Saturday, 29 January 2022


Membayar Mahal Selera Makanan Pedas, Itulah Fanatisme Penyuka Cabai

12 Jan 2022, 14:42 WIBEditor : Yulianto

Petani cabai berharap pemerintah tidak mengeluarkan ijin impor cabai untuk menekan harga yang kini tengah melonjak | Sumber Foto:Dok. Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di pasar dan supermarket cabai boleh saja harganya naik melonjak berlipat-lipat, tapi di warung makan dan restoran cabai dan sambal selalu gratis. Inilah "karakter sosial" cabai yang unik. Cabai dan sambal mirip tomato ketchup atau mustard di negara barat sana, yang gratis tersedia di setiap meja cafe dan restoran. Statusnya sebagai penyedap atau condiment.

Di Indonesia cabai itu istimewa. Cabai termasuk kelas bumbu, tapi bukan bumbu penyedap biasa seperti garam, merica, jahe, lengkuas atau kayu manis dan cengkeh. Konsumsinya dan permintaannya tinggi, tak pernah berkurang. Tanpa cabai, masakan itu terasa hambar. Tanpa cabai dan sambal, tukang tahu kehilangan langganan dan restoran sepi pembeli. Tidak salah kalau mereka, para pedagang itu, menggratiskan cabai dan sambal sebagai pengundang selera. Unik, kan?

Mungkin bangsa ini pemakan cabai per kapita tertinggi di dunia. Maka guncangan harga cabai mampu menggoyang ekonomi bangsa dan menjadi berita headline. Kekurangan pasokan cabai beritanya terpampang di setiap media.

Fanatisme masyarakat Indonesia terhadap bahan pangan beras, minyak goreng, cabai, bawang, telur, ayam dan kedelai memang luar biasa. Kekurangan pasokan komoditas ini (yang memang merupakan kebutuhan utama masyarakat) di pasar langsung meningkatkan harga dan memicu keresahan masyarakat. Sekitar 15 tahun lalu, pernah ada cuitan dengan nada melecehkan dari petinggi negara jiran yang cukup membuat geram. Katanya, Orang Indonesia telah dibuat jinak hanya dengan dicukupi beras dan minyak sawit. Menyakitkan memang.

Kita punya banyak sumber bahan makanan, sangat beragam, baik sumber karbohidrat, lemak, protein, mineral maupun vitamin. Tinggal memilih, tidak hanya tergantung pada satu-dua jenis makanan saja. Tapi ternyata kita memang cukup fanatik terhadap beberapa jenis makanan tertentu. Mereka dibelenggu oleh selera, sampai-sampai kenaikan harga normal akibat musiman bisa melonjak melambung tak terkendali. Beritanya jadi menggemparkan.

Harga cabai, telur ayam, bawang, minyak goreng dan banyak lagi, bahkan pernah harga jengkol tiba-tiba meningkat tajam dan masyarakat heboh. Harga cabai pernah meningkat melebihi harga daging sapi, dan ini menakjubkan. Satu saat harga jengkol tiba-tiba melesat di atas seratus ribuan per kilo. Luar biasa. Ini pergerakan harga yang sukar diprediksi. 

Begitu parahkah kekurangan pasokan di pasar, atau begitu parahkan ketergantungan konsumsi pada komoditas pangan istimewa ini. Hanya beras yang harganya terkontrol, mungkin karena kuatnya intervensi pasar atau mudahnya masyarakat (baca: kelas bawah) berdiversifikasi konsumsi ke komoditas sumber karbohidrat lain.

Ketika harga cabai meningkat lebih tinggi dari harga daging sapi misalnya, konsumen tidak menambah konsumsi daging sapi dan mengurangi konsumsi cabai. Permintaan terhadap bahan pangan ini termasuk inelastik, secara relatif dampak terhadap pergerakan harganya jauh lebih tinggi jika terjadi perubahan volume pasar. Ditambah dengan tingginya fanatisme, komoditas alternatif yang mempunyai manfaat dan fungsi yang sama kurang dilirik konsumen. Peralihan ke pangan substitusi tergolong rendah. 

Sifat musiman pasti berpengaruh terhadap harga. Ketika harga durian melonjak saat off season, konsumen menjauh dari durian dan mendekat ke jeruk. Atau beras pindah ke singkong, daging sapi ke daging ayam atau ikan. Tapi konsumsi bawang dan cabai tetap tinggi sekalipun harganya melonjak luar biasa.  Memang masyarakat termasuk fanatik terhadap makanan tertentu, seolah tidak dapat digantikan oleh bahan pangan lain walaupun manfaatnya sama. Dan cabai adalah salah satunya.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018