Sabtu, 24 Agustus 2019


Geliat Produk Pertanian Nusantara di Negeri Sakura

01 Apr 2019, 14:34 WIBEditor : Yulianto

Kakao, salah satu komoditas perkebunan yang cukup tinggi diekspor ke Jepang | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM,Tokyo---Indonesia terus berupaya melakukan penetrasi terhadap potensi pasar ekspor produk pertanian ke Negeri Sakura, Jepang. Bahkan untuk beberapa komoditi, produk pertanian Indonesia telah menguasai 100 persen potensi pasar ekspor Jepang.

Produk pertanian Indonesia dengan potensi ekspor terbesar adalah minyak nabati dan lemak. Lalu disusul lateks dan karet alam, kopi, produk pangan lain, kakao dan produk kakao, rempah-rempah, bahan asal tanaman lain, sisa produk nabati dan hewani, teh & bahan minuman penyegar, kacang-kacangan, bahan pangan asal hewan, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian.

“Ekspor yang paling optimal menyerap pangsa pasar di Jepang adalah lateks dan karet alam, yaitu mencapai 98 persen dari total potensi pasar ekspor di Jepang,” ujar Atase Pertanian KBRI Tokyo, Sri Nuryanti baru-baru ini.

Ekspor terbesar ditempati produk minyak nabati dan lemak serta karet. Ekspor minyak nabati terdiri atas minyak kelapa sawit, minyak kelapa, dan minyak nabati lain termasuk margarin. “Untuk lateks dan karet alam, 100 persen ekspor Indonesia berupa technically specified natural rubber (TSNR), bahan baku untuk pembuatan ban kendaraan bermotor di perusahaan otomotif Jepang,” katanya.

Komoditas ekspor berikutnya adalah kopi, kakao, dan rempah-rempah. Kopi yang diekspor ke Jepang berupa green bean. Ekspor kopi Indonesia baru mencapai 45 persen dari total potensi ekspor.

Sementara itu, ekspor kakao Indonesia ke Jepang sebagian besar telah berupa produk olahan antara lain butter, fat, dan oil, bubuk, pasta, dan sedikit sisanya berupa biji asalan. Jenis rempah yang banyak diekspor ke Jepang adalah lada, kemiri, jahe, panili, kunyit, kayu manis, cengkeh, dan kapulaga. Lada Indonesia menguasai hampir 100 persen pasar Jepang.

“Gambaran ekspor ini di menunjukkan dominasi subsektor perkebunan. Terdapat juga ekspor komoditas hortikultura dan tanaman pangan, namun realisasinya belum optimal,” tambah Sri.

Sumber impor Jepang untuk sayuran beku, kelapa parut, pisang, tepung sagu, cabe, pisang, bunga potong, terung, tomat, jamur, kubis, selada, dan tanaman hias salah satunya adalah Indonesia. Selain itu, Indonesia merupakan sumber potensial bagi Jepang untuk jambu biji, mangga, manggis, pisang, nanas, dan pepaya baik segar maupun olahan.

“Saat ini, realisasi ekspor pisang dan nanas mencapai 99 persen dari potensi ekspor yang ada. Buah yang lain potensinya belum tergarap karena kendala teknis persyaratan keamanan dan kesehatan pangan segar yang diberlakukan Jepang,” lanjutnya.

Ekspor stek dan umbi batang tanaman hias telah optimal. Namun, untuk bunga potong, realisasi ekspor Indonesia baru 44 persen dari total potensi ekspor, sehingga masih perlu ditingkatkan. Jepang merupakan pasar potensial untuk bunga krisan, anggrek, dan dracaena.

Dalam hal produk tanaman pangan dan peternakan, Indonesia bukan pemain di pasar Jepang. Bahkan tidak termasuk di dalam 20 besar negara asal ekspor produk tanaman pangan maupun peternakan di Jepang.

“Berita baiknya, Indonesia telah mampu memenuhi 100 persen potensi ekspor untuk komoditas ubijalar manis di pasar Jepang. Prestasi ini harus menjadi pendorong untuk kinerja ekspor komoditas tanaman pangan yang lain,” imbuh Sri.

Meskipun telah ada lima unit usaha yang memegang ijin ekspor produk olahan daging unggas ke Jepang, realisasi ekspor Indonesia untuk produk peternakan baru mencapai 3 persen dari total potensi ekspor yang ada. Data ekspor menunjukkan 107 pos tarif produk peternakan yang diimpor Jepang dari pasar dunia termasuk Indonesia dan bervariasi mulai dari binatang hidup hingga produk olahan (edible) dan sisa produk yang tidak dapat dimakan (unedible).

Tarif impor untuk produk peternakan Indonesia yang dikenakan Jepang tergolong tinggi, rata-rata mencapai 23,6 persen (ad valorem). Terdapat 8 pos tarif untuk susu dan produk susu dengan tarif impor di atas 100 persen, bahkan dua di antaranya lebih dari 200 persen. Namun, ada 48 pos tarif yang dikenakan 0 persen tarif impor. Hal ini berlaku untuk jeroan, telur, kulit, dan bulu unggas termasuk kalkun, itik, dan burung; daging dan jeroan dari domba, kuda, kambing, kelinci, serta marmot; dan beberapa produk yang termasuk kategori bibit.

Tarif impor untuk produk daging dan olahan daging yang diberlakukan Jepang untuk Indonesia beragam, dari rendah ke tinggi, yaitu berkisar dari 7 persen untuk olahan daging dan jeroan itik, hingga 25 persen untuk olahan daging dan jeroan sapi.

Tarif bukanlah hambatan ekspor bagi produk peternakan. Kesulitan menembus pasar ekspor Jepang adalah memenuhi standar keamanan dan kesehatan pangan. Karena itu, apabila suatu produk/komoditas telah diterima di pasar Jepang, maka akan lebih mudah diterima di pasar ekspor negara lain.

Bagaimana persaingan komoditas pertanian Indonesia dengan negara lain di Pasar Negeri Sakura? Lanjutkan baca halaman berikutnya.

 

Reporter : Kuntoro Boga Andri
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018