Saturday, 29 January 2022


Bencana Menghantui Pertanian Kita  

27 Nov 2021, 06:33 WIBEditor : Yulianto

Banjir menghantui lahan pertanian saat La Nina | Sumber Foto:DOk. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tetapi seluruh isi dunia tidak cukup buat memenuhi kebutuhan satu orang yang tamak. Masalahnya, kini dunia semakin tua dan manusia semakin banyak yang tamak. Kemampuan alam untuk memberikan kenyamanan dan kehidupan bagi manusia sudah semakin menurun. Teknologi semakin mempermudah manusia mengekstraksi alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Polusi udara dan air terjadi di berbagai belahan dunia akibat eksploitasi alam yang tidak terkendali. Dampaknya telah dirasakan di seluruh dunia. Antara lain Climate Change dan Global Warming. Padahal dengan kenaikan temperatur hanya 2 derajat Celcius saja, kehidupan mahluk di dunia akan mengalami perubahan luar biasa.

La Nina dan El Nino, kenaikan suhu udara, banjir, kekeringan, topan, longsor dan gempa bumi lebih sering terjadi. Pertanian yang semula dipercepat kemajuannya dengan penggunaan pupuk dan bahan kimia lainnya, sudah merasakan dampak negatip. Sekarang pertanian sudah berubah ke cara yang lebih alami. Negara-negara di seluruh dunia sudah mulai menggunakan bahan yang serba organik dan alami. Hal ini juga dipicu oleh permintaan konsumen yang mengarah ke segala produk pertanian yang berbau organik dan alami.

Tabloid Sinar Tani telah membahas beberapa kali tentang bencana dan dampak perubahan iklim dan La Nina terhadap pertanian. Antisipasi, Mitigasi dan Adaptasi terhadap perubahan iklim dibahas dan didiskusikan dalam FGD, Webinar dan Talkshow dan disebarkan informasinya melalui media konvensional maupun online. Tabloid Sinar Tani berkomitmen untuk menyampaikan informasi terkini tentang teknologi yang ramah lingkungan, untuk pertanian yang berkelanjutan, petani dan konsumen.

Banyak ancaman bencana telah berada di depan mata. Perubahan telah terjadi. Lihat saja musim sudah bergeser, hujan dan kemarau mulai sulit diprediksi dan jadwal  tanam berubah.  Demikian juga serangan OPT, banjir dan kekeringan terjadi di lokasi yang tidak biasa dengan intensitas yang lebih tinggi.

Program Kementerian Pertanian sudah meliputi upaya antisipasi, mitigasi dan adaptasi seperti pembangunan infrastruktur, bantuan bagi yang terkena bencana, pengembangan varietas tanaman yang tahan genangan atau kekeringan, dan asuransi. Tapi yang penting, perlu terus dilakukan sosialisasi tentang jenis-jenis bencana yang mungkin terjadi, cara menanggulangi dan beradaptasi, kemudian melatih petani agar sigap menghadapinya.

Tidak dapat dihindari trend permintaan produk pertanian semakin mengarah ke produk organik. Penggunaan pupuk dan pestisida organik dan hayati ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi permintaan konsumen, dan memperoleh nilai produk pertanian berharga tinggi, tetapi juga karena mempunyai dampak memperbaiki struktur fisik tanah pertanian yang saat ini sebagian besar sudah kehilangan bahan organik.

Ini juga saatnya penyuluhan berperan maksimal dalam menyampaikan informasi tentang perubahan iklim, pemanasan global dan jenis bencana lain serta bagaimana menanggulanginya kepada petani. Mengingat prosesnya cukup panjang, kita tidak dapat lagi menunda pelaksanaannya. Antisipasi, Mitigasi dan Adaptasi bencana harus menjadi bagian kegiatan petani, bukan hanya pemerintah. Pemerintah menyediakan sarana dan informasi, petani melakukan aksi di lapangan.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018