Thursday, 22 October 2026


Krisis Pasokan Terasa, Pedagang Daging Jabodetabek Bakal Mogok Massal

21 Jan 2026, 11:58 WIBEditor : Gesha

Pedagang daging Jabodetabek bakal mogok massal mulai besok akibat harga sapi melambung dan tekanan biaya tinggi, ancam pasokan daging di pasar tradisional nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pedagang daging Jabodetabek bakal mogok massal mulai besok akibat harga sapi melambung dan tekanan biaya tinggi, ancam pasokan daging di pasar tradisional nasional.

Pedagang daging di wilayah Jabodetabek bersiap melakukan mogok massal mulai besok hingga Sabtu mendatang.

Langkah ekstrem ini diambil oleh Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta sebagai bentuk protes terhadap krisis pasokan dan tekanan harga yang semakin menekan pedagang kecil hingga menengah.

Aksi ini dipandang sebagai upaya mendesak pemerintah untuk menstabilkan perdagangan daging sapi dan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.

Ketua APDI DKI Jakarta, Wahyu Purnama, menjelaskan bahwa keputusan mogok massal muncul setelah berbagai upaya dialog dengan pemerintah dan instansi terkait tidak membuahkan hasil konkret.

"Situasi perdagangan daging saat ini benar-benar menekan pedagang. Kami mewakili bandar sapi potong dan pedagang daging hilir merasa perlu menyampaikan aspirasi dan keprihatinan atas kondisi yang terjadi," kata Wahyu dalam surat terbuka yang diterima TABLOID SINAR TANI. 

Krisis pasokan daging sapi yang terjadi di Jabodetabek sebagian besar dipicu oleh kenaikan harga sapi dari feedloter. Kenaikan ini berimbas langsung pada harga karkas di rumah potong hewan (RPH), sementara daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini membuat posisi pedagang semakin terhimpit, karena mereka harus menanggung biaya tinggi tanpa bisa menaikkan harga jual secara signifikan.

"Harga sapi dari feedloter terlalu tinggi, harga karkas di RPH ikut naik, sementara daya beli masyarakat justru turun. Posisi pedagang di tengah semakin terhimpit," jelas Wahyu.

Sebelumnya, APDI telah mengikuti rapat dengan Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) pada 5 Januari 2026.

Rapat tersebut membahas komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga sapi timbang hidup selama dua pekan.

Namun faktanya, jaminan tersebut belum terealisasi di lapangan.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran pedagang, terutama yang beroperasi di pasar tradisional dan menyasar konsumen menengah ke bawah.

Langkah mogok massal ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah agar segera menanggapi kondisi perdagangan daging sapi yang dinilai krisis.

APDI berharap dengan menghentikan sementara aktivitas jual beli, pemerintah dan pemangku kepentingan lain lebih serius dalam mencari solusi yang nyata.

"Kami menimbang aspirasi anggota bandar sapi potong dan pedagang daging hilirisasi pasar tradisional se-Jabodetabek serta masyarakat menengah ke bawah yang sangat terdampak oleh tingginya harga daging sapi," ungkap Wahyu.

Aksi mogok pedagang daging Jabodetabek ini juga sudah ditembuskan ke sejumlah lembaga terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional, Komisi IV DPR RI, Mabes Polri, hingga Polda Metro Jaya.

Tujuannya agar perhatian serius segera diberikan dan langkah strategis diambil untuk menstabilkan pasokan dan harga daging sapi di pasar tradisional.

Selain itu, pedagang juga menekankan pentingnya penguatan sistem distribusi dan logistik daging sapi.

Stabilitas pasokan menjadi kunci agar harga daging tetap terjangkau bagi konsumen sekaligus memberi keuntungan yang wajar bagi pedagang.

Dengan begitu, mogok massal ini diharapkan bukan hanya menyuarakan aspirasi pedagang, tetapi juga mendorong reformasi pasar daging yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.

Situasi ini menjadi perhatian pemerintah pusat maupun daerah, karena Jabodetabek merupakan salah satu pusat konsumsi daging sapi terbesar di Indonesia.

Penanganan krisis pasokan yang cepat dan tepat sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan, stabilitas harga, dan kesejahteraan petani serta pedagang.

Dengan langkah mogok massal, APDI berharap pemerintah segera bertindak dengan solusi yang nyata, termasuk pengaturan harga, pengawasan distribusi, dan langkah strategis jangka panjang untuk memastikan pasokan daging sapi tetap stabil dan terjangkau.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018