Friday, 18 June 2021


Desa Zaman Now: Imajinasi Kang Samad

17 May 2021, 08:41 WIBEditor : Ahmad Soim

Zaman Now | Sumber Foto:google.com

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Samad dan Paimin adalah teman sepermainan waktu di Sekolah Dasar di desa Parakan. Sejak kecil Samad adalah anak pemberani, agak galak dan  disegani oleh teman sekolahnya.  Nasib membedakan keduanya. Samad jadi buruh tani dan tukang ojeg, sedangkan Paimin berpendidikan sampai mendapat gelar Sarjana, Magister dan jadi peneliti. Mereka bertemu dalam survey Sosial Ekonomi.

Samad menoleh, menatap tajam dan melemparkan pertanyaannya.

“Nenek Salmah dan Abah Rosyid sudah lama meninggal, lalu mau apa kamu sekarang ke sini. Lihat kuburan?”

“Aku mau survey di sini. Nanti sekalian ziarah juga,” jawab Paimin.

“Hah? Survey? Apa itu? Kayak sensus penduduk itu, ya?”

“Ya semacam itu.”

“Aku malas ditanya macem-macem seperti sensus itu. Ingat, ya. Nanti jangan tanya-tanya aku, ya. Kalau pun perlu jawaban, bilang saja kesimpulannya: “Miskin”. Gak usah tanya ini-itu, ha ha…….”

“Ya, sebenarnya surveyku mirip-mirip begitulah. Aku akan banyak tanya macem-macem sama penduduk desa. Pertanyaannya banyak, jadi aku akan di desa selama dua minggu.”

“Memangnya apa pekerjaanmu?”

“Peneliti,” jawab Paimin pendek.

“Wah, jadi kalau kamu mengerjakan sesuatu mesti teliti, ya. Ingat itu. Gak boleh sembarangan. Kalau aku boleh memilih pekerjaan, aku mau jadi polisi saja.”

“Kenapa memangnya?”

“Dari dulu kan aku terkenal galak. Mukaku kereng dan persegi. Kumisku lumayan. Cocok kalau aku jadi polisi. Aku tahu, kamu takut sama aku, kan?” kata Samad sambil menoleh ke belakang.

Paimin tertawa. Motor terus menggerung melaju di jalan mulus. Jalan yang dulu berupa jalan tanah berbatu itu sekarang sudah diaspal. Walaupun bukan kualitas nomor satu.  

“Tapi jalan ini lebih dari memadai. Mungkin tidak menggunakan aspal kelas satu yang keras dan tidak meler-meler kalau terkena panas. Aspal  murah bikin jalan jadi bergelombang ketika terinjak ban mobil. Tapi untuk sementara, jalan ini bolehlah. Toh tidak ada truk besar masuk ke sini,” Paimin membatin.

“Cukup bagus sehingga kendaraan roda dua dan roda empat sudah banyak hilir mudik mengangkut orang dan barang,” lanjutnya.

Paimin memperhatikan kalau delman sudah menghilang. Dulu alat angkutan utama di daerah ini adalah delman, yang dalam bahasa lokal disebut per atau kahar. Mungkin selain lambat, harga kuda dan delmannya lebih mahal dari motor roda dua yang sangat gampang diperoleh melalui kredit. Belum lagi kalau memelihara kuda akan repot mencari rumput dan membuang kotorannya. Penumpang juga lebih suka bau bensin dari pada bau kotoran kuda. Kalau kuda mati, perlu biaya untuk mengubur bangkainya. Kalau motor rusak, besinya masih laku dijual kiloan.  

Delman sudah menjadi nostalgia, bukan lagi alat produksi. Sekarang kereta berkuda itu dipakai oleh orang untuk bersenang-senang, bukan untuk orang yang bekerja dan berkeringat mencari duit. Ini perubahan yang tidak bisa ditahan-tahan. 

“Walaupun tetap saja menggunakan istilah mesin dengan “sekian” tenaga kuda. Rupanya kuda tetap jadi standar tenaga,” pikirnya sambil tersenyum sendiri.

“Sekarang, delman itu alat angkutan buat orang yang sedang membuang duit, bukan yang sedang mencari duit,” katanya pada dirinya sendiri. 

Motor berbelok di tanjakan melewati makam yang luas di pinggir desa. Dulu makam ini sangat menyeramkan. Banyak pohon tinggi, gelap dan sering sekali orang melihat ada ular besar di sekitar itu.   Sekarang pohon-pohon itu sudah ditebang sehingga makam menjadi terang benderang seperti di makam pahlawan. Dari jalan terlihat nisan tua dan baru memenuhi makam. Batas makam dengan jalan yang dulu berupa tanggul tanah, sekarang sudah dipasang tembok batu bata yang rapi. 

BACA JUGA:

“Makam ini kelihatannya sudah penuh ya, Kang,” tanya Paimin.

“Ya. Kita sudah kekurangan lahan untuk tempat  pemakaman. Makam sudah penuh sesak, padahal makam ini luas, jadi bayangkan berapa banyak orang yang mati.”

“Betul, Kang.” 

“Ingat adikku yang mati karena malaria? Dia dikuburkan di sini. Tapi sekarang umur orang kelihatannya semakin panjang. Apakah menurut kamu karena lebih makmur? Kematian waktu melahirkan juga berkurang, mungkin karena Paraji juga sudah dapat pelatihan. Sekarang orang melahirkan lebih banyak pergi ke bidan.”

“Tapi kok bisa secepat itu makam ini jadi penuh, Kang? Waktu aku di sini makam ini masih banyak yang kosong.”

“Cukup banyak orang mati sesudah kamu pindah ke Jakarta. Bagaimana kamu ini. Makanya banyak orang kaya dari Bandung dan Jakarta yang berasal dari desa ini yang membeli tanah buat pemakaman keluarga.”

“Padahal mereka tidak tinggal di sini, kan?”

“Mereka tinggal di sana di kota. Bekerja di kota, kawin sama orang kota, punya rumah di kota. Tapi banyak yang mau dikuburkan di kampungnya kalau mereka mati. Dekat leluhurnya. Menyedihkan ya. Desa sekarang hanya jadi tempat tinggal orang tua, orang kurang beruntung dan orang mati.”

“Orang muda hampir semuanya pindah ke kota. Yang pintar, yang muda, yang kaya, semuanya pindah ke kota.”

“Jangan-jangan kamu juga sudah kaya sesudah pindah ke Jakarta, Paimin.”

“Nggak, Kang. Baru keinginan saja. Dari dulu keinginan sih ada tapi belum kesampaian.”

Paimin tidak menjawab. Hanya tertawa.

“Tapi bagaimana, apakah kamu sekarang sudah kaya?”

“Ah, jadi peneliti sih gak bisa jadi kaya. Kalau mau kaya jangan sekali-kali milih jadi peneliti.”

“Kok kamu ambil kesimpulan sembarangan? Kamu sudah teliti itu, hah?”

“Nggak, aku cuma mengamati saja dan berdasarkan pengalaman. Semua kawan-kawanku yang jadi peneliti nggak ada yang kaya. Jarang yang punya mobil dan rumah bagus.”

“Eh, kamu gak boleh ambil kesimpulan seperti itu. Kamu harus teliti dulu, kan kamu peneliti, ha ha …. Jadi peneliti gak boleh ngomong tanpa dasar. Jangan-jangan kamu saja yang malas dan kurang kreatif.”

“Aku dapat penghargaan sebagai peneliti berprestasi,” kata Paimin.

“Dapat penghargaan, tapi miskin. Begitu? Gak bahagia? Tapi ngomong-ngomong, kalau kamu tahu peneliti itu tidak bisa kaya, kenapa kamu pilih jadi peneliti? Hah? Sekolahnya lama, percuma saja kalau gak kaya. Buat apa sekolah? Makanya aku gak mau jadi peneliti. Kan aku sudah bilang mau jadi polisi saja.”

“Aku jadi peneliti karena nasib. Gara-gara sekolah terlalu tinggi, gak ada perusahaan mau menerimaku kerja. Mereka pikir, aku terlalu pintar. Bakal minta gaji tinggi. Pekerjaan yang cocok buatku cuma jadi dosen atau peneliti. Mereka  tidak pernah jadi kaya, apalagi kalau sudah pensiun ha ha ….”

“Ah menurutku kamu keminter aja. Aku pikir kamu yang terlalu bodoh. Kalau kamu merasa pintar, kamu kerjakan saja sesuatu yang menghasilkan uang tanpa digaji orang lain. Bodoh kamu itu. Atau kamu takut? Gak bisa mengerjakan yang lain kecuali meneliti. Bener, kan?”

“Jangan-jangan Kang Samad benar. Seharusnya aku tidak mengharapkan kerjaan yang digaji orang. Punya boss itu repot. Tapi sekarang sudah telat untuk ganti pekerjaan, Kang. Umur 50 tahun sih sudah dekat-dekat waktunya pensiun.”

“Ini contoh kurang bagus. Sudah sekolahnya lama dan susah. Tapi tidak bisa kaya. Mana ada orang mau sekolah tinggi-tinggi kalau begitu. Bagaimana?”

“Salahnya cuma satu, Kang. Aku jadi peneliti. Titik.”

“Ha ha ha….”

“Kang Samad juga terlambat kalau mau jadi polisi. Sekarang umur berapa, Kang?”

“Limapuluh dua.”

“Wah, artinya kalau ngelamar jadi polisi, itu langsung pensiun, tuh.”

“Gak apa-apa langsung pensiun, pokoknya jadi pensiunan polisi ha ha ha….”

“Tapi memangnya kalau jadi polisi bisa kaya?”

“Nggak tahu juga. Kalau lihat asramanya sih aku gak yakin bisa kaya. Tapi paling tidak, terlihat gagah. Aku suka seragamnya. Yang pasti hidupku akan lebih baik dari tukang ojeglah. Aku cukup puas.” 

Mereka tertawa terbahak-bahak ketika bercerita soal macam-macam dengan bebasnya. Motor sedikit menanjak lalu melewati jembatan yang melintasi Cisanggarung. Jembatan ini sudah sangat tua tetapi masih tegak berdiri dengan gagahnya. 

Seingat Paimin, jembatan ini tidak pernah rusak sejak dibangun. Sangat kuat. Pada saat banjir besar yang menghanyutkan banyak rumah dan pohon, jembatan ini tetap berdiri dengan kokohnya. Dua tiangnya yang besar di tengah sungai lebar itu dihantam batu, batang pohon dan barang berat yang hanyut, tetapi tiang itu tidak bergeming.

“Beda sekali dengan jembatan-jembatan yang rusak dan hanyut akibat banjir pada akhir-akhir ini,” pikir Paimin.

“Padahal orang yang membangunnya sudah lebih pintar-pintar. Semakin banyak sarjana. Apakah yang dulu dibangun itu kuat karena ada tumbal kepala kerbau, ataukah karena orang dulu lebih pintar? Atau karena sekarang banjirnya lebih hebat? Atau sekarang tumbalnya salah. Banyak yang masuk penjara,” gumamnya sambil ketawa sendiri.

Motor mereka memasuki desa. Warung kecil wak Sugi di sebelah jembatan yang dulu menjual rokok dan makanan kecil masih terlihat sisa-sisanya.  

“Masih ada sisa-sisa yang aku kenal, Kang Samad. Cuma rumahnya sudah padat. Aku kaget, banyak rumah bagus sekarang. Ini salah satu ciri kemajuan.”

“Mungkin kamu benar. Tapi menurutku, yang miskin makin banyak juga. Petani itu tidak pernah merasakan kemajuan. Harga padi rendah salah, mereka cuma dapat duit sedikit waktu panen. Harga naik salah juga, mereka harus membeli beras dengan harga mahal waktu paceklik.”

“Mereka membeli?”

“Eh, jangan dikira. Petani itu beli beras saat paceklik. Nggak seperti dulu. Orang menyimpan padi ratusan geugeus di leuit buat bekal paceklik. Sekarang mah habis terjual sebelum padinya datang ke rumah. Pembeli membawa truk ke sawah, memborong di sana. Panen juga dikerjakan oleh pembeli. Mereka membawa pemanen yang menggunakan arit dan perontok gabah.”  

“Semuanya serba cepat, ya. Tidak seperti jaman kita kecil. Panen pakai ani-ani.”

 “Ya, aku tahu itu. Aku sudah lihat di tempat lain,” jawab Paimin. 

“Kalau tidak dilarang, jeraminya juga akan mereka bawa.”

“Buat apa jeraminya?”

“Eh… Kamu. Buat makanan ternak. Kalau dulu dibuang atau dibakar. Sekarang jerami itu banyak gunanya.”  

“Tuh lihat toko serba ada di lahan bekas rumahmu, Paimin,” kata Samad menunjuk ke toko serba ada yang berdiri tidak jauh dari balai desa. 

Paimin melihat bangunan toko yang berbentuk persegi dengan jendela kaca besar di depannya. Warnanya menyolok, pink dikombinasikan dengan hijau. Sangat berbeda dengan warna di sekelilingnya yang redup. Orang bergerombol sambil mengobrol. Motor berjejer di tempat parkir yang cukup luas.  

“Orang yang berbelanja di sana selalu berjubel tak pernah sepi. Coba kalau wak Jurnalis nggak jual rumah itu dan membuat toko di sana, pasti  dia sudah kaya.”

“Dari mana wak Jurnalis punya duit untuk modalnya. Membuat toko semacam itu harus bayar mahal, namanya toko waralaba. Kalau tidak salah bayar waralabanya saja bisa sampai 150 juta.”

“Gila, mengapa begitu? Kan tiap orang bebas untuk berdagang?”

“Ah, mendingan nggak cerita itu, Kang. Itu aturan jaman sekarang yang aneh-aneh. Tapi uwak Jurnalis juga bukan orang yang pintar usaha. Dia kesulitan keuangan. Wak Jurnalis gak punya bakat berdagang. Makin tua makin habis hartanya sampai akhirnya terpaksa dia menjual rumah itu.”

“Eh ngomong-ngomong, kamu mau ke mana, nih?”

“Aku mau melakukan survey, jadi antar saja aku ke rumah pak Kuwu. Kan aku tidak punya rumah di sini.”

“Ah…. Itu kan rumah adikku, kita sudah melewatinya. Kita putar di sini,” kata Samad sambil menoleh ke kaca spion melihat Paimin.

“Adikmu? Siapa yang jadi Kuwu? Si Imang atau Drajat?”

“Si Imang,” jawab Samad pendek. 

“Oh, ya? Ini kejutan, si Imang jadi Kuwu? Bagaimana bisa? Kan dia pindah dibawa pamannya ke Surabaya waktu itu?”

“Ya, dia usaha di sana, gak berhasil. Terus pindah ke Jakarta. Hebat dia, sampai akhirnya jadi boss Gerobak Bubur Kacang Ijo dan Ketan Item. Tapi sesudah usahanya berhasil, terus dia serahkan ke anaknya. Dia pindah ke sini buka toko bahan bangunan dekat pasar. Laku sekali. Lalu ikut pemilihan Kuwu dan menang. Dia sudah punya modal cukup.”

“Ikut pemilihan Kuwu saja harus punya modal, ya.”

“Harus. Pasti. Kalau gak punya modal sih jadi ibarat kartu mati. Jaman sekarang sih beda. Nanti kita ngomong sama dia tentang itu. Pasti kamu tertarik.”

Motor belok ke kanan memasuki halaman yang luas. Bangunan rumah cukup mewah. Rumah bertingkat dua itu berarsitektur modern, berdinding kaca besar dan dikelilingi halaman dengan rumput yang terpelihara rapi.  

“Bagus ya, rumahnya,” kata Paimin memuji.

“Kan aku sudah bilang, sekarang kalau tidak kaya, hampir tidak mungkin bisa jadi Kuwu, Paimin. Modalnya besar. Tidak seperti dulu jaman kita kecil. Kan adik kakekmu terpilih karena orang desa memang suka pada dia. Pada pribadinya. Orangnya. Sekarang orang desa milih orang yang punya duit, yang bisa cari proyek, yang punya koneksi supaya mudah dapat anggaran, dan kalau perlu bisa menalangi mereka bayar PBB, iuran dan sumbangan. Dulu pekerjaan dilakukan gotong royong, sekarang pekerjaan dan iuran mengandalkan pimpinan,” Samad seperti sedang mengajari.

Paimin tertawa. Rupanya pola seperti itu terjadi di mana-mana sekarang ini. Di kota dan di desa sama saja. Ketua Yayasan, ketua Alumni, ketua Perkumpulan Olahraga dan ketua macam-macam perkumpulan itu dipilih berdasarkan kriteria seperti yang disebutkan Samad. Sama saja.

“Bagaimana si Imang bisa menang. Padahal gak banyak dikenal sama penduduk di kampung ini?”

“Kamu ini bagaimana sih, kan aku sudah bilang. Dia banyak duitnya. Dia bayar juru kampanye. Dia tolong orang, dia pinjamin uang pada orang yang lagi perlu. Dia buka rumahnya lebar-lebar buat siapa pun yang mau makan dan minum. Gratis. Seperti pesta besar, selama dua minggu penuh. Dia janji macam-macam. Aku juga gak mengerti mengapa dia mau jadi Kuwu, padahal gajinya tidak seberapa dibandingkan dengan hasil usaha pribadinya.”

“Berapa sih gajinya?”

“Di sini masih pakai sistem bengkok. Barangkali dia dapat 10 bau sawah yang bisa ditanam padi dua kali setahun. Tapi kan tanam padi itu biayanya banyak. Tanam padi itu gak banyak untungnya. Pupuk juga semakin mahal. Hama susah ditebak. Mana banyak tamunya dari mana-mana. Katanya harus diurus segala macamnya.”

“Punya duit pas-pasan saja ingin ikut Pilkada. Salah tuh. Biaya Pilkada itu harus dianggap uang lebih, uang hilang. Kalau kalah anggap saja buang sial. Begitu. Intinya jangan mau ditipu oleh pendukung sehingga habis-habisan buang duit, jual ini jual itu, bahkan sampai berutang segala.”

“Iya, yah. Bodoh mereka kalau begitu.”

“Katanya suka ada sponsor?” kata Samad lugu.

“Kang…Kang Samad. Sponsor itu lain lagi ceritanya. Kang Samad tahu artinya sponsor. Itu pasti ada pamrih. Kalau perusahaan jadi sponsor siaran langsung tinju, sebenarnya dia sedang masang iklan. Promosi. Supaya orang simpati, senang, dan beli barang jualannya. Kalau kampanye pakai sponsor, nanti harus ada balas jasa. Mereka pasti mengharapkan itu. Gak gratisan, Kang. Negara bisa rusak, Kang, kalau pilkada pakai sponsor.” 

“Pintar juga kamu dalam hal ini. Kamu tahu. Semakin banyak orang bodoh sekarang ini. Bukan karena tidak berpendidikan, tapi salah menjalani kehidupan.”

“Seperti kamu. Aku pikir dalam hal mencari pekerjaan kamu ini bodoh,” sambung Samad.

“Aku bodoh?”

“Iyalah. Kalau pinter, kan sesudah sekolah tinggi kamu bisa menentukan sendiri di mana kamu ingin bekerja, tidak menerima saja jadi orang miskin karena tidak bisa bekerja di tempat lain. Itu kan bodoh namanya?”

(Dari "Catatan Paimin", Memed Gunawan. Foto dari Google)

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018