Tuesday, 06 October 2026


Minyak Atsiri Indonesia Diserbu Dunia, Ternyata Jadi Bahan Parfum Mewah

26 Jun 2025, 13:42 WIBEditor : Gesha

Minyak atsiri asal Indonesia diam-diam jadi incaran brand parfum mewah dunia! Tanaman liar seperti kembang sepatu hingga kamboja ternyata bernilai puluhan juta per liter di pasar global!

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Minyak atsiri asal Indonesia diam-diam jadi incaran brand parfum mewah dunia! Tanaman liar seperti kembang sepatu hingga kamboja ternyata bernilai puluhan juta per liter di pasar global!

Siapa sangka, tanaman liar yang tumbuh di pekarangan, hutan, atau pinggir jalan di berbagai pelosok Indonesia justru menjadi komoditas primadona di pasar global.

Minyak atsiri atau essential oil hasil ekstraksi tanaman lokal, kini diam-diam diburu brand parfum mewah dunia.

Bahkan, sebagian besar aroma khas dalam parfum mahal seperti CREED, diketahui bersumber dari tanaman-tanaman Indonesia.

Fakta mengejutkan ini diungkap oleh Dr. Amelia Masniari, M.Sc., dari The Great Saga Vedic School, dalam forum business matching yang digelar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada Kamis, 26 Juni 2025.

Di hadapan petani dan pelaku UMKM agribisnis, Amelia membuka peluang emas yang selama ini tak banyak disadari: minyak atsiri Indonesia sudah menguasai dunia, tapi nilai tambahnya justru dinikmati negara lain.

Dalam paparannya, Amelia menjelaskan bahwa banyak tanaman yang kita anggap “sepele”, ternyata punya nilai ekonomis fantastis di luar negeri.

Salah satunya adalah kembang sepatu, tanaman hias yang kini makin jarang ditemukan di perkotaan.

“Minyak atsirinya sangat efektif mengatasi ketombe, dan di luar negeri bisa dijual hingga Rp3 juta per liter, meski untuk memproduksinya butuh setengah ton bunga segar,” ujarnya.

Contoh lain adalah bunga kamboja yang banyak berserakan di tanah Bali. Jika diabaikan begitu saja oleh masyarakat lokal, di pasar global satu liternya bisa dihargai hingga USD 3.000 atau setara Rp48 juta. “Padahal bunga itu cuma jatuh dan membusuk di jalanan,” imbuh Amelia sambil tersenyum getir.

Dikuasai India dan Israel

Amelia juga membeberkan bahwa India dan Israel saat ini menjadi dua pusat utama produksi minyak atsiri dunia. Ironisnya, sebagian besar bahan baku mereka berasal dari Indonesia.

Sayangnya, karena minyak atsiri yang diekspor dari Indonesia belum memenuhi standar kemurnian internasional, produk tersebut harus kembali disuling dan dimurnikan di luar negeri sebelum bisa masuk ke pasar premium seperti Eropa dan Amerika.

"Inilah kenapa minyak atsiri kita murah, karena masih harus disuling ulang. Kita belum punya sistem penyulingan dan pengemasan yang sesuai standar parfum dunia,” ujar Amelia.

Padahal, menurutnya, jika bisa langsung memproduksi dalam bentuk pure essential oil, Indonesia bisa menjual langsung ke rumah parfum mewah seperti CREED dan Bulgari.

Bisnis Bernilai Dolar

Menariknya, bisnis minyak atsiri terbukti tidak hanya bernilai tinggi, tapi juga stabil dan anti-krisis. “Saat nilai tukar dolar naik dari Rp15 ribu ke Rp17 ribu tahun lalu, harga minyak atsiri naik hingga 50 persen. Jadi kalau Anda bisnis di bidang ini, pendapatannya setara dengan dolar,” kata Amelia.

Ia menambahkan bahwa setiap tahun, harga minyak atsiri di pasar global naik minimal 20 persen, menjadikannya salah satu peluang usaha paling menjanjikan bagi petani dan UMKM.

“Minyak atsiri itu tidak butuh subsidi. Pasarnya tumbuh sendiri karena permintaan dunia sangat tinggi,” ujarnya.

Untuk memanfaatkan potensi luar biasa ini, Amelia mendorong adanya sinergi antara petani, pelaku usaha kecil, pemerintah, dan investor.

Ia menyebut perlunya pelatihan rutin yang menyasar teknik penyulingan modern, pengemasan, sertifikasi ekspor, dan strategi branding produk.

Sekolah yang ia pimpin, The Great Saga Vedic School, sudah mulai menggelar pelatihan pembuatan parfum, hair oil, hingga lotion alami berbasis minyak atsiri.

Ke depan, ia berharap pelatihan ini bisa menjangkau lebih banyak desa penghasil tanaman aromatik di Indonesia.

“Kita butuh intervensi dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, bahkan investor luar negeri. Banyak investor dari Israel, misalnya, bersedia menyumbangkan alat distilasi modern asal ekosistem bisnis di Indonesia siap,” ujarnya.

Amelia pun menekankan pentingnya perubahan paradigma. Indonesia tak boleh puas hanya menjadi penyedia bahan mentah. Sudah waktunya petani dan pelaku UMKM naik kelas menjadi produsen akhir yang bisa ekspor langsung ke luar negeri.

“Essential oil adalah pintu gerbang masuk ke industri wellness, kosmetik, dan kesehatan dunia. Nilainya triliunan rupiah. Kita bisa jadi pemain besar, asal serius membangun ekosistemnya dari hulu ke hilir,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018