Selasa, 17 September 2019


Ijin Kian Dipermudah, Pontianak Pacu Ekspor Produk Pertanian

25 Mei 2019, 04:53 WIBEditor : Gesha

Pada 2018, ekspor kelapa parut kering mencapai Rp 121, 8 miliar yang diekspor ke 48 negara tujuan ekspor. | Sumber Foto:HUMAS BARANTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pontianak --- Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) kembali melepas ekspor komoditas pertanian senilai puluhan miliar rupiah.

Kali ini 4 komoditas pertanian senilai Rp 24,1 miliar diekspor ke berbagai negara. Adapun keempat komoditas pertanian tersebut yaitu karet lempengan tujuan China, India, Korea senilai Rp 9,1 miliar; kelapa bulat tujuan China senilai Rp 1,4 miliar; kelapa parut kering tujuan Brazil, Arab Saudi, Turki dan Polandia senilai Rp 2,4 miliar; lada tujuan Vietnam senilai Rp 6,2 miliar dan pinang biji tujuan Bangladesh, India, Thailand dan Pakistan senilai Rp 4,8 miliar.

Kepala Karantina Pontianak, Dwi Susilo menyebutkan data sistem otomasi Karantina Pontianak, IQFAST, diketahui bahwa total nilai ekspor komoditas pertanian pada 2018 mencapai Rp 2,8 triliun, dengan ekspor karet menyentuh angka Rp 1,6 triliun.

"Karet masih menjadi komoditas ekspor unggulan di Kalimantan Barat (Kalbar). Tahun lalu karet menyumbang lebih dari setengah total nilai ekspor komoditas pertanian, " ujar Kepala Barantan, Ali Jamil. Karet yang diekspor dari Pontianak ini bukan karet mentah, melainkan sudah karet olahan berupa karet lempengan.

Berdasarkan data FAO 2017, Indonesia merupakan negara produsen karet tingkat kedua setelah Thailand, dengan produksi mencapai 3.629.544 ton.

Dan sesuai dengan kesepakatan International Tripartite Rubber Council (ITRC) bahwa sejak 1 April hingga 31 Juli 2019 mendatang, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi ekspor karet mentah sebesar 240 ribu ton untuk menaikkan harga karet alam dalam negeri dari US$ 1,4 menjadi US$ 2 per kilogram.

Menurut Jamil, banyaknya perusahaan pengolahan karet di Kalbar ini cukup mendukung kondisi pembatasan ekspor karet mentah di tingkat internasional ini.

"Berkurangnya ekspor karet mentah ini tidak akan banyak berpengaruh pada petani dengan banyaknya perusahaan dalam negeri yang menyerap karet mentah untuk diolah sebelum diekspor kembali. Justru hal ini dapat mendatangkan nilai tambah dan daya saing karet Indonesia," tambahnya.

Jamil menerangkan bahwa sebenarnya karet lempengan yang sudah diolah ini bukan termasuk media pembawa Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK), tapi yang menjadi media pembawa OPTK-nya itu terletak pada palet yang membungkus komoditas karet lempengan tersebut, ini yang wajib diperiksa oleh petugas Karantina Pontianak.

“Namun karena negara tujuan ekspor karet lempengan tersebut mempersyaratkan adanya Phytosanitary Certificate (PC) dari karantina, maka kami pun memfasilitasi pemeriksaan dan penerbitan PC tersebut agar komoditas ini tidak ditolak oleh negara tujuan ekspor,” pungkasnya.

Komoditas olahan lainnya selain karet lempengan, ada kelapa parut kering yang juga menjadi unggulan. Pada 2018, ekspor kelapa parut kering mencapai Rp 121, 8 miliar yang diekspor ke 48 negara tujuan ekspor.

"Di 48 negara tersebut kelapa parut kering ini digunakan sebagai bahan baku pengganti tepung, ini sangat prospektif sekali. Saya berharap pemerintah Kalbar dapat melihat potensi ekspor ini," harapnya.

Asisten I Sekretariat Daerah Kalbar, Alexander Rombonang menjelaskan bahwa pemerintah Provinsi Kalbar sangat mendukung program akselerasi ekspor yang dilakukan oleh Kementan.

“Karena hal ini sejalan dengan pembangunan daerah yang sedang kami lakukan untuk mendorong naiknya potensi ekspor komoditas pertanian di Kalbar. Saat ini kami sedang melakukan pembangunan pelabuhan ekspor baru di daerah Kijing, yang kapasitas pelabuhannya lebih besar dari Pelabuhan Dwikora ini,” ungkapnya. 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018