Friday, 01 July 2022


Kanji Rumbi Makanan Khas Aceh Tumbuhkan Ekonomi

06 Jun 2022, 10:59 WIBEditor : Gesha

Kanji Rumbi | Sumber Foto:ABDA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Di Aceh, Ie Bu Kanji atau lebih populer Kanji Rumbi merupakan bubur khas yang kaya akan rempah. Kanji rumbi adalah bubur nasi yang dimasak dengan santan, kaldu daging/udang dan berbagai jenis rempah Nusantara. Rasanya gurih dan cukup mengenyangkan, bahkan tanpa tambahan lauk sekalipun. Diluar bulan Ramadan, makanan khas yang satu ini tetap nikmat disantap. Kalau anda masih penasaran silakan mencicipinya di Oen Kopi Cafe Edukasi BPTP Aceh Jln. P. Nyak Makam 27 Lampineung, Banda Aceh.

Adalah T. Raja (56) sang peracik bumbu Kanji Rumbi kelahiran Pidie  yang ditemui tabloidsinartani.com saat launching hasil racikannya di Oen Kopi menceritakan, makanan ini merupakan warisan leluhur, jadi kita ingin agar milenial juga tahu rasanya. Selain itu jika dikelola secara profesional Kanji Rumbi bisa meningkatkan peluang kerja baru sektor kuliner untuk pertumbuhan ekonomi daerah. "Untuk itu kita berharap ada generasi penerus yang bisa meracik bumbu dan memasaknya," ungkapnya berfilosofi.

T. Raja (kanan) bersama Tim ahli Distanbun Aceh   saat launching Kanji Rumbi.

Menurut ayah 4 anak ini, walaupun Kanji Rumbi sebagai bubur tapi mengenyangkan juga mengandung gizi dan baik untuk kesehatan. "Pasalnya, selain mengandung rempah juga baik untuk pencernaan dan cocok sebagai menu sarapan karena bentuknya seperti bubur," jelasnya.

Sebenarnya penyajian bubur Kanji selama ini belum pernah untuk dijual secara komersil. Karena kegemarannya mengkonsumsi, belum afdal bila berbuka puasa tanpa Kanji rumbi.

Pengalaman T. Raja memasak Kanji Rumbi telah dilakoni sejak 2010 hingga sekarang. Setiap hari dalam bulan Ramadhan ia menghabiskan 1 - 6 bambu beras untuk dimasak khusus disajikan 70 - 400 orang. Untuk memasak Kanji Rumbi sebanyak itu butuh waktu 1 hingga 4 jam. "Saya senang dan bahagia kalau semua yang dimasak bisa disedekahkan ke beberapa masjid," tuturnya.

Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat merasa ketagihan untuk menikmati Kanji Rumbi di luar Ramadan. Untuk itulah ia memanfaatkan peluang bisnis dari makanan leluhur ini. Pihaknya, menerima pesanan partai kecil dan besar. Bagi yang berminat untuk acara Rapat, Pengajian atau arisan dapat menghubungi nomor WA. 0812-4242-2321

Belajar dari Sang Ibu

Dalam memasak Kanji Rumbi katanya, perlu memiliki ketrampilan dan resep khusus. Hal ini penting, karena kalau rasanya tidak mengeluarkan aroma khas, hasilnya akan sia - sia. T. Raja menuturkan, ketrampilan memasak adalah warisan sang ibu. Saat masih duduk di bangku SMP ia rajin membantu ibunya serta menekuni bagaimana cara meracik bumbu dan memasak Kanji Rumbi yang rasanya gurih dan nikmat. "Saya belajar memasak sejak kecil dari almarhumah ibu Cut. Hajjah Zainabah. kenangnya haru.

Tak pelak, almarhumah ibunya tidak saja mendidik untuk selalu disiplin dan mandiri dalam kehidupan, tapi juga harus bisa menyiapkan makanan saat dibutuhkan.

Sejak kecil ia tak pernah gengsi membantu ibunya membeli beras, udang dan rempah. Seperti kapulaga, serai, cengkeh, kayu manis, bunga lawang, daun pandan dan garam. Selain itu bawang merah, bawang putih, adas manis, jintan, jahe, kemiri, merica juga pala dan ketumbar (bubuk).

Dalam benaknya, untuk apa semua ini...."Namun, sang ibu ingin memperkenalkan bahwa Nusantara kaya akan hasil rempah tidak hanya bisa digunakan sebagai obat tapi juga bisa diolah untuk makanan sehat," gumamnya. Walau kedua orangtuanya kini telah tiada, namun semangat untuk mengangkat makanan warisan leluhur tetap membara.

Dari hasil pernikahannya dengan Cut Ellyana Sari telah dikaruniai 4 putra dan putri. Anaknya yang sulung telah meraih gelar Sarjana Teknik Pertambangan. Adiknya sedang menyusun skripsi pada Fakultas Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sedangkan yang ketiga duduk dibangku SMA dan yang paling bontot di pesantren. 

Masa kecilnya menghabiskan waktu bermain dengan penuh kreatifitàs serta tidak pernah minta dibelikan mainan. Dengan memanfaatkan limbah batang rumbia dan sendal karet bekas ia membuat mobil-mobilan mirip aslinya. "Saya bisa bersaing membuat mobil lebih bagus dari punya teman," ujarnya bangga menutup cerita.

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018