Kamis, 15 November 2018


Waspadai Harga Telur dan Ayam Melonjak Lagi

16 Okt 2018, 13:36 WIBEditor : Yulianto

Peternakan ayam petelur | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tingginya harga pakan ternak yang terjadi saat ini diprediksi bakal mendongkrak harga ayam dan telur pada Nopember mendatang. Bahkan akan melebihi kenaikan harga pada Agustus lalu.

Demikian diungkapkan Presiden Peternak Layer Nasional, Musbar dalam satu diskusi jagung di Jakarta, beberapa waktu lalu. “Harga pakan saat ini tidak masuk akal.  Jadi waspadai harga telor melonjak melebihi Agustus,” katanya.

Dia mengungkapkan, saat ini harga jagung untuk pakan ternak di dalam negeri mencapai Rp 5.200-5.500/kg yang menyebabkan harga pakan naik Rp 200/kg. Sementara harga jual telur di tingkat produsen/peternak Rp 15 ribu/kg. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan harga acuan telor Rp 18 ribu/kg.

Padahal menurut Musbar, permintaan terhadap unggas dan telur selama Oktober-Desember mengalami penurunan. Populasi ayam juga kini sedang turun karena adanya afkir. “Kenaikan harga jagung di dalam negeri juga karena pada Juli-September karena produksinya turun,” ujar Musbar.

Faktor lainnya yang menyebabkan harga pakan tinggi menurut Musbar, karena industri pakan ternak mengalihkan penggunaan jagung impor ke gandum sebagai bahan baku pakan. Terlihat dari impor gandum yang naik cukup tinggi sejak tahun 2015 hingga 2018. “Tahun ini impor gandum mencapai 12,4 juta ton,” ujarnya.

Musbar mengingatkan, kenaikan harga ayam dan telur pernah terjadi Agustus lalu, terutama sebelum Lebaran. Saat itu kenaikan banyak disebabkan permainan pedagang. Data menyebutkan harga jagung di dalam negeri mencapai Rp 5.000/kg dan harga jagung di pasar internasional hanya Rp 145 dolar AS/ton atau sekitar Rp 2.300/kg. Sementara harga gandum impor sekitar Rp 4.800/kg.

Sementara itu Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Drs. Anthony Budiawan mengatakan, komoditas jagung memiliki dampak besar terhadap ekonomi, karena 50% bahan baku pakan ternak adalah jagung. Karena itu jika harga jagung naik, maka akan mempengaruhi harga daging ayam dan telur.

Anthony mengakui, kebijakan jagung memang dilematis. Di satu sisi, kenaikan harga jagung akan mempengaruhi produk ternak ayam dan telur. Tapi jika dilepas ada impor jagung, maka akan mempengaruhi kondisi petani jagung di dalam negeri.

Menurutnya, kebijakan pemerintah menetapkan HPP jagung untuk menjamin kesejahteraan petani sudah benar. Dengan price floor, petani masih bisa mendapatkan pendapatan yang  baik dan menjaga kesejahteraan petani.

Kalau untuk mencapai swasmebada, maka kesejateraan petani yang harus dijaga. Tapi untuk memberikan stimulus, pemerintah bisa membeli petani dengan harga lebih mahal dan menjual dengan harga murah,” tuturnya. Yul

 

 

 

Reporter : Yulianto

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018