Kamis, 23 Mei 2019


Begini Cara Jabar Antisipasi Lonjakan Harga Pangan Ramadhan dan Jelang Lebaran

15 Mei 2019, 16:15 WIBEditor : Gesha

Sampai April 2019 ketersediaan ayam potong di Jabar sebanyak 100.059 ton. Sedangkan kebutuhannya 53.754 ton, sehingga terjadi surplus. | Sumber Foto:ISTIMEWA

“Memang ada sejumlah bahan pangan pokok selama Ramadhan dan jelang Lebaran mulai naik harganya. Namun, ada juga bahan pangan pokok yang harganya stabil dan ketersediaannya melebihi kebutuhan atau surplus,” papar Kusmayadi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Kebutuhan bahan pangan seperti telur, ayam potong, daging (sapi) dan sejumlah bahan kebutuhan pangan lainnya menjelang Lebaran tahun ini diharapkan aman dan terkendali. Bahkan, untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat (Jabar) sudah melakuan stabilisasi harga dengan menyeimbangkan ketersediaan dan kebutuhan pangan konsumsi rumah tangga, hotel, restoran dan katering (horeka).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat (Jabar), Kusmayadi mengatakan, stabilisasi harga dilakukan dengan menyeimbangkan penyediaan bahan pangan dan kebutuhan masyarakat sudah dilakukan sejak Januari-April 2019.

“Memang ada sejumlah bahan pangan pokok selama Ramadhan dan jelang Lebaran mulai naik harganya. Namun, ada juga bahan pangan pokok yang harganya stabil dan ketersediaannya melebihi kebutuhan atau surplus,” papar Kusmayadi ketika dihubungi tabloidsinartani.com

Dirinya membeberkan ketersediaan cabai keriting pada Januari-April 2019 sebanyak 118.912 ton. Sedangkan kebutuhanya terjadi lonjakan sebanyak 154.262 ton.

Sehingga, keberadaan cabai keriting hingga April 2019 terjadi defisit sebanyak 35.350 ton. “Karena itu harga cabai keriting  sempat naik mencapai 10 ribu-Rp 15 ribu/kg,” ujar Kusmayadi.

Namun, untuk harga cabai merah besar selama Ramadhan 2019 malah mengalami penurunan hingga Rp 2.500/kg.

Sebab,  ketersediaan cabai merah besar Januari-April sebanyak 30.589 ton. Sedangkan  kebutuhan sebanyak 10.452 ton, sehingga terjadi surplus 20.137 ton. 

“Terjadinya penurunan perminataan cabai merah tersebut kami duga dikarenakan  banyak restoran padang yang mengurangi jatah kebutuhan cabai merah besar untuk membuat rendang dan masakan padang  selama Ramadhan,” paparnya.

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas bawang merah yang sempat menyentuh di angka Rp 32 ribu/kg. 

Tercatat ketersediaan bawang merah di sejumlah pasar di Jabar pada Januari-April sebanyak 16.566 ton. Sedangkan kebutuhannya melonjak sampai 19.578 ton. Sehingga, untuk bawang merah ini terjadi defisit sebanyak 3.012 ton.

 

“Untuk memenuhi kebutuhan itu, kami sempat mendatangkan pasokan dari Brebes dan sekitarnya. Agar tak terjadi lonjakan harga jelang Lebaran tahun ini, kami akan terus lakukan stabilisasi harga melalui operasi pasar (OP) dan mendatangkan pasokan dari sejumlah daerah produsen seperti Brebes,” kata Kusmayadi.

Telur dan Daging Sapi

Sesuai prognosa yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Prov. Jabar,  akan terjadi kenaikan harga terhadap sejumlah bahan pangan jelang Lebaran tahun ini.

Selain cabai merah, bawang merah, dan bawang putih, bahan pangan seperti telur dan daging sapi diperkirakan akan terjadi peningkatan kebutuhan.  Sehingga, harga sejumlah bahan pangan pokok tersebut akan naik.

Sampai April 2019, jumlah daging sapi yang disimpan di rumah potong hewan sebanyak 20.730 ton.

Sedangkan kebutuhannya hingga April 2019 tercatat sebanyak 19.397 ton, atau masih surplus sebanyak 1.333 ton.

Kendati daging sapi ini masih surplus, menurut prediksi Kusmayadi, satu minggu jelang Lebaran akan terjadi lonjakan permintaan daging sapi.

Sehingga harga daging jelang Lebaran nanti diperkirakan akan naik. “Kalau saat ini harganya Rp 110 ribu-130 ribu/kg,” ujarnya.

Nah, untuk mengantisipasi terjadi kenaikan harga daging jelang Lebaran tahun ini, pihaknya sudah melakukan antisipasi.

Diantaranya menyiapkan sapi di 15 feedloter (tempat penggemukan hewan) yang populasinya 80.500 ekor.

“Kalau terjadi lonjakan permintaan, persediaan sapi di feedloter ini bisa kita potong. Kalau surplus, maka sisanya bisa disitribusi ke daerah lain, seperti Jakarta,” papar Kusmayadi.

Kusmayadi juga mengatakan, untuk telur ayam sampai April 19 sudah terjadi peningkatan permintaan. Dari ketersediaan 20.122 ton sampai April 2019, kebutuhaannya melonjak sebanyak 53.626 ton.

“Selama Ramadhan banyak usaha skala rumah tangga hingga industri pangan yang membuat kue dan camilan lainnya. Sehingga kebutuhan telur meningkat tajam. Bahkan, harganya pun sempat naik sampai Rp 26 ribu/kg,” jelas Kusmayadi.

Menurut Kusmayadi,  untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga telur jelang Lebaran nanti pihaknya sudah melakukan operasi pasar (OP) dan bahkan saat ini sudah disiapkan bazar murah yang menjual telur dengan harga terjangkau.

Ia juga mengatakan, meski di kawasan Bandung  Selatan sudah mampu memproduksi ayam potong sebanyak 800 ribu ekor/hari, diperkirakan 1 minggu jelang Lebaran nanti akan terjadi kenaikan harga.

Mengapa demikian? Menurut Kusmayadi, kenaikan harga tersebut bukan karena minimnya pasokan, tapi dikarenakan tingginya cost distribusi.

“Ayam potong yang dipasok dari Priangan Timur kalau terjadi kemacetan di Genteng, jalur distribusi akan berputar melalui Garut. Karena harus berputar arah, maka cos per Km-nya pun akan tinggi,” jelasnya.

Menurut Kusmayadi,  sampai April 2019  ketersediaan ayam potong di Jabar sebanyak 100.059 ton. Sedangkan kebutuhannya 53.754 ton, sehingga terjadi surplus.

“Meski sampai April 2019 terjadi surplus, kami tetap melakukan antisipasi agar distribusinya lancar. Sehingga,kami selalu bekerjasama dengan Satgas Pangan dan  Polda Jabar, agar truk pengangkut bahan pangan dibolehkan tetap jalan sampai Lebaran,” jelas Kusmayadi.

Guna mengantisipasi lonjakan harga bahan pangan, khususnya daging, telur, ayam, bawang merah, bawang puih dan cabai, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Prov. Jabar jelang Lebaran tahun ini bekerjasama dengan Bulog Divre Jabar  dan pihak terkait untuk melakukan OP.

Selain melakukan OP, pihaknya bersama pihak terkait juga menggelar pasar murah dan bazar di sejumlah pasar tradisional.

 

Dirinya juga berharap agar pasar modern jangan menimbun bahan pangan jelang lebaran tahun ini. Diharapkan, menyimpan bahan pangan sesuai kebutuhan.

Begitu juga, bagi masyarakat diharapkan belanja bahan pangan sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018