Kamis, 20 Juni 2024


Berkecamuknya Harga Pangan: Bisakah Kembali ke Jalur Normal?

09 Agu 2023, 09:32 WIBEditor : Gesha

Harga pangan terus menanjak | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di tengah gejolak ekonomi, pertanyaan yang muncul begitu mengemuka: Bisakah harga pangan yang tengah mengamuk ini kembali melangkah dengan mantap ke jalur normal? Dalam suasana yang penuh dengan ketidakpastian, pasar pangan telah menjadi medan pertempuran antara kekuatan pasokan dan permintaan, mengundang pertanyaan besar tentang arah yang akan diambil oleh harga-harga esensial ini.

Pakar ekonomi pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, telah mengeluarkan pernyataan menarik mengenai tren harga pangan saat ini.

Dia percaya mayoritas harga pangan tahun ini cenderung lebih tinggi daripada tahun sebelumnya. Namun, yang lebih mengejutkan adalah pandangannya tentang penurunan harga untuk kembali ke level tahun lalu, yang ia anggap sebagai suatu hal yang mustahil.

"Memang masyarakat maunya tidak ada kenaikan harga. Bahkan, kalau bisa harganya justru turun. Tetapi itu mustahil," ujarnya dengan tegas, Selasa (8/8). 

Dalam pandangan Khudori, harga pangan saat ini telah mencapai keseimbangan baru yang berhubungan dengan perubahan struktur biaya produksi.

"Konkritnya, ongkos produksi naik, kalau harga [pangan] tidak naik, produsen bisa gulung tikar," serunya dengan nada kekhawatiran yang mendalam.

Menilik data panel harga Bapanas, terangkat pula gambaran mengenai gejolak harga komoditas pangan sepanjang tahun ini.

Antara lain, beras, telur ayam, dan jagung pakan tampak mendominasi tren harga yang cenderung meningkat.

Salah satu sorotan menarik adalah harga telur ayam ras yang mencapai Rp30.700 per kilogram pada 8 Agustus 2023, melampaui patokan harga penjualan resmi. Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No.5/2022 sebelumnya menetapkan harga acuan penjualan (HAP) telur ayam ras sebesar Rp27.000 per kilogram.

Harga jagung pakan kini mencapai Rp6.300 per kilogram di tingkat peternak, melambung 26 persen di atas Harga Acuan Patokan (HAP) sebelumnya yang sebesar Rp5.000 per kilogram.

Tidak hanya itu, harganya kini bahkan melampui batas tertinggi dalam Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium yang telah diatur dalam Peraturan Badan No. 7/2023.

Situasi ini telah memicu pertimbangan serius dari Khudori, yang berpendapat bahwa penyesuaian baik pada HAP maupun HET oleh pemerintah perlu segera dilakukan, terutama ketika struktur produksi telah mengalami kenaikan drastis.

Meskipun penetapan HAP baru terjadi sebulan setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada bulan September 2022 dan HET pada akhir Maret 2023, Khudori dengan tegas menyuarakan pandangannya bahwa pemerintah, melalui Badan Pengawas Nasional, harus mengambil langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan.

Sebelumnya, Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pengawas Nasional (Bapanas), secara tegas mengakui bahwa lonjakan harga beberapa komoditas pangan tak terelakkan akibat kenaikan biaya produksi yang signifikan.

Arief memberikan contoh konkret, di mana produksi telur ayam saat ini menuntut upaya besar dari para peternak. Mereka harus menghadapi beban finansial yang tidak kecil, mulai dari pakan ternak, bibit ayam (day old chick/DOC), tenaga kerja, hingga biaya distribusi.

Arief menekankan bahwa fokus utama Bapanas adalah menjaga kelangsungan usaha para produsen pangan, termasuk peternak dan petani, dengan memastikan keberlanjutan harga yang layak di tingkat produsen. Pandangan tersebut bertujuan untuk menghindari sekadar menekan harga konsumen di bawah standar yang wajar.

Dalam konteks ini, Arief mengajukan pertanyaan kritis, "Apakah seharusnya kita meremehkan jerih payah peternak kita? Menginginkan harga yang murah selalu? Bukankah ini kurang menghargai?"

Namun demikian, meskipun kebutuhan peninjauan terhadap Harga Acuan Patokan (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada berbagai komoditas pangan dirasa perlu, Arief dengan tegas menyatakan bahwa penyesuaian harga oleh pemerintah tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Ia menilai bahwa penyesuaian saat ini tidaklah tepat. Bapanas saat ini lebih berfokus pada upaya stabilisasi dan memberikan ruang bagi para peternak untuk merasakan keuntungan, sambil tetap mempertimbangkan revisi HAP dan HET di waktu yang lebih tepat di masa mendatang.

"Kita harus memberi kesempatan kepada peternak untuk menikmati hasil kerjanya, saatnya akan tiba nanti," tegas Arief.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018