Rabu, 12 Desember 2018


Kepala BKP Kementan : Ojo Khawatir, Tidak Akan Ada Lonjakan Harga

05 Des 2018, 14:29 WIBEditor : Gesha

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi menjamin stok dan harga pangan pokok dan strategis aman hingga awal tahun 2019 | Sumber Foto:NATTASYA

Badan Ketahanan Pangan (BKP) merilis stok pangan dalam keadaan surplus dan harga yang cenderung turun.

 

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 sebentar lagi, Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) memastikan ketersediaan pangan pokok hingga akhir Desember 2018 dalam kondisi aman (surplus).

"Ojo (jangan) khawatir. Saya bisa jamin Insya Allah sampai akhir tahun tidak ada lonjakan-lonjakan harga. Bahkan saya sudah terjunkan kawan-kawan (dari BKP) langsung ke provinsi bersama pemasok dan sebagainya," ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi saat konferensi pers Stok dan Harga Pangan Jelang HKBN Natal dan Tahun Baru 2019 di Kantor BKP, Jakarta, Rabu (5/12).

Berdasarkan perhitungan prognosa produksi dan ketersediaan, hingga akhir tahun 2018 akan ada surplus beras sebanyak 3,83 juta ton, minyak goreng 24,50 juta ton, gula pasir 344 ribu ton, bawang merah 136 ribu ton, daging ayam 335 ribu ton dan telur ayam ras sebanyak 806 ribu ton.

"Itu semua sudah kita hitung berdasarkan kebutuhan di beberapa provinsi. Misalnya Bali, yang menjadi daerah wisata saat Tahun Baru, kenaikan kebutuhan diperkirakan sejak tanggal 20 Desember untuk konsumsi wisatawan," bebernya.

Baca Juga : Pemerintah Optimis Bisa Menjaga Stok Beras di Tahun Politik

Agung berani menjamin surplus beras akan terus terjaga sebab Stok Cadangan Beras (CBP) yang dikelola Bulog saat ini juga dalam kondisi aman. Total akumulasi stok Januari-Desember 2018 sebesar 2,37 juta ton dan pemanfaatan CBP hingga November mencapai 454,56 ribu ton. Sehingga stok akhir CBP di akhir November tercatat 2,15 juta ton.

Untuk CBP yang dikelola daerah hingga akhir November tercatat 4,03 ribu ton (di Provinsi) dan 4,62 ribu ton (di Kabupaten/Kota).

Belum lagi, cadangan beras yang ada di masyarakat (rumah tangga petani, hotel restoran dan katering/horeka, dan penggilingan). Tercatat stok beras yang ada di penggilingan pada minggu ke IV diperkirakan mencapai 1,04 juta ton yang terdistribusi di penggilingan kecil (811 ribu ton), penggilingan sedang (124 ribu ton) dan penggilingan besar (101 ribu ton).

Harga Turun

Sedangkan untuk harga di tingkat eceran, Agung menuturkan pada Minggu ke - IV November 2018, harga pangan sebagian mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 dan tahun 2017 pada periode yang sama, kecuali daging ayam ras dan telur ayam ras.

Jika dibandingkan dengan tahun 2017, harga yang mengalami penurunan adalah cabai merah (6,89 persen menjadi Rp 32.680 per kilogram), bawang merah (4,69 persen menjadi Rp 26.152 per kilogram), minyak goreng (5,42 persen menjadi Rp 11.802 per kilogram), gula pasir (4,41 persen menjadi Rp 13.373 per kilogram) hingga daging sapi (0,34 persen menjadi Rp 114.893 per kilogram). Sedangkan daging ayam dan telur ayam ras mengalami kenaikan sekitar 5 persen.

Sedangkan untuk beras, mengalami penurunan harga hingga 14,53 persen dari tahun 2017. Hingga Minggu ke IV November, beras medium mencapai harga Rp 11.501 per kilogramnya

Agung menuturkan pantauan harga eceran tersebut diperoleh dari 10 kota , yakni: Medan, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Samarinda, dan Makassar.

Untuk harga eceran beras diperoleh dari 82 kota. Harga eceran beras di 82 kota menggunakan harga riil dari satu kualitas terpilih yang memiliki bobot terbesar.

Lebih lanjut Agung menuturkan jika akan melakukan operasi pasar hanya untuk komoditas-komoditas yang harganya cenderung naik. "Kalau beras kan sekarang sudah dilaksanakan (OP) oleh Bulog, targetnya 15 ribu ton sehari tetapi hanya 4 ribu ton per hari karena memang pasokan dari petani (ke pasar) masih tinggi," ungkapnya.

Agung menuturkan harga telur dan ayam yang sedang naik hingga awal Desember 2018 ini pun tidak terjadi di semua provinsi. "Kita lihat hanya di Jakarta seperti Pasar Kosambi dan Pasar Gondangdia. Tapi secara nasional tidak ada kecenderungan meningkat (harganya)," tegasnya.

BKP sendiri akan terus mewaspadai pergerakan harga karena pastinya akan ada permintaan yang meningkat karena konsumsi yang akan meningkat di Natal dan Tahun Baru 2019.

Koordinasi Daerah

Agung menjelaskan jika pihaknya melakukan beragam rencana aksi untuk stabilisasi stok dan harga ini. "Kita melakukan rapat koordinasi (Rakor) seluruh instansi dan pemangku kepentingan terkait pengamanan pasokan dan stabilisasi harga pangan di tingkat pusat dan daerah," bebernya.

Khususnya untuk tahun ini, BKP memfokuskan pengamanan pasokan stabilisasi harga di daerah. "Terutama di daerah yang memang merayakan Natal seperti Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku.

Bekerjasama dengan Satgas Pangan di daerah, Dinas Perdagangan daerah, Bulog Divisi Regional, hingga pemasok pangan di daerah. "Diperkirakan mulai di Minggu Ke II Desember ini hingga Minggu ke III Desember," tuturnya.

Dengan kondisi lapangan tersebut, pemerintah optimis sampai akhir tahun 2018, terutama saat periode Natal dan Tahun Baru 2019 kondisi ketersediaan dan harga pangan pokok-strategis akan tetap aman dan stabil.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018