
Jelang Ramadan 2026, Bapanas mengambil langkah cepat dengan 7 strategi ampuh untuk menjaga pasokan dan harga pangan, memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa lonjakan inflasi.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Jelang Ramadan 2026, Bapanas mengambil langkah cepat dengan 7 strategi ampuh untuk menjaga pasokan dan harga pangan, memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa lonjakan inflasi.
Menjelang Ramadan 2026, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat strategi untuk menjaga ketersediaan dan harga pangan pokok agar daya beli masyarakat tetap aman dan inflasi pangan terkendali.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menyebutkan bahwa lembaganya telah menyiapkan tujuh langkah strategis untuk mengamankan pasokan dan stabilitas harga pangan. Langkah pertama adalah pemantauan harga pangan setiap hari melalui Panel Harga Pangan, sehingga pergerakan harga dapat diantisipasi sejak dini. Selanjutnya, Bapanas mengoptimalkan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) agar komoditas pokok tersebar merata, serta memperpanjang penyaluran SPHP Beras 2025 hingga akhir Januari 2026 sambil memulai pelaksanaan SPHP Beras 2026 dengan target 1,5 juta ton.
Selain itu, pemerintah mendorong Gerakan Pangan Murah sepanjang tahun, meningkatkan jumlah kios pangan untuk menjadi outlet penyeimbang inflasi, dan menyalurkan SPHP Jagung 2026 sebanyak 500 ribu ton. Sebagai langkah pengawasan tambahan, Bapanas juga mengusulkan pembentukan Satgas Pengawasan Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan 2026.
Nita menekankan peran aktif pemerintah daerah sangat penting. Setiap wilayah perlu mengidentifikasi potensi surplus dan defisit melalui neraca pangan, memperkuat cadangan pangan, serta menjalin kerja sama antarwilayah untuk memastikan pasokan tetap stabil. Koordinasi dengan Perum BULOG juga diintensifkan untuk menyalurkan beras SPHP dan bantuan pangan, sambil terus memantau harga bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, meminta Satgas Pangan dan TPID turun langsung ke lapangan setiap minggu untuk mengecek gudang dan distribusi pangan. “Pastikan distribusi berjalan lancar dan harga stabil sesuai kondisi wilayah masing-masing,” ujarnya.
Deputi BPS, Pudji Ismartini, mengingatkan bahwa tekanan inflasi pangan awal Ramadan selalu menjadi pola tahunan. Komoditas penyumbang inflasi terbesar antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Namun, beberapa komoditas hortikultura menunjukkan tren positif, seperti harga cabai rawit yang turun 10,91 persen dan bawang merah turun 3,59 persen pada pertengahan Januari.
Dengan kombinasi tujuh langkah strategis dan sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Ramadan 2026 dapat terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalani puasa tanpa khawatir lonjakan harga.