Minggu, 21 Juli 2019


Pisang Kepok, Bikin Jepang Tergiur Investasi

04 Mar 2019, 15:38 WIBEditor : Yulianto

Pisang kepok | Sumber Foto:Bramardianto

Ijin ekspor tepung pisang asal Indonesia ke Jepang sudah ada, sehingga rencana investasi ini akan memperluas akses pasar produk tepung pisang asal Indonesia ke Jepang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Siapa yang menduga, ternyata pisang kepok membuat Pemerintah Jepang tergiur ingin investasi di Indonesia. Hal itu terungkap saat kunjungan manajemen Joint Company Research Institute  Jepang yang diwakili Kato Yosuke.

Atase Pertanian Indonesia, Sri Nuryanti mengungkapkan, kedatangan Kato bermaksud memperoleh informasi investasi di Indonesia, khususnya pada bidang hortukultura. Kato memerlukan lahan untuk membudidayakan tanaman pisang kepok dan juga mendirikan pabrik pengolahan tepung pisang dengan kapasitas produksi 10 ton/bulan.

Untuk memenuhi kapasitas produksi tepung tersebut setidaknya diperlukan pisang segar sebanyak 50-60 ton/bulan. Nantinya, tepung pisang ini akan di ekspor ke Jepang. Ijin ekspor tepung pisang asal Indonesia ke Jepang sudah ada, sehingga rencana investasi ini akan memperluas akses pasar produk tepung pisang asal Indonesia ke Jepang.

Selain akan berinvestasi untuk agribisnis pisang kepok, Kato juga mencari sumber produksi tepung tapioka dari Indonesia. Menurut Kato, tepung tapioka ini sebagai bahan baku minuman bernilai tinggi di Jepang..

Baca juga:

Budidaya Pisang Indonesia Menggiurkan, Nilai Ekspor 2018 Naik 70,4 Persen

Labu Shaolin, Laku karena Kulitnya

Kato menyebut alasan Joint Company Research Institute berinvestasi adalah karena perusahaan agribisnis ini sangat berpengalaman dalam memasarkan dan mendistribusikan tepung pisang organik yang 100 persen yang bebas gluten dengan brand Bana Slim.

Namun pada kesempatan itu, Kato sempat menanyakan perihal perijinan dan mekanisme kepemilikan lahan bagi investor asing di Indonesia. Menanggapi pertanyaan Kato, Sri Nuryanti menjelaskan, pemerintah telah membuat kebijakan bahwa untuk investasi asing di subsektor hortikultura maksimal 30 persen dari total nilai investasi . Untuk itu, Kato harus mempunyai partner usaha di Indonesia.

Nuryanti mengatakan, ada beberapa data dan informasi yang diperlukan terkait rencana investasi tersebut. Diantaranya, kriteria lahan mengingat ekspor produk tepung pisang ke Jepang harus punya akses yang baik ke pelabuhan ekspor baik udara maupun perairan. “Kami meminta data dukung yang lengkap dari pihak Kato untuk disampaikan kepada Kementerian Pertanian guna menjembatani rencana investasi tersebut,” katanya.

"Dengan berinvestasi di Indonesia, kita berharap ke depan dapat memenuhi permintaan impor tepung pisang dengan produk yang memenuhi standar kualitas dan peraturan pelabelan di Jepang," tutup Nuryanti.

 

Reporter : Budi
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018