Rabu, 12 Desember 2018


Konsumen Lebih Melirik Beras Kualitas Premium

05 Des 2018, 17:31 WIBEditor : Gesha

Beras Premium sekarang lebih diminati konsumen | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pasokan beras di Ibukota Negara, Jakarta hingga sekarang masih melimpah dan harga pun tidak mengalami pergerakan yang berarti. Namun jika dilihat secara seksama, beras premium masih mendominasi pasokan di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) karena terdapat pergeseran selera konsumen.

"Ini (pergeseran selera) merupakan indikator masyarakat kita semakin sejahtera. Ini terjadi bukan karena keinginan pasar tetapi karena keinginan konsumen," tutur Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Agung Hendriadi saat konferensi pers Stok dan Harga Pangan Jelang HKBN Natal dan Tahun Baru 2019 di Kantor BKP, Jakarta, Rabu (5/12).

Di PIBC, harga medium hingga Oktober lalu mencapai Rp 8.700 dan beras premium adalah Rp 12.300. "Harga di PIBC merupakan cerminan harga beras di pasar induk lainnya di daerah," tutur Agung.

Menurut catatan dari PIBC, pada tahun 2014, porsi beras premium hanya 35 persen, sedangkan medium mencapai 65 persen dari cakupan stok beras yang ada.

Pada tahun 2015, kondisi berbalik. Beras premium meraup porsi 60 persen, sedangkan beras medium 40 persen dengan alasan kemarau panjang sehingga produksi beras cukup bagus. Sedangkan tahun 2016 dan tahun 2017, persentasinya menjadi 70 persen beras premium dan 30 persen medium.

Di tahun 2018, terdapat dua beras medium IR 64 III dan Muncul III sehingga komposisinya menjadi 84 persen beras premium dan medium 26 persen.

Pengamat Pertanian, Khudori beberapa waktu silam sempat menyebutkan bahwa perubahan preferensi ini terjadi karena kini masyarakat memandang beras bukan lagi barang inferior (barang murahan). "Sehingga saat harga beras naik, konsumen tidak langsung beralih ke beras yang lebih murah tetapi justru mengurangi volume pembelian," tuturnya.

Menariknya, berdasarkan kajian Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) di 13 kota yaitu Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Bogor, Bandung, SemarangJogja, Malang, Jember, Denpasar dan Makassar. Hasil kajian tersebut menyebutkan frekuensi pembelian beras sebesar 2,7 kali per bulan dengan rata-rata konsumsi 70,4 per kapita per tahun dan jika terjadi kenaikan harga beras maka konsumen akan mengubah konsumsi, mengurangi beras yang dikonsumsi bahkan mengganti dengan beras merek lain.

Mengenai operasi pasar yang dianggap tidak laku, Khudori berpendapat jika pemerintah menggunakan beras premium, tidak hanya menggunakan beras medium saja.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018