Wednesday, 14 April 2021


Paradigma Baru untuk Capai Swasembada Gula

20 Mar 2021, 19:14 WIBEditor : Ahmad Soim

Komoditas tebu | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjenbun

 

Oleh: Soedjai Kartasasmita 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Industri gula di tingkat internasional sudah banyak mengalami perubahan paradigma baik on-farm maupun off-farm.

On-farm sudah banyak menggunakan teknologi 4.0 sedang off-farm pabrik gula sudah berubah menjadi penghasil multi product.

Banyak perkembangan baru lainnya dalam industri gula yang bisa  memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan industri gula di masa depan.

Demi untuk menjaga kesehatan konsumsi gula pasir di banyak negara barat diwajibkan untuk mengurangi konsumsi gula pasir  sebagai tindakan preventif untuk menurunkan penderita obesitas dan diabetes. Penggantinya adalah pemanis alami seperti stevia atau yang tidak mengandung bahan kimia seperti aspartame.

BACA JUGA:

Pemanasan global yang diakibatkan karena terjadinya perubahan iklim bisa mengacaubalaukan produksi gula seperti yang dialami Thailand dua tahun yang lalu disebabkan kemarau panjang. Kondisi itu membuat anjloknya produksi gula Thailand.  Eonomi Thailand ikut terganggu karena ekonominya banyak tergantung dari ekspor gula.

Ekspansi dan intensifnya negara-negara eksportir gula seperti India, Thailand dan Brazil yang berusaha mempengaruhi kebijakan negara-negara importir gula dalam menentukan policynya perlu diperhitungkan.

Contohnya adalah Indonesia. Negara kita tercatat sebagai importir gula nomor 3 terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan China. Negara-negara pengekspor gula berusaha memanfaatkan potensi impor gula Indonesia.

India misalnya tahun ini merencanakan ekspor gula sebanyak 4,3 juta ton dan mereka sudah melirik Indonesia sebagai negara tujuan ekspornya. Brazil sudah menyisihkan raw sugar sebanyak 10 juta ton ke negara Asia termasuk Indonesia.

Melihat perkembangan-perkembangan terkini itu kiranya Pemerintah dan para stakeholder perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut. Pertama, dukungan dan kemauan politik Pemerintah untuk mendorong kenaikan produksi gula Indonesia.

Kedua, penelitian untuk kegiatan on-farm dan off-farm perlu ditingkatkan dan didukung oleh Pemerintah dan para stakeholder.

Ketiga, policy terkait kegiatan on-farm adalah sangat vital karena hingga sekarang masih berlaku istilah : money is made in the field. Artinya bahwa kegiatan apapun yang dilakukan di industri gula tidak akan mencapai sasarannya kalau perkembangan di lapangan tidak diperhatikan.

Pada kegiatan off-farm perlu diciptakan industri baru yang memanfaatkan ampas tebu dan limbah lainnya supaya tingkat profitabilitas bisa melonjak.

Keempat, pendidikan SDM juga ikuit menentukan apakah policy yang saya sebutkan diatas bisa menjadi success story atau tidak.

Dengan kata lain, dukungan dari Pemerintah dan para stakeholder adalah mutlak perlu jika kita ingin swasembada gula. Litbang (R&D) sangat vital perannya kalau Indonesia ingin mencapai swasembada gula dan mengembangkan industri baru yang bersumber dari penggunaan ampas tebu dan limbah lainnya.

Perubahan iklim juga ternyata menimbulkan problem baru karena munculnya hama penyakit yang tidak dikenal sebelumnya. Problem baru ini tidak bisa diatasi kalau R&D nya lemah.

Kualitas SDM perlu ditingkatkan termasuk perubahan pandangan supaya tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan yang keliru.

Time line untuk mencapai swasembada gula diharapkan bisa fleksibel karena sering terjadi perkembangan baru yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, contohnya pandemi Covid 19.

Jangan sampai ada pemikiran untuk ekstensifikasi karena ini bisa memunculkan tuduhan bahwa kita tidak peduli pada lingkungan termasuk tuduhan deforestasi.

----

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018