Selasa, 22 Januari 2019


NTP Tinggi, Mencirikan Petani Kian Sejahtera

11 Jan 2019, 16:36 WIBEditor : Gesha

Dirjen Tanaman Pangan, Gatot Irianto menyebut NTP Tinggi Mencirikan Kesejahteraan Petani kian membaik | Sumber Foto:Tiara

Daya beli petani dapat menunjukkan kesejahteraan petani, dimana kesejahteraan petani dapat dilihat dari indeks NTP dan NTUP.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kesejahteraan petani menjadi salah satu fokus dalam program kedaulatan pangan, di samping peningkatan produksi pertanian. 

Kesejahteraan petani erat kaitannya dengan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP). Hal ini karena NTP dan NTUP yang baik menunjukkan kemampuan daya beli petani yang tinggi dan kesejahteraan petani.

Daya beli petani dapat menunjukkan kesejahteraan petani, dimana kesejahteraan petani dapat dilihat dari indeks NTP dan NTUP. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), NTP dan NTUP mengalami kenaikan pada tahun 2018 dibandingkan dengan 2017.

Pada 2017 indeks NTP dan NTUP berada di angka 101,28 dan 110,24 , sedangkan pada 2018 mencapai 102,25 dan 111,77.

Hal senada dikatakan oleh Dirjen Tanaman Pangan, Sumarjo Gatot Irianto pada acara Bincang Asik Pertanian Indonesia (BAKPIA) bertema Program dan Kebijakan Tanaman Pangan untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani, Jakarta, Jumat (11/1).

“Kenaikan NTP dan NTUP yang tinggi merupakan hasil yang luar biasa. Artinya apa yang dihasilkan petani dengan yang dibelanjakan jauh lebih tinggi dibandingkan yang dihasilkan,” katanya.

Banyak faktor yang mempengaruhi indeks NTP dan NTUP diantaranya besarnya biaya usaha tani yang dikeluarkan.

Untuk itu pemerintah pun berupaya agar biaya usahatani dapat rendah, namun hasil produksi pertanian dapat meningkat.

Termasuk, pembinaan dan bantuan diberikan pemerintah kepada petani untuk menekan biaya produksi pertanian.

Gatot mencontohkan bahwa penanaman dengan sistem tabur sangat efektif dalam menekan biaya usaha tani khususnya untuk tenaga kerja.

Sistem tanam tabur hanya memakan biaya Rp 100 ribu/ha, dibandingkan dengan transplanter yang mencapai nilai Rp 1,2 juta/ha.

Tentunya, waktu yang digunakan petani untuk masa penanaman juga lebih cepat.

Sistem tabur juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dimana tentunya dapat menaikkan populasi tanaman semakin rapat dan jumlahnya meningkat.

“Pada sistem tanam tabur, benih padi yang diperoleh biasanya 25 kg sekarang dapat mencapai 70-80 kg. Meskipun ada penurunan anakan dari 15 hingga sekitar hanya 7, namun tidak menjadi masalah karena populasinya banyak,” tuturnya.

Bantuan dari pemerintah lainnya seperti benih padi, jagung dan kedelai.

Serta bantuan Alsintan pascapanen yang dapat mendukung produktivitas pertanian seperti power thereser, dryer dancorn combine harvester.

Pengendalian Harga

Harga-harga komoditas pertanian juga menjadi perhatian pemerintah. Upaya pemerintah untuk pengendalian harga juga akan mempengaruhi daya beli petani dan minat petani dalam mendukung program pemerintah seperti UPSUS Pajale.

"Kalau harga padi jagung tinggi, tanpa disuruh petani juga banyak yang tanam,” kata Gatot

Jika petani sejahtera tentunya pertanian Indonesia akan semakin maju, target swasembada pangan dapat tercapai, kebutuhan pangan tercukupi dan berujung pada kesejahteraan Indonesia pula.

“Pangan tidak hanya sekadar kedaulatan tetapi juga harga diri bangsa,” tegas Gatot.

Reporter : Putri/Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018