.
Bahan baku pupuk, termasuk gas untuk produksi urea, serta bahan baku pupuk lainnya dapat mengalami perubahan harga akibat gangguan pasokan dan konflik geopolitik.
Dalam situasi tersebut, dukungan pemerintah diperlukan agar petani tetap memperoleh sarana produksi dengan harga yang terjangkau.
Ia juga mengapresiasi penyederhanaan tata kelola pupuk bersubsidi.
Dengan aturan penyaluran yang lebih sederhana, petani diharapkan lebih mudah memperoleh pupuk sesuai kebutuhan, baik dari sisi jumlah, waktu, tempat, maupun harga.
Namun, Hanan mengingatkan bahwa kemudahan akses harus diikuti pengawasan ketat.
Ia menyoroti kemungkinan penyimpangan di tingkat kios atau distributor, termasuk penyaluran pupuk yang tidak sesuai ketentuan.
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah penebusan pupuk ketika petani tidak dapat menanam akibat kekeringan.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan persoalan distribusi apabila pupuk sudah ditebus oleh distributor, tetapi kebutuhan petani berubah karena musim tanam tidak berjalan sesuai rencana.
Hanan meminta pengawasan dan sosialisasi diperkuat agar pupuk bersubsidi benar-benar diterima petani yang berhak.
Ia juga mempersilakan petani melaporkan kios yang diduga melakukan penyimpangan. Menurut dia, laporan dengan informasi yang jelas dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme pengawasan dan koordinasi dengan pihak terkait.
Modernisasi Pertanian
Selain pupuk, Hanan memberikan perhatian khusus terhadap mekanisasi pertanian yang dikembangkan Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Amran.
Ia menilai penggunaan alat dan mesin pertanian semakin penting karena tenaga kerja di sektor pertanian menghadapi keterbatasan.
Menurut Hanan, rata-rata usia petani yang semakin tua menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan produksi pangan.
Di sejumlah wilayah, petani bahkan semakin sulit mendapatkan tenaga kerja untuk kegiatan penanaman atau tandur
Kondisi tersebut membuat penggunaan mesin menjadi alternatif untuk menjaga kelancaran proses budidaya.
Hanan mengapresiasi perhatian Amran terhadap mekanisasi pertanian yang, menurutnya, telah dibangun sejak periode kepemimpinannya pada 2014.
Ia menilai penggunaan alat dan mesin pertanian bukan sekadar mempercepat pekerjaan di sawah.
Mekanisasi juga dapat mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual, membantu petani mengelola waktu tanam, serta membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pertanian modern.
“Modernisasi pertanian ini sudah saatnya dilakukan secara bertahap. Kita usahakan agar generasi muda tertarik masuk ke dunia pertanian,” ujarnya.
Meski demikian, Hanan mengingatkan bahwa modernisasi perlu disertai upaya memperkuat skala usaha tani.
Petani dengan lahan sempit menghadapi tantangan berbeda dibandingkan petani yang mengelola lahan lebih luas.
Karena itu, ketersediaan mesin, akses terhadap layanan penyewaan alat, dan dukungan kelembagaan menjadi faktor penting agar manfaat mekanisasi dapat dirasakan secara lebih merata.
HPP Gabah
Hanan juga menyoroti kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram yang disebutnya sebagai instrumen untuk melindungi pendapatan petani.
Menurut dia, pemerintah membutuhkan kebijakan harga yang mampu menjaga keseimbangan kepentingan produsen dan konsumen.
HPP menjadi salah satu instrumen untuk memberikan kepastian harga bagi petani, terutama ketika harga pasar berada di bawah tingkat yang ditetapkan pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki instrumen harga eceran tertinggi (HET) dan program stabilisasi pasokan dan harga pangan untuk menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat.
Hanan menilai kedua sisi tersebut perlu berjalan beriringan. Petani membutuhkan harga jual yang layak agar tetap bersemangat berproduksi, sedangkan konsumen perlu memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.
Ia menggambarkan perubahan perilaku petani yang semakin mandiri dalam mengambil keputusan usaha tani.
Ketika harga jual dinilai menguntungkan dan sarana produksi tersedia, petani memiliki dorongan ekonomi untuk kembali menanam tanpa harus terus-menerus didorong melalui pendekatan instruktif.
Bagi Hanan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kebijakan yang mampu membangun insentif ekonomi bagi petani.
Penyuluh Pertanian
Di tengah berbagai perubahan tersebut, Hanan menilai penguatan penyuluhan pertanian tetap menjadi pekerjaan penting.
Ia berpandangan bahwa pendekatan penyuluhan perlu disesuaikan dengan perkembangan kemampuan petani.
Petani saat ini dinilainya semakin berpengalaman sehingga penyuluh tidak cukup hanya menyampaikan cara bercocok tanam.
Menurut dia, penyuluh perlu membantu petani memperoleh informasi yang dibutuhkan, mulai dari pemilihan varietas benih, akses terhadap sarana produksi, penanganan penyakit tanaman, hingga peluang pemasaran hasil panen.
Hanan mengusulkan agar balai penyuluhan pertanian dapat dikembangkan sebagai pusat informasi yang mampu menjawab persoalan petani di wilayah kerjanya.
Dengan pendekatan tersebut, petani dapat memperoleh pendampingan berdasarkan kebutuhan spesifik, bukan sekadar mengikuti pola kunjungan rutin.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan penyuluh di lapangan agar kebijakan pemerintah pusat dapat diterjemahkan menjadi layanan yang benar-benar menjangkau petani.
PR Pertanian
Meski mengapresiasi sejumlah perubahan, Hanan mengingatkan bahwa pekerjaan rumah sektor pertanian masih besar, terutama dalam meningkatkan produksi kedelai nasional.
Menurut dia, peningkatan produksi kedelai menghadapi tantangan teknis, mulai dari kesesuaian varietas dengan kondisi iklim Indonesia hingga gangguan organisme pengganggu tanaman.
Ia mendorong lembaga penelitian mengembangkan varietas kedelai yang lebih sesuai dengan lingkungan tropis dan mampu menghasilkan produktivitas tinggi.
Hanan menilai persoalan kedelai membutuhkan perhatian khusus karena peningkatan produksinya tidak bisa hanya mengandalkan perluasan areal tanam.
Pengembangan benih unggul, pengendalian hama dan penyakit, serta perbaikan teknik budidaya juga harus dilakukan secara terpadu.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar capaian yang telah diraih selama dua tahun terakhir dipertahankan secara konsisten.
“Yang sudah dilakukan selama dua tahun ini sudah on the track. Tinggal bagaimana konsistensinya bisa berlanjut supaya kita swasembada terus, jangan sampai turun lagi,” kata Hanan.
Ia berharap perbaikan irigasi, kemudahan pupuk, ketersediaan benih, mekanisasi, dan penguatan kelembagaan petani terus berjalan beriringan.
Dengan demikian, upaya mewujudkan swasembada pangan tidak berhenti pada capaian jangka pendek, tetapi menjadi fondasi bagi pertanian yang produktif dan berkelanjutan.