Wednesday, 21 October 2026


BPOM Ungkap Cara Biar Produk Herbal RI Bersaing di Dunia

11 Nov 2025, 19:40 WIBEditor : Gesha

Mau herbal Indonesia laris manis di pasar global? Badan POM jelasin strategi supaya produk jahe, temulawak, dan rempah lokal aman, berkualitas, dan siap diekspor.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Mau herbal Indonesia laris manis di pasar global? Badan POM jelasin strategi supaya produk jahe, temulawak, dan rempah lokal aman, berkualitas, dan siap diekspor. 

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik dari Badan POM, Mohamad Kashuri, membeberkan strategi agar produk herbal Indonesia bisa menembus pasar global dalam Workshop Herba Medika bertajuk “The New Era of Downstream Processing for Herbs and Medicinal Plants”. Selasa (11/11). 

Menurut Kashuri, permintaan dunia terhadap obat herbal dan suplemen kesehatan alami terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat dan keberlanjutan.

Indonesia, dengan kekayaan alam dan tradisi pengobatan berbasis tanaman obat, memiliki peluang besar untuk menjadi pusat keunggulan bahan obat alam.

“Transformasi ini bukan sekadar soal ekonomi nasional, tetapi bagaimana Indonesia menjadi pusat keunggulan bahan obat alam yang aman, berkualitas, dan berdaya saing global,” tegas Kashuri.

Ia menekankan, regulasi seharusnya mendorong inovasi berbasis bukti ilmiah (evidence-based innovation), bukan menjadi hambatan.

Ada lima fokus utama yang disampaikan BPOM. Pertama, harmonisasi regulasi, dimana standardisasi dan hilirisasi produk herbal obat berbahan alam hanya efektif jika didukung regulasi yang selaras dan jelas, termasuk standar ASEAN dan pedoman internasional.

Tahun ini, Badan POM telah menerbitkan regulasi terkait probiotik dan transmik berbahan alam untuk memperkuat landasan hukum produk herbal.

Kedua, inovasi dan teknologi produksi. BPOM mendorong penerapan quality by design, real-time testing, digitalisasi produksi, dan sinergi riset dengan perguruan tinggi. Beberapa inovasi fokus pada produk herbal untuk kesehatan jantung, kolesterol, dan daya tahan tubuh.

Fokus ketiga adalah standarisasi dan kualitas bahan baku. Praktik pertanian dan pengumpulan yang baik (food agriculture and collection practices), Standard Analytical Data (SAD), dan Herbal Pharmacopoeia Indonesia menjadi acuan. Laboratorium BPOM mendukung validasi untuk memastikan kualitas sesuai standar internasional.

Keempat, kolaborasi riset dan inovasi. Kashuri menekankan pentingnya triple helix collaboration antara akademisi, industri, dan pemerintah, ditambah komunitas dan media. Program sertifikasi SDM dan produksi disiapkan agar pelaku industri mampu bersaing di kancah global.

Kelima, integrasi aspek ekologi dan ekonomi melalui green economy dan circular economy. Sinergi antara petani, UMKM, industri, dan ekspor, terutama produk unggulan seperti jahe, temulawak, dan rempah, menjadi fokus utama untuk menjamin kualitas dan keberlanjutan.

Meski menghadapi tantangan regulasi terfragmentasi dan keterbatasan SDM, peluang terbuka melalui harmonisasi ASEAN, dukungan perguruan tinggi, dan branding Herbal from Indonesia.

Ke depan, BPOM berencana menyusun Rencana Aksi Nasional, mengembangkan Center for Herbal Regulatory Science, digitalisasi registrasi, dan memperkuat kerja sama internasional.

“Dengan inovasi regulasi yang adaptif, kolaborasi solid, dan digitalisasi, Indonesia tidak hanya membangun industri herbal, tapi juga masa depan kesehatan global,” pungkas Kashuri.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018