Wednesday, 01 December 2021


Paskomnas : Rencanakan Produksi Mulai dari Pasar

26 Nov 2021, 10:14 WIBEditor : Gesha

Perencanaan hortikultura dimulai dari pasar | Sumber Foto:Paskomnas

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri bagi pertanian, terkait pemanfaatan pangan, ketersediaan pangan, dan akses pangan. Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) menilai, perencanaan pertanian dimulai dari pasar.

“Penduduk Indonesia di tahun 2020 yang mencapai 267 juta jiwa, bermukim di kota dan di desa. Masyarakat kota, bisa 100 persen membeli sumber pangan dari pasar, sedangkan masyarakat desa sekitar 85 persen bersumber dari pasar local dan kebun sendiri. Jadi, pembangunan pertanian pangan harus dimulai dari pasar,” kata Direktur Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia, Soekam Parwadi dalam Webinar Sinar Tani bertema “Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim untuk Tanaman Sayuran “ pada Rabu (24/11).

Melansir dari website resminya, Paskomnas Indonesia adalah grup perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan jaringan Pasar Induk. Sejak awal tahun 2000, Paskomnas membangun dan mengelola jalur distribusi nasional yang terintegrasi dalam rangka menghadirkan akses distribusi produk pangan yang lebih baik bagi para konsumen. Paskomnas juga memasarkan produk secara daring/online untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Fasilitas dalam Paskomnas yaitu ruang sortir, cold storage, hingga pengiriman dengan mobil berpendingin untuk menjaga kualitas dan kesegaran produk pertanian.

Soekam juga menyoroti tentang ketersediaan pangan yang harus memperhatikan kualitas, kontinyuitas, kuantitas, dan harga, karena berpengaruh pada gizi dan Kesehatan masyarakat serta usaha tani rakyat.

“Sayur yang paling banyak diserap pasar adalah yang berfungsi sebagai bumbu, seperti bawang merah, cabai, dan bawang putih. Berdasarkan jumlah kebutuhan normal di pasar induk Paskomnas Tanah Tinggi, Tangerang, ada 61 jenis sayur utama, dengan jumlah pasokan per hari beberapa jenis sayuran di atas 100 Ton masing-masing beberapa jenis cabai (165 Ton), bawang merah (120 Ton), dan kubis (110 Ton). Sedangkan sayuran organic konsumsinya masih rendah, diperkirakan 2 persen saja dari penduduk, masalahnya adalah daya beli dan kesadaran tentang konsumsi produk organic masih rendah, harganya juga relative lebih tinggi,” tutur Soekam yang juga sebagai anggota komite teknis SNI Hortikultura – BSN Indonesia.

Untuk menjaga pangan terjangkau masyarakat, Soekam mengatakan bahwa yang paling penting adalah stabilisasi pasokan ke pasar sesuai kebutuhan.

“Pembentuk harga adalah pasar induk, karena itu bangun pasar induk berjaringan nasional, atur pasokan, serta Kerjasama formal antara produsen dan pengelola pasar. Permintaan konsumen dapat dipantau dari pasar induk, dan masing-masing pasar induk punya data kebutuhan yang berbeda tergantung jumlah penduduk. Harga yang baik adalah harga yang tidak merugikan petani produsen dan tidak memberatkan konsumen,” katanya.

Soekam juga memberikan solusi pembangunan pangan dengan pola Closeloop dikembangkan oleh Kemenko Perekonomian, Kadin Indonesia, IPB, Kementerian Pertanian, dan Paskomnas Indonesia. Sehingga petani terjamin pasarnya, konsumen terjamin mendapat barang yang baik dengan harga wajar.

Dalam Closeloop pemerintah berperan sebagai fasilitator dan regulator, sedangkan unsur yang terlibat di dalamnya adalah beberapa desa yang bergabung dalam korporasi, pasar induk berjaringan nasional (Paskomnas) sebagai sumber informasi pasar untuk petani produsen dan melayani kebutuhan pasar eceran dan grosir, serta Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia ( Asparindo) berperan mengkoordinasikan pasar-pasar eceran.

“Perubahan iklim global adalah sunatullah (ketetapan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk makhluk-Nya), manusia harus menyesuaikan. Perencanaan pengembangan komoditi harus berteknologi, direncana dari pasar. Dalam hal ini peran litbang dan perguruan tinggi sangat penting untuk meneliti masalah yang dihadapi oleh pengusaha. Pengembangan program pangan nasional harus berbasis pada potensi daerah dan memberikan  peran kepada daerah untuk menjadi pemangku utama dalam menghadapi perubahan iklim,” ungkapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018