Saturday, 15 August 2020


Potensi Pasar Jamur kian Menjamur

28 Jul 2020, 15:30 WIBEditor : Yulianto

Usaha budidaya jamur menggiurkan | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jamur menjadi komoditas yang perlu dilirik karena pasarnya kian menjamur. Bahkan permintaan di luar negeri pun cukup menggiurkan.

Pengusaha Jamur Tiram CV AAC, Triono Untung Piryadi mengatakan, budidaya jamur mudah untuk dikembang, terlebih cukupnya lahan di Indonesia, bahkan pasarnya juga cukup besar. “Usaha jamur itu mudah dan disesuaikan saja dengan iklim. Dilihat dari jumlah penduduk, pangsa pasar Indonesia luar biasa. Daya terima masyarakat dari tahun ke tahun meningkat,” paparnya.

Ketua Kelompok Jembar Jamur, Wahyudin pun mengakui, membudidayakan jamur itu mudah. Bahkan bisnis jamur memberikan lapangan pekerjaan, sehingga bisa mengurangi pengangguran di desa. Hanya saja terkadang  petani terkendala permodalan.

Karena itu Wahyudin meminta dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksi jamur dengan pendampingan dan bantuan teknologi pasca panen. Dirinya meyakini, dengan simbosis mutualisme antara petani, pemerintah dan pelaku usaha, bisnis jamur bisa melonjak tinggi.

Jamur merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mengandung protein baik. USDA merilis dalam setiap 100 gram jamur terdapat 3,1 gram protein. Rasanya juga lezat  dan baik untuk kesehatan tubuh. Jamur juga diyakini dapat meredakan kanker, pencegah HIV dan sederet manfaat penangkal penyakit lainnya.

Potensi produksi jamur dinilai sangat besar dan dapat menciptakan peluang bisnis. Budidayanya juga mudah dilakukan bahkan dengan metode tanam ramah lingkungan jelas sangat bagus bagi kesehatan tubuh.

Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari, mengatakan pihaknya mendorong petani jamur untuk meningkatkan produksinya. Namun diakui, saat ini konsumsi jamur di Indonesia saat ini masih sangat rendah yakni 0,18 kg per kapita per tahun. Produksi jamur pada 2019 juga tercatat sebanyak 33.163 ton.

Potensi pasar luar negeri yang konsumsi jamurnya tinggi antara lain Perancis, Jerman, Rusia, USA, Timur Tengah, Korea, China Jepang. Budidaya jamur sangat mudah dan tidak perlu area yang luas. Sehingga kita bisa terus meningkatkan produksi,” ujar Retno.

Ditjen Hortikultura juga mendorong komoditas hortikultura, termasuk jamur agar semakin berdaya saing dan ramah lingkungan, sehingga mampu menyejahterakan petani secara berkelanjutan.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Tommy Nugraha mengakui produksi jamur di Indonesia masih rendah dibanding dengan negara lain. Hal ini menuntut masyarakat di bidang perjamuran untuk lebih giat lagi mempromosikan, mensosialisasikan konsumsi jamur dan bermanfaat bagi hidup.

“Tahun 2007 lalu Indonesia pernah masuk lima besar negara pengekspor. Bahkan selama pandemi ini produsen jamur di Brebes mampu mengekspor 20 kontainer untuk sebulan dengan nilai transaksi sebesar 750 ribu dollar AS,” papar Tommy.

Peneliti Jamur (LIPI), Iwan Saskiawan mengatakan, jamur memiliki keunggulan dalam budidaya dan berpotensi tinggi dalam peningkatan produksi nasional. Keunggulan budidaya jamur ini, bisa menggunakan limbah, tetapi tidak menghasilkan limbah.

Limbah yang kita gunakan misalnya dari jerami padi, serbuk gergaji kemudian limbah tekstil kapas dan lainnya. Perputaran uang dalam bisnis jamur cukup cepat. Dalam sebulan jamur merang sudah panen dan dijual,” jelas Iwan.

Karena itu Iwan melihat, di tengah merosotnya perekonomian dan banyak terjadi PHK, budidaya jamur layak dijadikan peluang bisnis. Hal yang perlu dikuasai hanyalah tentang tehnik dasar budidaya jamur, termasuk pembibitan.

 

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018