Saturday, 23 October 2021


Ekspor US$ 9 Juta, Peluang Menggemaskan dari Si Jamur Tiram

29 Dec 2018, 12:42 WIBEditor : Gesha

Baglog berisi jamur tiram | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Purwakarta --- Peluang ekspor dari jamur tiram ternyata sangat menggemaskan. Bagaimana tidak, rata-rata ekspor jamur dari Indonesia bisa mencapai 9 juta dollar!. 

Tercatat, rata-rata ekspor jamur Indonesia ke mancanegara sebanyak 5.300 ton. Jamur Indonesia itu sangat digemari di luar negeri terutama negara China, Korea dan Singapura. 

"Kementerian Pertanian sedang menggalakkan ekspor komoditas hortikultura, salah satu yang dapat diandalkan adalah ekspor jamur. Regulasi ekspor saat ini telah dipersingkat waktu pengurusan, yang tadi berkisar antara 13 hari atau lebih menjadi lebih cepat," jelas Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Prihasto Setyanto.

Melihat peluang yang sangat menggiurkan seperti ini,  sisi produksi perlu terus didorong tumbuhnya sentra-sentra produksi jamur untuk memenuhi kebutuhan jamur yang semakin meningkat.

Merujuk kepada angka statistik pada tahun 2016, produksi aneka jamur sebesar 40.914 ton. Angka ini turun menjadi 37.020 ton pada 2017.

Diakui Ketua Asosiasi Petani Jamur (APJ) Propinsi Jawa Barat Hendra, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan jamur memang masih rendah. 

Tercatat, tingkat konsumsi jamur penduduk Indonesia per tahun baru sebesar 0,18 kg per kapita. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan di Jepang dan Singapura dengan tingkat konsumsi per tahun mencapai lebih dari 1 kg per kapita.

"Memang perlu upaya untuk mendorong bagaimana agar orang mau mengkonsumsi jamur dalam berbagai bentuk. Di samping juga perlu upaya dalam meningkatkan produksi jamur yang saat ini masih rendah," ungkapnya.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Kepala Seksi Hortikultura kabupaten Purwakarta, Tatang Sopian bahwa jamur tiram yang ada saat ini belum mampu memenuhi permintaan pasar.

"Harapannya, usaha jamur tiram yang dijalani saat ini dapat dilakukan dengan sistem inti dan plasma dan diharapkan industri jamur terus bisa berkibar ke mancanegara," tuturnya.

Menggiurkan

Peluang usaha jamur tiram yang menggiurkan seperti ini menarik minat dari Ajang Ruhyat, mantan pekerja pekerja teknik sipil kontruksi.

Dirinya menyadari kondisi fisik yang tidak lagi muda, tidak memungkinkan untuk terus berhadapan dengan kerasnya dunia proyek. Si Putih jamur tiram menjadi pilihan mata pencaharian yang ramah dan menjanjikan baginya serta warga sekitar.

"Ketika menjadi seorang pekerja yang setiap bulan menerima gaji, kemampuan dan dedikasi selamanya hanya untuk memajukan perusahaan. Penghasilan pun hanya dirasakan oleh keluarga. Di situlah saya bercita-cita ketika mendekati usia pensiun mempunyai usaha sendiri. Dari usaha tersebut bisa membantu warga sekitar bahkan untuk seorang penganguran", jelasnya panjang lebar. 

Di balik dinding rumah - rumah berbahan triplek, bernama kumbung atau rumah jamur tersebut banyak bermunculan putih-putih jamur.

Banyak sekali bambu yang tumbuh di tanah air ini. Bentuk kumbung itu sendiri tidak berbeda dengan bangunan rumah, hanya saja di dalamnya terdapat rak-rak untuk menyusun media tanam jamur.

Bentuk dan bahan kumbung bermacam-macam, ada yang terbuat dari bambu, tembok, kayu, paranet, triplek dan sebagainya.

Apabila dilihat ke dalam akan berjejer baglog atau media tanam. Media tanam jamur tiram ini berbentuk silinder, berisi serbuk kayu yang sudah terdapat bibit jamur. Pemandangan tersebut bahkan bisa ditemui setiap pagi bila berkunjung ke rumah Ajang Ruhyat.

Permintaan jamur tiram makin hari kian bertambah. Meski Ajang Ruhyat sudah memiliki tujuh kumbung jamur tiram, namun nyatanya belum mampu memenuhi permintaan pasar tradisional dan modern. Permintaan yang setiap hari terus bertambah membuat Ajang Ruhyat berpikir agar peluang ini jangan hilang dengan percuma.

"Permintaan tiap hari bertambah, nah ini tidak boleh disia-siakan. Makanya saya ajak anak - anak muda untuk ikut bertanam jamur", ujarnya.

Dari hasil analisa usahatani jamur tiram yang dibuat oleh Ajang, hasil perhitungan titik impas (BEP) menunjukan bahwa selama periode 6 tahun (18 kali periode produksi), titik impas akan diperoleh pada harga Rp 4.219,9.

Reporter : Indra Husni
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018