Senin, 22 April 2019


Bulog Bidik Pasar Beras Luar Negeri

22 Jan 2019, 17:13 WIBEditor : Yulianto

Pekerja sedang bersiap mengangkat beras Bulog di salah satu mitra Bulog di Lampung | Sumber Foto:Yulianto

Ekspor beras akan dilakukan ke sejumlah negara tetangga pada pertengahan tahun 2019 mendatang

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Perum Bulog mulai membidik pasar beras luar negeri, terutama di pasar Asean. Rencana tersebut ditargetkan bisa terealisasi pada pertengahan tahun 2019 mendatang.Hal itu terungkap saat rapat kerja,  Kementerian Pertanian dengan Komisi IV DPR RI (21/1) yang juga dihadiri Direksi BUMN sektor pertanian serta kepala dinas dari sepuluh wilayah sentra padi.

Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengatakan, Bulog menargetkan ekspor beras ke sejumlah negara tetangga  pada pertengahan tahun 2019 mendatang. Target ini diprediksi akan berlangsung seusai panen raya pertengahan April hingga akhir Mei 2019.

"Makanya kita targetkan Januari sampai  April kita akan menyerap 1,8 juta ton beras dari petani. Kalau ditambah dengan sisa beras kita hasilnya bisa lebih dari 4 juta ton, karena kita masih punya sisa 2,1 juta ton," kata Buwas.

Menurut Buwas, alasan lain dari ekspor ini adalah soal kapasitas gudang Bulog yang hanya menampung 3,6 juta ton. Jika dipaksakan, maka hasilnya bisa merusak beras secara perlahan. Untuk itu, ekspor merupakan langkah tepat untuk efisiensi dan menjamin pengawasan.

"Jadi, untuk mengawasi kelebihan itu, saya bekerjasama dengan beberapa menteri, termasuk Menteri Pertanian kita harus berupaya ekspor beras ke beberapa negera. Sudah kita petakan dan  kita juga sudah membangun komunikasi, ternyata mereka juga membutuhkan beras," katanya.

Meski demikian, Buwas mengaku belum bisa menjelaskan secara detail berapa total beras yang akan diekspor. Kemungkinan besar, tahap awal yang akan dikirim sekitar kurang lebih 100 ribu ton.

Kita lihat perkembanganya nanti. Yang pasti bagaimana caranya supaya petani tidak dirugikan. Artinya disaat gabah harganya tinggi petani juga harus bisa jual dengan nilai jual yang tinggi. Disaat panen raya harus kita serap. Intinya kita berprinsip petani harus untung dan jangan dirugikan," tuturnya.

Buwas juga menyatakan sangat hati-hati dalam menjalankan fungngi impor. Untuk komoditas jagung, ia menyampaikan Bulog mengimpor berdasarkan pesanan dan kebutuhan pengguna. Kami  tidak menjualnya di pasar bebas dan sangat selektif dalam pendistribusiannya. Bulog tidak ingin impor yang dilakukan merugikan petani jagung," ujarnya.  Bahkan Bulog berkomitmen menyerap jagung petani saat panen raya nanti.

 

Reporter : Yuli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018