Kamis, 18 Juli 2019


Sinergi Bersama Tingkatkan Ekspor Sarang Walet Kalimantan Barat

21 Mar 2019, 06:24 WIBEditor : Gesha

Ekspor sarang walet dari Indonesia terus menggeliat | Sumber Foto:HUMAS KARANTINA

Dari data pusat Barantan, total ekspor Nasional sarang burung walet pada 2018 tercatat dikirim ke 27 negara, dengan total volume sebanyak 1.591,47 ton. Khusus ekspor tujuan Tiongkok terdapat 21 perusahaan yang teregistrasi.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Ketapang --- Kementerian Pertanian lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) bersama Komisi IV DPR RI lakukan kunjungan ke eksportir walet di Ketapang, Kalimantan Barat.

Tujuan kunjungan tersebut adalah melakukan sinergi antara lembaga legislatif dan eksekutif serta para petani dan eksportir sarang burung walet untuk meningkatkan nilai tambah bagi para pelaku usaha lewat peningkatan ekspor komoditasnya ke manca negara.

"Kami Badan Karantina Pertanian, selama ini support penuh eksportir walet, bahkan kami juga dorong eksportir agar bisa penuhi persyaratan SPS, seperti ke Tiongkok," kata Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan, Agus Susanto saat dampingi tim Komisi IV DPR RI di Kelurahan Sukaharja Kecamatan Delta Pawan, Ketapang.

Menurut database Barantan, ekspor sarang burung walet dari Kalimantan Barat pengirimannya lewat Pelabuhan Sungai Dwikora, Bandara Supadio dan Bandara Rahadi Oesman Ketapang.

Ekspor langsung dari Kalbar tercatat pada 2015 sebanyak 597,5 kg (Rp 14,9 miliar), 2016 sebesar 743,86 kg (Rp 18,5 miliar), sedangkan hingga 2018 pengiriman langsung dari Kalbar mengalami penurunan yaitu pada 2017 sejumlah 145,3 kg (Rp 3,6 miliar), tahun 2018 berjumlah 130,85 kg (Rp 3,7 miliar). Sedangkan hingga Februari 2019 tercatat pengirimansebanyak 102 kg (Rp 2,7 miliar).

Tujuan ekspor sarang burung walet dari Kalimantan Barat diantaranya Amerika Serikat, Hongkong, Malaysia, Singapura, Tiongkok, Taiwan, Inggris, Korea Selatan, Myanmar, Macau dan Jepang.

"Penurunan ini karena dilakukan pemrosesan dulu di wilayah lain, seperti Semarang, Jakarta dan Surabaya, sehingga pengiriman langsungnya berkurang," tutur Agus.

Data Barantan mencatat adanya peningkatan lalulintas pengiriman sarang burung walet antar daerah dari Kalbar yaitu 2015 sebanyak 103,13 ton, 2016 meningkat 123,16 ton, tahun 2017 bertambah menjadi 171,88 ton dan pada 2018 mencapai 225,53 ton.

Agus menyampaikan pada anggota komisi IV DPR bahwa ia yakin, industri sarang walet akan terus naik, mengingat potensi yang ada dan kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Dari data pusat Barantan, total ekspor Nasional sarang burung walet pada 2018 tercatat dikirim ke 27 negara, dengan total volume sebanyak 1.591,47 ton. Khusus ekspor tujuan Tiongkok terdapat 21 perusahaan yang teregistrasi.

Sedangkan secara keseluruhan, data ekspor sarang burung walet Indonesia naik setiap tahunnya yaitu sebagai berikut, pada 2015 sebanyak 700,66 ton (Rp 17,7 triliun), tahun 2016 meningkat sejumlah 769.44 ton (Rp 19,5 triliun), tahun 2017 melonjak dengan total 1.105,76 ton (Rp 38,4 triliun)

Pada 2018 juga mengalami lonjakan sebesar 1.591,47 ton (Rp 40,7 triliun), sedang hingga Februari 2019 ekspor sarang burung walet sudah mencapai 148,44 ton atau senilai Rp 3,8 triliun.

Perrsaingan harga antar negara juga mempengaruhi jumlah ekspor. "Tujuan Tiongkok memang persyaratan karantinanya lebih susah, tapi harganya juga hampir dua kali lipat, kita akan bantu terbaik untuk petani dan eksportir," jelasnya.

Dari data yang ada perbandingan harga antara tujuan Tiongkok dengan negara lain hampir setengahnya, rata-rata tujuan selain Tiongkok harganya berkisar Rp. 25 juta per kg, sedangkan tujuan Tiongkok rata-rata Rp. 40 juta per kg.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Pontianak, Dwi Susilo yang juga hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa selain sarang burung walet, Kalimantan Barat juga punya potensi ekspor komoditas non migas lainnya di bidang pertanian, diantaranya aquatic plant (tanaman aquarium), kelapa bulat, karet lempengan, kelapa parut, cangkang sawit, kayu olahan, lada biji, pinang biji, mengkudu, manggis, bambu, bekatul, jamur, serabut kelapa, menyan, kopi, sapu lidi dan akar pakis.

Dengan tujuan berbagai negara diantaranya Tiongkok, India, Taiwan Venezuela, Amerika, Hongkong, Jepang, Jerman, Korsel, Polandia, Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Mesir, Inggris, Arab Saudi, Malaysia, Singapura dan Thailand.

"Kami yakin, dengan dukungan semua elemen termasuk DPR, DPRD dan daerah, ini semua bisa mendatangkan nilai tambah bagi para petani," ungkap Susilo.

Persyaratan Ekspor

Sementara itu David Ringgo Direktur PT Faicheung Birdnest Industry menyebutkan bahwa saat ini ekspornya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan di Tiongkok.

Ia mengakui bahwa persyaratan sanitary dan phytisanitary yang dipersyaratkan karantina Tiongkok cukup memakan waktu dan tenaga, karena harus dilakukan penilaian langsung dari otoritas Tiongkok, namun pihaknya sudah melewati semua proses tersebut.

Menurutnya fokus saat ini adalah menyediakan bahan mentah sesuai dengan jumlah dan kualitas yang memadai. "Saat ini kami sudah memiliki 8 rumah walet yang teregistrasi di Barantan dan Tiongkok," sebutnya.

Agus menjelaskan bahwa registrasi oleh otoritas karantina Tiongkok memang membutuhkan waktu yang lebih dibandingkan negara lainnya.

Sebelum melakukan ekspor, calon eksportir harus mendaftarkan rumah walet dan rumah pemrosesannya ke Badan Karantina Pertanian lewat aplikasi APIKH (Aplikasi Penetapan Instalasi Karantina Hewan) di apikh.karantina.pertanian.go.id.

Setelah mengupload semua dokumen, tim teknis akan melakukan verifikasi dokumen. Jika dokumen sudah lengkap dan sah, maka akan dilakukan penilaian lapangan oleh dokter hewan karantina di unit pelaksana teknis karantina terdekat.

Jika hasil penilaian lapangan sesuai dan memenuhi aspek higiena dan sanitasi, maka proses selanjutnya adalah review hasil analisan lapangan yang telah dilakukan.

Jika proses sudah sesuai, maka proses selanjutnya adalah rekomendasi Ka Barantan dan proses SK. Jangka waktu penilaian lapangan hingga proses SK kurang lebih selama 8 hari kerja dan SK dapat diunduh langsung lewat APIKH.

"Delapan hari kerja dengan catatan tidak ada kekurangan dan hasil yang tidak sesuai, ini akan mempengaruhi SLA," jelas Agus, pada peserta pertemuan.

Setelah proses SK, Barantan akan mengajukannya ke General Administration of Custom People's Republik of China (GACC) untuk melakukan registrasi dan kunjungan lapangan. "Sekarang pemerintah Tiongkok membatasi pengajuannya hanya dua kali setahun," terangnya.

 

Dalam pertemuan tersebut, Daniel Johan, Wakil Ketua Kolisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, pangan, maritim, dan kehutanan menekankan bahwa industri sarang walet harus membawa manfaat dan nilai tambah buat semua. Tidak hanya bagi eksportir, namun juga bagi para petani pemilik rumah walet. Ia mengapresiasi Kementan, dalam hal ini Barantan karena telah melakukan dorongan secara langsung berupa pendampingan kepada eksportir hingga komoditas tersebut dapat diterima oleh negara tujuan. "Upaya yang sudah dilakukan Kementan sangat bagus, harus kita dukung, kita cari permasalahannya jika ada dan dipecahkan bersama," paparnya.

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018