Senin, 18 Februari 2019


Whuzz... Ekspor Sayur Langsung Tancap Gas di 2019

03 Jan 2019, 12:53 WIBEditor : Gesha

Mengawali tahun 2019, komoditas hortikultura tancap gas ekspor | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang --- Tahun baru saja dimulai, sektor pertanian langsung tancap gas dengan mengekspor komoditas hortikultura ke beberapa negara.

Ini terlihat saat Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat melepas ekspor sayuran daun dari Lembang, kabupaten Bandung Barat ke Singapura dan Brunei Darussalam, Kamis (3/1). 

Hadir pada pelepasan ekspor ini anggota Komisi IV DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal dan Erislan, Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi serta Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bandung Barat Ida Nurhamidah.

Amran menjelaskan volume ekspor sayuran segar dari Bandung Barat cukup besar. Mengingat potensi pengembangan sayuran di daerah ini khususnya kawasan pertanian di Lembang sangat luas dan subur serta dukungan dari pemerintah baik pusat maupun daerah sangat tinggi. 

"Dari Bandung Barat, volume ekspor sayuran setahunnya mencapai 1.500 ton setahun atau 3,5 sampai 4 ton per hari. Dulu kita impor dari Australia dan Amerika, tapi sekarang ekspor. Ini luar biasa kita membalikkan dari impor menjadi ekspor ke Singapura, Brunei Darussalam dan Hongkong. Ini serangan balik dari Indonesia", ungkap Amran saat meninjau budidaya sayuran dan melepas ekspor sayuran.

Jenis sayuran daun yang diekspor meliputi komoditas Buncis Kenya, Buncis Super, Edamame, Zuchini, Kyuri, Red Oakleaf dan Radichio.

Jenis sayuran ini dapat tumbuh baik di daerah Bandung dan sekitarnya.

Amran menjelaskan kinerja sektor pertanian berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data BPS, akumulasi kinerja ekspor pangan sejak 2016 hingga 2018 naik 29 persen. Inflasi pangan tahun 2014 sebesar 10,56 persen turun menjadi 1,26 persen tahun 2017.

Kemudian investasi naik 110 persen nilainya Rp 94,2 triliun bahkan kontribusi sektor pertanian meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional (PDB) naik 47,2 persen senilai Rp 1.375 triliun.

"Ini prestasi baru sepanjang sejarah Indonesia. Ekspor kita dorong terus. Prestasi penurunan inflasi ini sulit ditemukan dalam sejarah, biasanya menggerakkan inflasi 0,1 sampai 0,5 persen itu sulit. Kami sudah laporkan ke Bapak Presiden bahwa sektor pertanian berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi", jelasnya.

Dengan ekspor sayuran ini semakin membuktikan bahwa Pemerintah Jokowi-JK sangat berkomitmen meningkatkan produksi dan kualitas komoditas sayuran.

Artinya tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun sanggup mengisi pasar luar negeri.

"Ini membuktikan produk pertanian Indonesia makin diakui dan diterima di luar negeri. Ke depan untuk meningkatkan produksi dan volume ekspor, kami bantu bibit dan lainya", tegasnya.

Menteri Amran juga memberikan apresiasi luar bisa kepada para petani Indonesia.

"Berkat kerja keras semua pihak, Indonesia yang tadinya mengimpor dari Australia dan Amerika, kini mampu memproduksi sekaligus mengekspor ke beberapa negara," tuturnya.

Bahkan supermarket dahulu dikuasai Australia dan Amerika. "Kini kita ekspor. Ini namanya serangan balik dari Indonesia", ujarnya diikuti gemuruh tepuk tangan.

Adapun harga sayuran asal Indonesia di pasar ekspor rata-rata 3,5 Dollar Singapura per kilogram. "Tentu ini menjadi nilai tambah bagi petani sayuran agar makin sejahtera", sambung Amran.

Lebih lanjut Mentan Amran memberikan dukungan besar terhadap prestasi para petani muda. Keberadaan petani muda atau akrab disebut petani milenial ini diyakini mampu melejitkan produksi pertanian.

"Kami merekrut petani milenial. Targetnya 1 juta orang petani muda. Mimpi besar kami yaitu budidaya, pola tanah semua dengan teknologi dan tentunya menggunakan alat mesin pertanian", ujarnya penuh semangat. 

Dirinya membuktikan bahwa minat anak muda di bidang pertanian meningkat tajam.

"Polbangtan naik peminatnya. Dulu hanya diduduki 900 mahasiswa. Sekarang mencapai 13 ribu mahasiswa. DIKTI menyebutkan peminat mahasiswa di pertanian naik 46 persen. Kepada para milenial, kita ajak untuk bertanam", tambahnya. 

Keberadan petani muda menjadi fenomena dan harapan bagi pertanian Indonesia. Tren bertani tidak lagi dimiliki hanya karena profesi warisan dari orang tua.

Bertani menjadi ladang bisnis menjanjikan. Penghasilan bertani bahkan mampu menyaingi gaji PNS bahkan pegawai swasta. 

Ulus Pirmawan, salah satu sosok petani sayur yang sukses dan tidak bisa dianggap sebelah mata. Beliau merupakan seorang tokoh pemuda tani yang berjuang di sektor pertanian.

Kerja kerasnya mampu menunjukkan bahwa petani bisa berkembang. 

"Sesunguhnya sebagai penerus bangsa, kita itu bisa lebih terbuka ke bidang pertanian. Pertanian itu lebih menjanjikan, bisa atur waktu kerja sendiri. Penghasilannya bagus. Pasar dalam negeri masih membutuhlan. Peluang di pasar ekspor juga masih terbuka luas. Indonesia harus jadi lumbung pangan dunia", ucap Ulus menyemangati.

Ekspor Hortikultura Naik Tajam

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi menambahkan ekspor hortikultura pada periode Januari- Desember 2018 naik 11,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 lalu.

Pada periode tersebut ekspor sayuran naik 4,8 persen dan ekspor buah naik signifikan 26,27 persen.

"Jenis buah yang banyak diekspor antara lain nanas, pisang dan manggis. Neraca perdagangan durian kita pada periode tersebut untuk pertama kalinya mencatatkan rekor surplus setelah beberapa tahun selalu defisit," ujarnya.

Kemudian, volume ekspor tanaman hias juga naik 7,03 persen. Nilai ekspor hortikultura sepanjang Januari-November 2018 mencapai Rp. 5,69 Triliun.

Terkait ekspor sayuran segar, Suwandi menegaskan pihaknya akan terus mendorong perbaikan teknologi budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Hal ini dimaksudkan agar menghasilkan produk yang layak konsumsi dan mendukung peningkatan gizi masyarakat. 

“Potensi produksi sayuran kita mengisi pasar ekspor masih terbuka luas. Kita tinggal tingkatkan lagi kualitas produksi dan penanganan pasca panennya, mengingat tuntutan konsumen makin menghendaki sayuran yang fresh dan menyehatkan", tukasnya.

 

Reporter : Dessy Puspitasari
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018