Kamis, 12 Desember 2019


Pujian Delegasi Konferensi Pertanian Keluarga FAO untuk Pertanian Indonesia

05 Apr 2019, 06:21 WIBEditor : Ahmad Soim

Regional Conference on Strengthening Southeast Asia’s Food Security, Nutrition, and Farmers’ Welfare through the UN Decade of Family Farming di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada Kamis (4/4). | Sumber Foto:KaBe

“Kami pun melakukan realokasi bantuan untuk kelompok menengah bawah, reformasi agraria, serta manajemen pasar untuk memastikan stabilitas stok dan harga pangan,” sebut Amran.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -  Berbagai capaian sektor pertanian dalam lima tahun terakhir mendapat apresiasi dari beberapa delegasi Internasional yang hadir dalam acara "Regional Conference on Strengthening Southeast Asia’s Food Security, Nutrition, and Farmers’ Welfare through the UN Decade of Family Farming” di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada Kamis (4/4).



Asisten Direktur Jenderal FAO Kundhavi Kadiresan mengapresiasi Kementerian Pertanian (Kementan) atas kesiapan dalam mengatasi kerawanan pangan dan kekurangan gizi di Asia Tenggara. Bahkan apresiasi pun diberikan terhadap berbagai program dan capaian pembangunan pertanian Kementan selama pemerintahan Jokowi-JK dalam mewujudkan ketahanan.

Lebih lanjut ia memaparkan, di Asia Tenggara, sebagian besar lahan pertanian dimiliki petani kecil yang memiliki lahan kurang dari lima hektar. Di Indonesia, bahkan lebih kecil lagi, sebagian besar petani mengolah lahan kurang dari satu hektar.

"Kita membutuhkan inovasi. Inovasi dalam kebijakan dan lingkungan yang mendukung. lnovasi dalam teknologi. Dan Inovasi dalam institusi. Yang paling penting, keluarga petani harus menjadi hati dari inovasi ini," jelasnya.

Sementara itu,  Deputy Country Director of Word Food Programme, Mr. Peter Holtsberg pun demikian. Ia sangat terkesan dengan capaian pembangunan sektor pertanian dalam beberapa tahun terakhir. Yakni khususnya terkait inisiatif pembangunan yang fokus ke infrastruktur, peningkatan kapasitas, pelatihan, serta upaya mendekatkan akses petani kecil ke pasar lokal dan internasional.



"Pencapaian yang luar biasa terkait peningkatan pendapatan petani dan jaminan asuransi, serta perbaikan kesejahteraan petani," katanya.

"Keberhasilan tersebut juga berkontribusi terhadap pencapaian SDG 1 terkait pengentasan kemiskinan dan SDG 10 terkait penurunan kesenjangan pembangunan antara wilayah perdesaan dengan perkotaan," lanjut Mr Holtsberg.

Selanjutnya, IFAD Country Program Manager for Pacific, Mr. Taufiq El-Zabri sangat senang mendapatkan kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam Konferensi ini untuk membahas berbagai upaya peningkatan kesejahteraan keluarga petani kecil.

Ia mengakui upaya-upaya yang telah dilakukan Indonesia cukup menginspirasi dan mendorong negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama dalam mendorong pembangunan sektor pertanian masing-masing. Khususnya terkait model klaster dan pengembangan kelompok untuk komoditas tertentu sehingga dapat meningkatkan kepastian pasokan produksi dengan keunggulan komparasi wilayah.

"Hal ini juga sangat penting dalam memberikan kepastian pasar bagi produk hasil petani," sebut El Zabri.

Selain itu, El Zabri pun sangat terkesan dengan model-model peningkatan kapasitas, pelatihan, pembangunan infrastruktur, serta upaya peningkatan nilai tambah. Menurutnya, dukungan yang dilakukan pemerintah selama ini dipandang sangat berhasil yang ditunjukkan dengan peningkatan pendapatan petani, perbaikan status gizi, serta pendidikan dan penghidupan yang lebih baik.

Secara keseluruhan, sambungnya, upaya yang dilakukan memberikan hasil yang sangat positif. Mengarahkan petani untuk meningkatkan produksi adalah hal yang sangat penting

"Peran Kementerian Pertanian dalam mendukung petani, sudah sangat baik sehingga pendapatan petani meningkat dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang lebih baik," akuinya.

Lebih jauh El Zabri menumyebutkan sistem kerja kementerian pertanian yang terkooordinasi dan terintegrasi dengan baik dengan kementerian-kementerian terkait serta dengan sektor swasta dan juga organisasi internasional. Hal ini tentu pendekatan lintas sektor yang bersifat holistik yang sangat bagus.

"Kami pun bangga, Indonesia menyadari sepenuhnya petani kecil merupakan tulang punggung (backbone -red) bagi ekonomi nasional, serta kebijakan peningkatan nilai tambah dan peningkatan akses terhadap sumber finansial," tuturnya.

"Secara umum sangat terkesan dengan capaian pembangunan pertanian selama ini," tandas El Zabri.

Dalam pembukaan konferensi ini, Mentan Amran menyampaikan kesiapan pemerintah Indonesia dalam mendukung upaya FAO guna mewujudkan ketahanan pangan dan gizi, serta kesejahteraan masyarakat Asia Tenggara. Upaya mewujudkan ketahanan pangan merupakan pemersatu semua bangsa, tanpa mengenal batasan.

“Tujuan yang sama dalam mewujudkan ketahanan pangan telah mengikat kita semua untuk bersama menggapai masa depan yang lebih baik. Mari kita manfaatkan hal tersebut semaksimal mungkin,” papar Amran.

Amran memaparkan sejak tahun 2014, Kementan telah melakukan sejumlah terobosan, antara lain memfokuskan kebijakan pada upaya pemberdayaan petani. Terobosan tersebut meliputi mengubah sejumlah peraturan yang dikeluarkan Kementerian Pertanian (Kementan), pergeseran sistem pertanian tradisional ke pertanian modern, perubahan sistem pengadaan kovensional menjadi elektronik yang menjamin pengadaan input produksi lebih tepat waktu, peningkatan sinergitas dan kolaborasi lintas sektor dan modernisasi dan adopsi teknologi.

“Kami pun melakukan realokasi bantuan untuk kelompok menengah bawah, reformasi agraria, serta manajemen pasar untuk memastikan stabilitas stok dan harga pangan,” sebut Amran.

Terobosan penting yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui Kementan adalah refokusing anggaran. Alokasi anggaran untuk sarana dan prasana pertanian ditambah secara signifikan. Amran mengungkapkan pada tahun 2014, alokasi anggaran sarana dan prasarana pertanian hanya 35 persen. Tapi porsinya meningkat tajam pada tahun 2018 menjadi 85 persen.

“Kami percaya bukan nilai anggarannya yang berpengaruh terhadap pembangunan sektor pertanian. Hal yang paling penting justru terletak pada bagaimana kita mengelola anggaran tersebut,” ungkap Amran.

Penambahan pos anggaran sarana dan prasarana pertanian telah berdampak pada meningkatnya bantuan yang diberikan pemerintah kepada petani. Tercatat, bantuan alat dan mesin pertanian meningkat 1.281% persen per tahun. Selain itu, pemerintah juga telah memfasilitasi perbaikan jaringan irigasi serta meningkatkan bantuan pupuk dan benih.

“Program yang telah dijalankan pemerintah turut berkontribusi terhadap indeks pertanaman. Petani yang biasanya hanya sekali tanam, sekarang sudah menanam dua kali dalam setahun. Kami saat ini sedang mengejar pola tanam tiga kali setahun,” jelas Amran.

Reporter : KaBe
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018