
Harga beras di kios
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Harga beras kualitas medium menjelang akhir tahun mengalami penurunan. Kondisi itu tidak lepas dari pasokan beras operasi pasar dari Perum Bulog.
Direktur Operasional PT. Food Station Tjipinang Jaya (FSTJ), Frans M. Tambunan mengatakan, harga beras medium yang tercatat di PIBC yang seblumnya mencapai Rp 9.200/kg kini hanya sekitar Rp 8.500/kg. Penurunan harga beras kualitas medium tersebut juga terjadi di sejumlah pasar di DKI Jakarta.
“Kalau kita cek di Info Pangan yang mencatat kondisi harga di 44 pasar pencatatan, harga beras medium turun dari Rp 9.400/kg menjadi Rp 9.300/kg. Bukan hanya pasokan yang terjaga, harga pun terkendali,” katanya saat jumpa pers Inflasi Pangan, di Jakarta, Jumat (28/12).
Stabilnya pasokan beras medium tersebut menurut Frans, karena ada tambahan beras medium dari Perum Bulog. Dari sebanyak 54.898 ton stok beras di PIBC, sekitar 15?rasal dari Perum Bulog. Jumlah pemasukan per 27 Desember 2018 sebanyak 3.635 ton dan pengeluaran 3.534 ton.
Data PIBC per 28 desember 2018 menyebutkan harga beras IR 64 I sebesar Rp 10.800/kg, IR 64 II Rp 10.200/kg, IR 64 III Rp 8.500/kg, Muncul I Rp 11.175/kg, Muncul II Rp 10.300/kg, Muncul III Rp 9.625/kg, Cianjur Kepala Rp 13.325/kg, Cianjur Slyp Rp 12.050/kg, Setra Rp 13.275/kg dan Saigon Rp 11.800/kg. “Memang sebagian harga beras masih tinggi, karena beras yang masuk merupakan hasil panen gadu yang harga gabahnya tinggi,” kata Frans.
Frans mengatakan, pihaknya berupaya mengontrol pasokan. Apalagi hampir 70?ras yang masuk ke DKI Jakarta melalui PIBC atau sebanyak 3 ribu ton beras/hari. Jadi paling tidak stok beras di PIBC sebanyak 30 ribu ton untuk persediaan 10-12 hari. “Kalau kurang dari 30 ribu ton dan harga bergerak naik, kita minta untuk operasi pasar,” katanya.
Untuk menjaga pasokan beras ke PIBC, Frans mengungkapkan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan gabungan kelompok tani di Lampung, Pulau Jawa dan Sulawesi. Saat ini hampir 8.000-10.000 ton beras dari petani. “Tujuan kita adalah untuk memotong mata rantai dan langsung membeli beras dari gapoktan,” ujarnya.
Program preventif
Bahkan sejak tiga tahun lalu, pihaknya membuat program preventif untuk menjaga inflasi harga pangan. Jadi sebelum terjadi gejolak harga pangan, beras produk PT. FSTJ sudah masuk ke pasar. Saat ini beras tersebut sudah banyak beredar di pasar ritel dengan merek FS.
“Kita juga menjual berasmelalui program pasar murah di 70 kelurahan di DKI Jakarta yang daya belinya rendah. Kita jual 8-10 persen di bawah harga pasar,” katanya. Selain itu lanjut Frans, dilakukan penjualan beras untuk pegawai negeri sipil Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Saat ini dari 72 ribu PNS ada 17 ribu PNS yang membeli beras dari PT. FSTJ dengan harga murah.
Frans mengatakan, upaya lainnya menjaga inflasi pangan adalah memberikan subsidi pangan melalui program Jakarta Pintar yang ditujukan untuk kalangan buruh dan lansia. Jumlahnya sekitar 1,3 juta penduduk. Beras dijual dengan harga Rp 6 ribu/kg, telur Rp 10 ribu/kg dan daging sapi Rp 35 ribu/kg.