Saturday, 22 February 2020


Pengamat: Kebijakan Pertanian Berkontribusi Terhadap Ekonomi Makro

15 Aug 2019, 17:15 WIBEditor : Gesha

Kebijakan sektor pertanian terbukti berkontribusi terhadap ekonomi makro | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Beberapa waktu lalu, Kepala Kementerian PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Kementan sudah melampaui target yang telah ditetapkan. Pendapat Bappenas tersebut juga dibenarkan oleh Pengamat Ekonomi Politik Pertanian Universitas Trilogi sekaligus pembinan Indonesia Food Watch (IFW), Muhamad Karim.

"Dilihat dari kacamata ekonomi politik, kebijakan pembangunan pertanian mampu berkontribusi dalam mendorong kinerja positif ekonomi makro," tuturnya. Hal tersebut juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik, dimana sektor pertanian berhasil menekan inflasi menjadi 1,26 persen.

Kemudian, terlihat dari Nilai Tukar Petani dan Nilai Usaha Tingkat Petani yang mengukur daya beli petani naik menjadi 0,42 persen dan 5,45 persen di tahun yang sama. "Hingga saat ini NTP dan NTUP ini masih digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani.Artianya dengan data ini, kebijakan pertanian di era Menteri Amran Sulaiman berhasil menyentuh mengurai akar masalahnya," tuturnya.

Ketiga, kebijakan pangan dalam mengungkit ekspor pun berbuah manis. Akumulasi nilai ekspor sejak 2015 hingga 2018 mencapai Rp1.764 triliun atau terjadi peningkatan sebesar 29,7%.

Keempat, BPS pun mencatat, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan investasi di sektor pertanian melejit. Jika pada 2013 PDB pertanian masih di angka Rp994,8 triliun, 2014 menjadi Rp1.089,6 triliun, 2015 sebesar Rp1.184 triliun, 2016 ssbesar Rp1.267 triliun, 2017 sebesar Rp1.344,7 triliun dan pada 2018 naik menjadi Rp1.463,9 triliun.

"Di sisi sisi nilai investasi pertanian juga mengalami peningkatan. Jika diakumulasikan nilai investasi pertanian sejak 2013-2018 mencapai Rp 241 triliun atau meningkat sekitar 110,2 persen. Ini bukan angka yang sedikit dalam mendongkak nilai investasi," beber Karim.

Kinerja kebijakan pertanian pun berhasil menurunkan tingkat kemiskinan pedesaan menjadi 13,2 persen di 2018. Hal ini sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan, salah satunya mengurangi kemiskinan dan kelaparan.

Dari rentetan keberhasilan tersebut, terlihat bahwa kebijakan dan terobosan pembangunan pertanian selama yang dinamis dan luar biasa tersebut tentunya tidak sia-sia dalam kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Indikator keberhasilannya secara ekonomi makro sangat jelas dan terukur.

"Karena itu, saya berharap agar pembangunan pertanian ke depan dapat berkelanjutan dalam periode berikutnya, untuk kemajuan yang lebih baik lagi, minimal dinakhodai oleh pemimpin seperti saat ini. Tidak hanya sekedar teori, tapi hasil nyatanya jelas memberikan kemaslahatan seluruh umat," pungkasnya.

 

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018