Friday, 10 July 2020


Pola Produksi dan Pemasaran Produk Ternak Bergeser

23 Jun 2020, 16:36 WIBEditor : Gesha

Milenial membeli produk komoditi peternakan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Adanya Pandemi COVID 19 di tahun ini memaksa perubahan yang memang seharusnya terjadi di pola produksi dan pemasaran produk ternak. Seperti apa?

"COVID 19 sebenarnya memberikan hikmah, selama ini banyak sekat yang membuat peternakan tidak bisa berkembang. Inilah saatnya untuk subsektor peternakan bisa berubah untuk bangun," tukas Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas/GPPU Achmad Darwami, saat Webinar Halal Bihalal Asosiasi Peternakan dan Kesehatan Hewan "Persiapan Masyarakat Peternakan dan Kesehatan Hewan Menghadapi Era New Normal", Selasa (23/6).

Achmad mencontohkan bagaimana industri peternakan yang sedang goyang karena sekitar 60 persen produksi bergantung pada pasar Hotel Restoran dan Katering (HOREKA).

"Pola produksi dan pemasaran, permintaan  (demand) juga bergeser ditandai dengan banyaknya toko daging/ayam  di komplek perumahan juga semakin besar. Perusahaan yang punya lini proses juga sampai heboh untuk bisa mengisi pasar tersebut karena permintaan yang tinggi," tuturnya.

Kebiasaan masyarakat sekarang pun sudah mulai bergeser untuk menyetok dalam bentuk makanan beku (frozen food). "Didominasi Milenial yang memang cermat dalam mempertimbangkan harga di toko online sekalipun," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B Utomo yang menilai bahwa manajemen rantai pasok (supply chain management) berubah. "Sekarang bisa langsung ke outlet sehingga hulu hilir berjalan semakin dekat dan akhirnya produsen berpikir pemasaran secara online (marketing online)," tambahnya.

Frozen Market

Kenyataan meningkatnya permintaan di segmen frozen food diakui juga oleh Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN), Tommy Kuncoro. Dirinya melihat market share yang meningkat di segmen pasar swalayan dan retail. "Ibu- ibu lebih nyaman di Frozen mart terdekat, tidak perlu jalan jauh dan berdesakan,ini yang masih bisa jalan," tuturnya.

Tommy meramalkan penjualan online dari Frozen food produk peternakan, khususnya karkas ayam beku semakin ramai di era new normal ini. Namun dirinya berpesan agar aturan karkas ayam beku ini semakin jelas.

"Apakah sumber karkas ayam beku tersebut sudah penuhi pola Aman, Sehat , Utuh dan Halal (ASUH)?, Bagaimana juga rantai dingin, pengirimannya, tanggal produksi, tanggal kadaluwarsa dan lainnya. Khususnya di gerai-gerai Frozen market," jelasnya.

Penataan pasar tradisional juga harus dilakukan berbarengan dengan pertumbuhan Frozen mart. Sehingga nantinya karkas ayam beku juga bisa masuk ke pasar tradisional. 

Banyak yang bertanya, mana yang lebih bagus dan sehat, daging ayam fresh atau frozen?Kandungan gizi yang ada di dalam daging ayam frozen ini tak berubah. Karena gizi, pada khususnya vitamin akan turun ketika suhu dipanaskan, buykan didinginkan, dan sebab kemungkinan kehilangan nutrisi sangat kecil.

Memang, daging ayam frozen ini tak bebas dari bakteri maupun kuman, karena dia tidak langsung diolah. Tetapi, selama penanganannya baik, maka bakteri dan kuman tidak akan bertambah. Penanganannya tersebut berupa daging yang dikemas dengan baik pada suhu konstan serta tidak terpapar suhu diatas 10 C (derajat celcius) itu sudah cukup menjaganya. 

Dan untuk masa simpan daging ayam normal pada suhu kamar atau tempat terbuka tanpa penambahan bahan – bahan aneh paling lama 6 – 7 jam sudah berbau. 

Untuk daging ayam frozen bisa bertahan hingga tahunan. Pada suhu dibawah 18 C (derajat celcius), daging ayam utuh bisa bertahan hingga 1 tahun, sementara itu daging ayam yang sudah dipotong – potong bisa bertahan 9 bulan.

Tapi, tidak mungkin juga supplier ayam dan penjual menyimpan hingga 1 tahun lamanya, karena daging ayam ini merupakan bahan pangan dengan konsumsi tingkat tinggi.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018