Sunday, 17 January 2021


Kedelai Masih Susah, Seporsi Tempe Orek Naik Harga

07 Jan 2021, 11:22 WIBEditor : Gesha

Tempe orek, menjadi makanan khas di warung makan | Sumber Foto:OMI

TABLOIDSINARTANI.COM,Bogor --- Meskipun Kementerian Pertanian telah melakukan MoU dengan Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) mengenai pembelian kedelai langsung kepada petani. Nyatanya, harga tetap naik 20 persen dan di tingkat konsumen, seporsi tempe orek saja sudah mengalami kenaikan.

Ketua Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin mengatakan penyesuaian harga dilakukan usai para produsen tahu dan tempe memutuskan untuk berhenti produksi pada 1 sampai 3 Januari 2021. "Kita baru mulai produksi kemarin tanggal 4 Januari 2021 dan harga terpaksa kita naikkan 20%," jelasnya.

Kenaikan ini mencakup tahu dan tempe berbagai ukuran. Sebagai contoh, tempe berukuran 250 gram yang mulanya dihargai Rp4.000 kini naik menjadi Rp5.000 per buah. Dirinya juga memastikan, pasokan tahu dan tempe di pasaran ke depannya bakal normal meski harga bahan baku masih tinggi. 

Diakuinya, Gakoptindo baru menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Pertanian untuk penyerapan kedelai lokal menyusul naiknya harga kedelai impor. Pasokan kedelai lokal memang baru memenuhi 30 persen kebutuhan industri tahu dan tempe yang mencapai 3 juta ton per tahunnya.

Naiknya biaya tahu dan tempe di tingkat pengolah lantaran harga bahan baku kedelai yang masih tinggi juga memukul di tingkat konsumen. Alhasil, harga seporsi tempe orek maupun sepotong tahu goreng mengalami kenaikan juga. 

Seperti yang terjadi di beberapa Warung Tegal (Warteg) maupun warung makan tradisional lainnya di sekitar Jabodetabek. "Terpaksa kita naikkan sedikit teh, harga tahu dan tempe di pasar lagi naik. Ini seporsi (bukan nasi rames) tempe orek udah Rp 10 ribu. Kalau yang pesen nasi rames make tempe orek, terpaksa kita kasih sedikit saja," ungkap pemilik warung makan Bu Tri di sebuah perumahan Ciomas Bogor, Tri W.

Tri menambahkan dirinya hari ini, Kamis (07/01) baru saja berjualan di tahun 2021 ini karena beberapa bahan baku wartegnya harganya mengalami kenaikan. "Iya kemarin susah dapat tahu tempenya. Ini saja harus pre-order ke tukang tahu tempe di pasar, dan ordernya banyak sekalian," katanya.

Kenaikan harga tempe orek juga terjadi di rumah makan tradisional di pusat perbelanjaan Kota Bogor yang terpaksa menaikkan harga tempe orek mereka. "Kita disini pakai sistem porsi-an, seporsi tempe orek disini harganya Rp 12 ribu," ungkap salah satu pelayan di rumah makan tersebut yang enggan disebutkan namanya.

Begitu juga penjual Nasi Gurih dan Nasi Uduk di salah satu perumahan Bogor yang mengaku terpaksa mengurangi porsi tempe orek di menu lengkap nasi uduknya. "Kalau naikkan harga,enggak mungkin bisa. Terpaksa kita kurangi saja. Banyak yang tanya sih kenapa sedikit bener, tetapi akhirnya mereka paham. Bahkan sempat menyarankan bikin tempe sendiri saja," ujar Mira tertawa.

Dirinya menambahkan, Senin (4/1) kemarin dirinya terpaksa mengganti tempe orek dengan bihun dan irisan telur dadar dalam menu nasi uduknya. "Ya itu dari hari Sabtu (2/1), di pasar cari tempe sama tahu enggak dapat. Kalau diilangin kosong aja gitu. Jadi diganti bihun goreng," tuturnya.

Sebagai konsumen sekaligus penjual masakan, Mira berharap agar harga tempe tahu sudah bisa normal kembali. Sebab hingga sekarang, tahu tempe masih menjadi kuliner favorit bagi siapa saja. Bahkan menjadi pangan paling murah yang bisa diakses masyarakat. Terutama di masa pandemi yang masih ada di Indonesia. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018