Kamis, 15 November 2018


Gerbang Ekspor Kembali Dibuka, Senyum Petani Manggis Merekah

16 Okt 2018, 18:35 WIBEditor : GESHA

Manggis Indonesia akan kembali bergairah dengan disepakatinya Protokol Manggis antara Indonesia dan China dengan persyaratan karantina yang ketat | Sumber Foto:HUMAS BARANTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Petani manggis sekarang tersenyum karena merasa senang setelah Pemerintah China mengizinkan lagi Indonesia mengekspor  manggis. Harga manggisnya yang biasa dibeli hanya dengan kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu/kg menjadi Rp 30 ribu/kg setelah menjadi komoditas ekspor.

Dengan terbukanya peluang ekspor manggis ke negara ini, pendapatan petani manggis akan meningkat signifikan karena sekarang sudah ada kepastian soal harga dan tidak seperti sebelumnya harga manggis ditentukan oleh para tengkulak.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Banun Harpini mengatakan bahwa perdagangan ekspor manggis telah memberikan nilai tambah bagi petani, yakni harga manggis yang memenuhi standar Baku mutu dapat mencapai tiga kali lipat harga manggis lokal.

“Barantan terus mendorong disepakatinya protokol ekspor bagi produk-produk pertanian. Hal tersebut agar mendorong petani berproduksi dengan standar ekspor dan mendapatkan nilai lebih, sehingga dapat menjadikan petani Indonesia yang makmur dan sejahtera,” tegasnya.

Sebelumnya, Indonesia sempat mendapatkan pelarangan dan penghentian ekspor manggis ke China selama lima tahun.

Hal tersebut terjadi karena  dianggap tidak memenuhi standar baku mutu dengan kandungan zat kimianya melebihi batas toleransi yang berlaku di negara tersebut dan terbawanya semut serta kutu putih pada buah manggis asal Indonesia.

Selama penangguhan ekspor tersebut, manggis Indonesia dikirim ke-10 negara, dengan ekspor yang terbesar ke Uni Eropa dan Uni Emirat Arab. 

Namun, China dilihat masih jadi negara dengan pangsa manggis terbesar sehingga kesepakatan protokol ekspor ini terus diperjuangkan.

Menurut Banun, jika komoditas ini bisa ekspor langsung ke China tentunya dapat menekan biaya pengiriman. Yang lebih penting dapat memberikan keuntungan kepada petani, karena harga jual petani bisa lebih tinggi.

"Mereka melarang masuk langsung dari Indonesia tetapi diambil dari Malaysia, Vietnam, Thailand sehingga nilai tambah dikantongi negara perantara, bukan kita," tambahnya.

Perjuangan Indonesia pun tak sia-sia dengan disepakatinya Protokol manggis antara Badan Karantina Pertanian Kementan RI dan Badan Karantina China yaitu Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine of The Peoples Republic Of China (AQSIQ) pada 11 Desember 2017, maka Indonesia diizinkannya lagi mengekspor  manggis  ke  China, tanpa perantara atau tanpa harus transit dari negara lain dan hal ini dapat mengurangi biaya pengiriman.

Standar Ekspor

Untuk mendapatkan harga jual yang tinggi, manggis Indonesia harus memenuhi standar baku mutu yang tertuang dalam protokol impor manggis yang telah disepakati antara Karantina China dan Indonesia.

Karena dalam protokol Manggis antara Indonesia dan China dipaparkan dengan persyaratan yang ketat, diantaranya  kebun manggis dan rumah kemas (packing house) yang sudah teregistrasi dan bebas dari OPT seperti Lalat Buah (Fruit flies), Kutu Putih (Mealy bugs), Kutu tempurung (Scale insect), semut dan serangga hidup lainnya. 

Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak  terbawanya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

Proses pengawasan sebelum pengemasan terhadap buah manggis ini diberikan perlakuan karantina terlebih dahulu, yaitu pencucian menggunakan cairan desinfektan, penyemprotan dengan udara bertekanan tinggi menggunakan kompresor (Air Brushing) dan dikemas dalam keranjang yang telah dilapisi kertas serta dibungkus menggunakan plastik.

Prosedur ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya reinfestasi kembali oleh serangga selama di perjalanan dan terakhir pemeriksaan manggis yang mau diekspor harus di packing house registrasi oleh  petugas karantina.

Berdasarkan data Karantina Pertanian, Indonesia telah kembali melakukan ekspor manggis ke pasar China mulai 1 Januari  sampai dengan 30 September 2018  sebanyak 280 kali dengan total 1.126, 957 Ton, dan ditargetkan bisa 2.000 Ton  pada bulan Desember 2018, sesuai dengan permintaan Negara China.

“Ini peluang bisnis besar para eksportir, kami siap dukung, pesan kami karena belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, untuk menjaga peluang, supaya terus menjaga standar yang ditetapkan karena ini menyangkut marwah kita. Jangan sampai disuspend lagi,” pungkas Banun.

Banun mengajak para petani manggis supaya tetap merawat tanaman dan kebun manggisnya,  serta para eksportir harus memenuhi persyaratan administrasi maupun teknis dalam protokol yang sudah disepakati.

“Supaya bisa menjaga kepercayaan yang diberikan China kepada kita, dengan demikian  manggis Indonesia terjaga secara kualitas dan kuantitas ekspor meningkat terus yang dapat menambah pendapatan petani, pelaku usaha dan menaikkan devisa negara,” tutupnya.    (Jojor Barita-Badan Karantina Pertanian)

 

 

Reporter : Tiara

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018