Tuesday, 03 August 2021


Pangan, Desa dan Kota

21 Jul 2021, 09:28 WIBEditor : Gesha

Durian dipanen | Sumber Foto:Soekam

Oleh : 

Soekam Parwadi

Direktur Pengembangan Agribisnis Paskomnas Indonesia

Wakil Ketua Komite Tetap Hortikultura – Kadin Indonesia

Banyak yang menganggap bahwa sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di desa. Karena desa jumlah desa kita lebih dari 75ribu, sementara jumlah kota hanya 515 terdiri dari 416 ibu kota kabupaten dan 98 kotamadya atau kota “beneran”.  Tetapi dari data BPS tahun 2019 diinformasikan bahwa 55,8 persen dari total 270,6 juta penduduk Indonesia tinggal dikota. Berarti hanya tinggal 44,2 persen saja yang tinggal di desa. Itupun termasuk desa perbatasan kota (sub-urban) yang pola hidupnya sudah diwarnai budaya kota.

Dalam memenuhi kebutuhan pangannya, masyarakat kota sebagian besar, bahkan mendekati 100 persen memperoleh dengan cara membeli. Itu artinya pasar yang besar. Jadi Tidak salah kalau kebanyakan petani berfikir bahwa hasil panennya mesti dijual kekota. Di kota banyak yang mau beli, dikota banyak uang. Apalagi masyarakat kota tingkat pengetahuan dan akses informasinya lebih tinggi.  Memahami nilai gizi dan peduli terhadap kesehatan. Sehingga daya serap (membeli) pangan lebih tinggi karena terbatasnya waktu dan tempat untuk memproduksi sendiri.

Dari situasi itu, kalau pola makannya benar, mestinya masyarakat kota “lebih sehat”dibanding masyarakat “desa”. Karena dengan pengetahuannya yang lebih baik, masyarakat kota mestinya lebih banyak makan sayur dan buah dibanding masyarakat desa. Namun kenyataannya tidak begitu. Justru masyarakat desa konsumsi sayurnya lebih tinggi dibanding masyarakat kota.

Secara umum, beras masih dominan sebagai bahan pangan, termasuk masyarakat kota. Konsumsi beras nasional masih antara 96 – 110 kg/kapita/tahun. Karenanya Indonesia merupakan Negara dengan penduduk berpenyakit gula terbesar didunia. Sedangkan anjuran konsumsi beras dari badan pangan dan kesehatan dunia sebaiknya tidak lebih dari 60 kg/kapita/tahun.

Sementara konsumsi sayur buah masih sangat rendah dibanding dengan anjuran pola makan sehat dari standard kesehatan dunia. Anjuran rata-rata konsumsi sayur 250 gram/orang/hari – buah 150 gram/orang/hari. Tapi kenyataannya konsumsi kita rata-rata sayur kita masih 107 gram dan buah 57 gram/orang/hari. Padahal produksi sayur buah nasional melimpah.

Karena konsumsi beras yang tinggi dan konsumsi sayur buah yang rendah itu, masyarakat kota bisa lebih rentan apabila ada penyakit mewabah yang melanda, seperti saat pandemic covid19 saat ini. Itu dapat dilihat dari kasus kematian karena covid19 saat ini kebanyakan karena disebabkan adanya penyakit bawaan. Sakit bawaan itu diindikasikan karena pola makan yang keliru dan berlangsung lama.

Ada berbagai sebab, mengapa konsumsi sayur buah yang merupakan pangan esential kesehatan masih rendah di Indonesia. Sementara produksi sayur buah melimpah-ruah. Penyebab utamanya adalah pengetahuan dan kesadaran gizi. Penyebab lainnya adalah daya beli, terutama masyarakat kota yang mayoritas klas menengah kebawah. Hal lain lagi karena kampanye pangan olahan cepat saji atau instan yang murah, praktis sangat gencar, sehingga masyarakat ambil “jalan pintas”dan pilih yang efisien bagi keluarganya.

Dari data rata-rata konsumsi secara nasional tersebut, banyak hal yang dapat dipetik. Pangan orang kota tidak boleh kurang dan terlambat. Itu artinya pasar. Mestinya ini menyenangkan masyarakat desa yang mengusahakan sayur dan buah. Di kota banyak orang, pinter dan banyak uang harapannya banyak menyerap sayur buah yang diproduksi. Tetapi nyatanya tidak begitu.

Dari jenis sayur yang dikonsumsi masyarakat kota, jumlah terbesar juga masih sayur yang berfungsi sebagai bumbu utamanya Cabe dan Bawang merah. Sedangkan sayur sumber gizi yang mestinya dikonsumsi lebih besar dari Cabe, jumlah serapannya sangat rendah. Contohnya, untuk kota besar seperti Jabodetabek, kebutuhan Cabenya sehari sekitar 350 ton. Sementara wortel hanya sekitar 120 ton/hari. Padahal Wortel memiliki fungsi sumber gizi yang penting dalam kesehatan.

Begitu juga terhadap konsumsi buah. Buah merupakan sumber vitamin alami yang sangat bagus. Dikota agaknya kalah dengan “perasa buah” yang banyak diformulasi dalam bentuk minuman pabrikan. Sangat memprihatinkan. Sementara produksi nasional buah sangat besar. Kasus hancurnya harga jeruk lemon akhir-akhir ini, yang mestinya dapat menjadi sumber vitamin utama, menjadi pertanda masyarakat kurang responsive terhadap buah sebagai bahan meningkatkan kesehatannya.

Salah Cara Konsumsi

Di sebuah pasar rakyat dekat Kota Bunga Cianjur, banyak penjaja buah pisang. Pisangnya bagus-bagus, mulai dari pisang Raja, pisang susu hingga pisang tanduk. Dari ketiga jenis pisang itu, yang harganya paling mahal adalah pisang tanduk. Satu sisir berisi 10 buah, beratnya sekitar 5 kg harganya Rp50.000,- atau Rp10.000,-/kg. Pisang tanduk biasanya dikonsumsi setelah digoreng. Sementara Pisang susu harganya hanya Rp4.000,-/kg, pisang raja Rp5.000,-/kg. Pisang susu dan biasanya dikonsumsi segar sebagai buah meja. Dari harganya dapat diduga, pisang tanduk sedikit yang beli. Yang beli pisang tanduk paling banyak orang-orang yang kaya. Sementara untuk pisang-susu dan pisang-raja yang beli juga sedikit sehingga terpaksa dijual dengan harga murah.

Dari cara konsumsinya, orang kaya makan pisang setelah digoreng, agaknya “menyalahi” cara makan buah. Mereka lebih mengutamakan rasa, dibanding manfaat gizinya. Masih ditambah minyal/lemak yang berpotensi menimbulkan gangguang kesehatan dan obesitas. Sementara orang yang kurang mampu lebih memilih perasa-buah dibanding buah segar yang murah. Sangat memprihatinkan.

Dalam rangka kesehatan masyarakat dan kualitas generasi penerus yang cerdas, pola konsumsi, terutama konsumsi sayur buah harus ditingkatkan.  Caranya, mesti meningkatkan kesadaran dan daya belinya. Cara peningkatan itu, peran pemerintah dan tokoh masyarakat sangat besar perannya. Kesadaran akan dapat tumbuh kalau tingkat pendapatan dan daya beli meningkat. Itu urusan pekerjaan, peluang kerja, bisnis dan aturan-aturan.

Untuk  ikut mendorong peningkatan konsumsi sayur buah masyarakat, Pemerintah (Kemenko Perekonimian & kementerian lain yang terkait), Komite Tetap Hortikultura - Kadin Indonesia, IPB, Kompas, Paskomnas Indonesia dan perusahaan buah asli Indonesia, membuat acara Gelar Buah Nusantara (GBN) ke-6. GBN ini awalnya dilakukan oleh Paskomnas Indonesia sejak enam tahun lalu.

GBN-6 akan digelar dalam bulan Agustus sekalian ikut memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke 76. Menyesuaikan dengan situasi pandemic covid19 yang sedang diatasi semua pihak,  GBN-6 ini dilakukan secara virtual dengan acara webinar yang menarik. Kepada masyarakat yang saat ini sedang banyak dirumah, Paskomnas Indonesia bersama start-up lain memberikan pelayanan penjualan secara online dengan harga yang menarik.

Mari kita konsumsi Buah Nusantara sebagai wujud kecintaan kita dengan buah asli Indonesia sekalian merangsang berkembangnya usahatani buah Nusantara yang lebih modern. Dalam GBN-6 ini diharap pemerintah juga memberi perhatian terhadap pola pengembangan buah Nusantara. Saat ini pengusahaan buah oleh rakyat berlangsung sangat tradisional. Masih sedikit yang membangun kebun buah modern, kecuali satu-dua perusahaan besar.

Pola pengembanangan buah Nusantara yang diharap adalah penyediaan lahan pemerintah untuk dibangun estate-buah yang berfungsi sebagai kebun inti oleh pengusaha modern. Dibagian tanah itu pula rakyat diberi hak-garap untuk membangun kebun buah sebagai plasma mengikuti pola kebun inti. Itu cara paling mungkin mendorong pembangunan buah Nusantara cepat terwujud. Industry pengolahan buah dan pasar tentu harus dibangun didalam negri dan export buah tropis dapat membesar.

 

Reporter : Soekam
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018