Friday, 18 June 2021


Ogah Beli Barang KW, Membangun Pengusaha yang Berkarakter

28 May 2021, 05:41 WIBEditor : Ahmad Soim

Kualitas Produk? | Sumber Foto:Memed Gunawan/Ahmad Soim

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pada tahun 1970-an peternak di Amerika terbantu dengan diciptakannya mesin pemisah daging dari tulang karkas (meat bone separator) yang membuat mereka lebih efisien dalam memisahkan daging dari karkas dalam waktu yang lebih cepat. Tetapi tidak lama sesudah itu para aktivis mempertanyakan, berapa banyak tulang halus yang terbawa ke dalam daging sehingga konsumen dirugikan karena membeli daging yang mengandung serbuk tulang di dalamnya.

Cerita ini  ingin memberikan contoh, betapa konsumen sangat kritis dalam membela haknya. Mereka tidak diam dan bahkan mereka difasilitasi dengan berbagai dukungan dari pemerintah maupun komunitas konsumen. Informasi produk itu penting dan harus secara transparan diketahui oleh penjual maupun pembeli. Penjual menjual barang yang baik dan pembeli membeli barang yang baik sesuai pilihannya.

Informasi tentang barang yang dijual biasanya dicantumkan pada kemasan seperti pada umumnya produk hasil pabrikan. Komposisi bahan, berat atau volume, kandungan nutrisi dan bahkan peringatan apabila ada kemungkinan dampak buruk yang mungkin terjadi.

Ambil contoh bahan makanan berbasis terigu, sebut saja mi. Informasi itu ada tertera di bungkusnya. Apakah  isinya sama seperti diungkap dalam kemasan, apakah terigunya tidak dicampur dengan tepung ubikayu, apakah kandungannya asli alami atau sudah bercampur bahan lain, apakah dari waktu ke waktu berat dan ukurannya tidak berubah? Karena harganya bisa saja meningkat? 

Untuk sementara kita tidak akan bicara berapa keuntungan produsen apabila ada ketidakjujuran yang dilakukannya, dan berapa kerugian diderita oleh konsumen yang diakibatkannya. Ada masalah lebih penting dan lebih mendasar, yaitu dampak tidak hadirnya transparansi informasi produk terhadap perkembangan kegiatan bisnis. Karena bisnis harus menjadi lebih besar dan lebih kompetitif. Contoh seperti ini banyak terjadi tetapi boleh jadi luput dari pengamatan -apalagi tindakan- kita semua, termasuk mereka yang punya kewenangan untuk menanganinya. 

Ada dua kata kunci yang kurang mendapat perhatian yaitu pertama pengawasan/pemeriksaan dan kedua penindakan dan penalti yang membuat pelaku kecurangan jera. Pembiaran ini akan berakibat terjadinya degradasi kualitas. Jangan sampai kualitas produk tidak lagi diutamakan karena “toh kualitas KW saja laku dan menguntungkan” dan dibayar mahal oleh konsumen. Dalam jangka panjang yang terjadi adalah hilangnya insentif bagi produsen untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan secara berkelanjutan. 

BACA JUGA:

Apabila informasi yang disampaikan di kemasan diragukan, hilanglah kepercayaan konsumen. Maka semakin banyaklah pertanyaan, mengapa pasta gigi yang semula padat dan kental seperti yang dibeli di negara tetangga, sekarang lembek walaupun harganya lebih mahal. Mengapa beras premium yang seharusnya pulen dan wangi itu ternyata  dioplos dengan beras lama yang berkualitas rendah.  Bahkan daging dan bakso halal yang sudah mendapat sertifikat halal, beberapa saat kemudian ternyata ketahuan dicampur dengan daging lain yang tidak halal. Bisakah dibayangkan betapa besar kerugian yang diakibatkan oleh produk berlabel dan bersertifikat tetapi ternyata tidak memenuhi standar yang ditetapkan seperti yang terjadi pada bibit, pupuk dan obat yang rutin dibeli oleh masyarakat. Ketika sertifikat tidak lagi menjamin kualitas, lalu ke mana konsumen akan mengadu?  

Seorang teknisi alat elektronik menganjurkan, agar sementara jangan mengganti alat pendingin dan mesin cuci dengan keluaran baru karena katanya keluaran baru kualitasnya lebih rendah dari yang lama. Bahan dan pembuatannya tidak sebaik keluaran lama sehingga cenderung mudah rusak. Tidak jelas kebenarannya, apakah memang informasinya demikian atau hanya akal-akalan supaya tergantung pada jasa dia memelihara barang-barang tersebut? Pernahkan merasakan minuman bersoda juga semakin tidak se-“nyekrus” dulu? Kopi instan juga terasa beda, lebih enak dan kental yang dibeli di negara tetangga dibanding yang dibeli di negara sendiri?

Lembaga sertifikasi banyak yang masih terbatas pada pemberian sertifikat tetapi tidak melakukan pengawasan yang memadai di lapangan. Yang pasti, pemberian sertifikat memang mendapat imbalan -yang ternyata besar- sedangkan pengawasan adalah pos pembiayaan, harus mengeluarkan uang yang jumlahnya cukup berarti.

Membangun bisnis adalah memberdayakan baik produsen maupun konsumen. Dia Amerika konsumen dibantu dengan berbagai informasi yang diberikan oleh berbagai sumber. “Consumer Guide” adalah majalah yang netral, dibantu oleh pemerintah dalam pendanaan dan dalam melakukan kajian dan analisis terhadap berbagai produk sehingga konsumen bisa memilih yang terbaik. Majalah ini tidak menerima iklan sehingga terbebas dari intervensi produsen untuk mengarahkan konsumen membeli produknya. Ada juga TV tanpa iklan yang isinya hanya memberikan pengetahuan, yang netral tanpa memihak dan mengarahkan ke pihak mana pun. 

Dengan cara ini produsen bersaing untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada konsumen, yang pada akhirnya akan memberi manfaat positif bagi kedua belah pihak. Lihatlah juga majalah fotografi yang menolak iklan perusahaan yang melakukan kecurangan dalam penjualan online. Cara ini telah membuat perusahaan online berhati-hati dalam memberikan pelayanan kepada konsumen.

Sudah adakah upaya tersebut di Indonesia? Sudah, tentu saja! Ada lembaga survey, ada kajian produk, ada tayangan video tentang produk, khususnya kendaraan. Yang jelas lembaga sertifikasi menjamur dengan sangat cepatnya. Soal kualitas? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang, karena kabarnya lembaga sertifikasi dan survey bisa menghimpun dana wah dan kaya raya, sementara kualitasnya masih merayap. Demikian juga para pembuat barang yang palsu-palsu itu belum juga kapok. Kasus pemalsuan masih marak. Bagaimana bisnis bisa berkembang? Makanya, Jangan Membeli Barang KW!  Membingungkan saja! Konsumen boleh berkata, “Help Me to Help You!” Wallahualam.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018