Saturday, 29 January 2022


Ini Ternyata Biang Kerok Naiknya Harga Pangan

10 Jan 2022, 12:12 WIBEditor : Gesha

Pengunjung belaja di pasar | Sumber Foto:RB

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Mengawali tahun 2022, harga pangan di tingkat konsumen ternyata masih bertengger di harga yang cukup tinggi. Sebut saja minyak goreng, cabai, telur dan lain-lainnya yang membuat ibu-ibu malas untuk ke pasar karena uang yang dibawanya tidak mencukupi. Sebenarnya apa sih biang kerok dari harga tersebut bisa melonjak?

Seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Bogor, Heni mengaku harus memutar otak untuk memasak sehari-hari lantaran harga sembako di warung dan pasar langganannya masih enggan turun harga. Dimulai dari harga minyak goreng kemasan ukuran 2 kg yang tembus Rp 43 ribu, gula yang harganya mulai merangkak naik, diikuti telur dan cabai yang biasa dikonsumsi keluarganya untuk bumbu masakan. 

"Benar-benar harus menghemat jadinya. Minyak goreng kita pakai berulang kali akhirnya, kalau udah sampai hitam baru kita buang. Sempat dapat bansos untuk telur, tapinya banyak yang busuk. Akhirnya beli baru tapi harganya lumayan mahal. Cabai juga lagi pedes sekarang," curhatnya kepada tabloidsinartani.com.

Menelusuri hal ini, tabloidsinartani.com kemudian mewawancarai Pakar Supply Chain dari Institut Pertanian Bogor (IPB University), Dr. Sahara, SP, M.Si. Dirinya menilai  kenaikan harga di akhir tahun 2021, khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang berjalan hingga minggu pertama Januari 2022 ini lebih disebabkan karena kenaikan permintaan (demand).

“Kenaikan permintaan ini karena pemulihan ekonomi yang ditunjukkan peningkatan mobilitas masyarakat. Perlahan namun pasti, pergerakan masyarakat terjadi (setelah dua tahun pandemic COVID 19). Dari tingkat hunian hotel, makan di restoran, mobilitas masyarakat dengan berbagai moda transportasi,” bebernya.

Sahara menjelaskan, mobilitas ini akhirnya memacu permintaan pangan. Apalagi jika Omicron (varian COVID 19) terkendali, maka tarikan permintaan bisa lebih naik. Namun Sahara mengingatkan, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak hanya dipengaruhi kenaikan permintaan tetapi juga dipengaruhi dari sisi suplai/pasokan. “Demand dan Supply ini akan membentuk keseimbangan pasar,” tuturnya.

Baca Juga : Menyiasati Gejolak Harga Pangan

Dari segi supply, dipengaruhi oleh produksi di dalam negeri maupun produksi di level global. Produksi pun sangat dipengaruhi oleh harga input yang terdiri dari harga pupuk, kenaikan harga energi, termasuk kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu. Produksi global juga berpengaruh pada supply di Indonesia, karena masih banyak komoditas pangan yang diimpor Indonesia dari global.

“Komoditas-komoditas tertentu kita masih net importir, seperti gandum, jagung, kedelai, gula, bawang putih, daging sapi, aneka olahan susu dan sebagainya. Selain produk jadi, Indonesia juga masih impor input produksi lainnya seperti bahan baku untuk pupuk, obat-obatan, benih, pakan, pewarna makanan dan lainnya. Tentunya ini akan berpengaruh pada segi suplai,” jelasnya.

Sehingga menurut Sahara akan wajar dan sesuai hukum Ekonomi dimana demand naik, dari suplai biaya produksi naik, dan pengaruh cuaca dan iklim untuk berproduksi, maka harga akan naik.

Baca Juga : Bikin Pedas Kantong Konsumen, Ini Kata Pemerintah soal Harga Cabai 

Kepala Departemen Ilmu Ekonomi, IPB University ini mengingatkan harga pangan tinggi saat ini sangat berisiko berlanjut ke depannya. Pasalnya, faktor global, yaitu pupuk sebagai komponen utama produksi pangan, harganya tengah naik, khususnya di negara berkembang. Kemudian juga terdapat kenaikan harga energi, pestisida, obat-obatan, dan pengaruh kondisi cuaca.

Untuk diketahui, Pandemi global dan melonjaknya harga komoditas amoniak, phosphate rock, dan KCl (bahan baku NPK), gas hingga minyak bumi di pasar internasional turut mempengaruhi harga pokok produksi pupuk di Indonesia. 

Saat ini harga urea internasional berkisar US$ 785 per ton atau setara Rp 12.320.000 per ton termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) dengan kurs rupiah 14.200. “Kenaikan harga pupuk ini pastinya akan berpengaruh di Indonesia dan dipastikan mempengaruhi harga pangan,” tuturnya.

Pangan Global

Sahara juga mencermati data dari Food and Agricultural Organization (FAO) mengenai Food Price Index, di level Global, harga pangan cenderung naik hingga akhir tahun 2021 silam. Misalnya daging sapi di tahun 2020 memiliki 93,3 score Food Price Index, sedangkan di tahun 2021 silam melonjak menjadi 108,8 dan trendnya pun cenderung naik.

“Tak hanya di daging saja, tetapi juga serealia seperti jagung, gandum. Termasuk harga vegetable oil (minyak goreng) yang kini tengah kisruh. Karena memang di level dunia memang sedang naik. Jika tahun 2020 di skor 131,42, sedangkan di November 2021 sampai 184,6,” bebernya.

Baca Juga : Gejolak Harga Pangan, Tugas Pemerintah Produsen Senang, Konsumen Tenang

Begitupula kondisi Gula hingga olahan susu (dairy) yang di tingkat global yang mengalami kenaikan. “Saat CPO naik akhirnya memicu kenaikan harga vegetable oil di level dunia dan Indonesia kena juga di minyak goreng,”cetusnya.

Dilansir dari Reuters,  Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sempat merilis harga pangan dunia sepanjang 2021 melonjak 28% ke level tertinggi dalam satu dekade. FAO memperkirakan harapan tipis harga bisa kembali ke kondisi pasar yang lebih stabil pada tahun ini. Sementara di sisi lain, FAO sudah pernah memperingatkan bahwa biaya lebih tinggi menempatkan populasi lebih miskin di negara-negara yang bergantung pada impor, dalam risiko

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018