Jumat, 22 Februari 2019


Ekspor Salak Kian Meledak

12 Peb 2019, 12:01 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Suwandi (dua dari kanan) saat mengunjungi petani salak di Sleman | Sumber Foto:Humas Kementan

Saat ini ekspor salak banyak mengisi pasar di Asia dan beberapa negara lainnya

TABLOIDSINARTANI.COM, Sleman---Salak menjadi salah satu komoditas hortikultura yang telah mampu menembus pasar global. Pasar Asia sudah menjadi langganan salak Indonesia. Bahkan tahun lalu, ekspornya naik 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Bangsa Indonesia meski bersyukur, karena salak atau yang kerap dikenal dengan sebutan snack fruit bisa tumbuh subur di tanah Indonesia dan tidak dimiliki negara lain. Berbagai jenis varietas banyak ditanam petani dalam negeri, misalnya Salak Pondoh, Nglumut, Gula Pasir, Padang Sidempuan dan Sari Intan 48.

"Saat ini ekspor salak banyak mengisi pasar di Asia dan beberapa negara lainnya,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi saat berkunjung ke salah satu sentra produksi salak yakni Kecamatan Tempel, Sleman, Senin (11/2).

Dari data BPS, ekspor salak 2018 sebesar 1.233 ton naik 28 persen dibandingkan 2017 sebesar 965 ton. Adapun negara tujuan ekspor salak yakni China, Kamboja, Malaysia, Singapura, Thailand, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Timor Leste, Belanda, Qatar, Hongkong, Jerman dan Inggris.

Saat ini diperkirakan luas lahan salak 2018 sekitar 23.204 hektar (ha) dengan produksi 983 ribu ton. Lahan tersebut tersebar di sentra di Kabupaten Sleman, Magelang, Banjarnegara, Tapanuli Selatan, Karangasem dan daerah lainnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Edy Sri Harnanto mengatakan terdapat 2.300 ha salak di Sleman yang melibatkan 11.500 rumah tangga petani dengan produktivitas 10 kg/pohon/tahun. Jenis salaknya yakni pondoh super kualitas ekspor dan pondoh menggala untuk pasar domestik. "Diharapkan ekspor salak Sleman tahun depan meningkat lagi seiring perawatan kebun dan sudah ada packaging house-nya," ujarnya.

Sementara itu, Haryanto dari Kelompoktani Sumber Rejeki Desa Mardikorejo, Kecamatan Tempel Sleman mengatakan satu kelompok tani di daerahnya mengelola 10 ha salak. Untuk pemasarannya selama ini tidak ada masalah.

Bahkan kelompok taninya bersama asosiasi sudah bermitra dengan pengusaha yang mengekspornya ke China dan Kamboja. Volumenya mencapai 200-400 ton/tahun. Untuk harga, Haryanto mengatakan, di tingkat petani Rp 7.500-8.000/kg untuk grade-B, dengan isi 14-16 butir/kg. Untuk kualitas ini sudah masuk kelas ekspor. Untuk grade-A isi 12 butir/kg, harganya  lebih mahal lagi, sedangkan untuk grade borongan bisa lebih murah," tuturnya.

Reporter : Dessy Puspitasari
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018