Tuesday, 17 May 2022


Hormat Kita pada Penyuluh, Harapan Kita pada Penyuluh

28 Jan 2022, 17:11 WIBEditor : Gesha

Penyuluh ke depan juga harus mengikuti perkembangan teknologi | Sumber Foto:SINTA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tidak banyak abdi negara yang ditugasi mengurus petani dan pertanian, langsung terjun ke lapangan dan berinteraksi dengan petani, kecuali penyuluh pertanian. Dan tidak banyak pula mereka yang dikenal petani, kecuali penyuluh pertanian. 

Penyuluh pertanianlah yang hidup dengan petani, membawa teknologi dan ilmu baru. Hasilnya nyata dan segera, karena panen meningkat pada musim berikutnya. Tidak keliru jika dikatakan penyuluhan dan penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan pertanian.

Interaksi penyuluh dan petani tidak hanya diikat hubungan profesi tetapi juga emosi dan hatinya. Hubungan manusiawi itu terbangun lewat interaksi intensif. Petani itu pintar dan punya pengalaman panjang soal pertanian, tetapi mereka adalah kelompok yang risk aversion, sangat hati-hati untuk mengadopsi sesuatu yang baru. Dia akan selalu melihat bukti, baru akan mengikuti. Bukan janji.

Kondisi ini memberi isyarat, penyuluh harus mempunyai kompetensi tinggi, tidak hanya menguasai teknis pertanian, tetapi menguasai substansi, mampu berinteraksi dan menempatkan dirinya di tengah masyarakat pedesaan.

Kita patut hormat pada penyuluh. Sangat hormat. Mereka tidak melakukan aktivitas produksi, tapi menghantarkan teknologi untuk diapllikasikan oleh petani. Mereka mendampingi petani, ikut lelah berkeringat, berlumpur dan berharap cemas menunggu hasilnya. Sungguh lebih banyak kerjanya dibanding penghasilannya.

Penyuluh pula yang turut berpikir mencari solusi agar petani dapat sarana produksi, bergerak menyusun rencana kerja dan RDKK, sampai turut bertanggungjawab moral ketika pertanian dilanda bencana. Mereka pantas menyandang predikat pahlawan pangan.

Fokus penyuluhan pertanian sudah bergeser dari transfer teknologi dan manajemen usahatani ke hal yang lebih luas lagi berupa bantuan, bimbingan dan pendampingan, baik oleh lembaga pemerintah maupun swasta untuk memecahkan masalah marketing, proteksi lingkungan, penanganaan hama dan manajemen risiko (Norton dan Alwang, 2020). Penyuluhan sudah semakin berorientasi agribisnis, maka penyuluh juga harus punya kemampuan berlebih.

Kita mengharapkan penyuluh semakin mampu mengikuti perkembangan pertanian. Penyuluh adalah guru yang dituntut untuk meyakinkan sekaligus memberikan bukti nyata di lapangan. Penyuluh adalah panutan yang kinerjanya dinilai terus menerus oleh petani. Penyuluh harus menguasai dan memenuhi karakteristik lima dimensi, yaitu knowledge (pengetahuan), leadership (kepemimpinan), emotion (emosi), skill (keterampilan) dan smartness (kecerdasan). Luar biasa. Penyuluh seharusnya seorang pekerja dengan kualitas di atas rata-rata. Dan ini ditentukan dalam rekrutmen.

Pendekatan penyuluhan juga sudah bottom-up. Setiap daerah mempunyai masalah, potensi dan prioritas yang berbeda. Program penyuluhan tidaklah "one-size-fits-all”. Pasti berbeda. Penyuluhan berkembang sesuai kondisi, kebutuhan, waktu dan ruang, struktur sosial ekonomi, dan pasar.

Kita mengharapkan penyuluh yang berkualitas, berdedikasi, mengerti soal pertanian, bisa bermasyarakat dan mempunyai kemampuan untuk mendidik dan membangun kelembagaan di pedesaan.

Penyuluh harus unggul, dan dibekali dengan pengetahuan terkini, mendapat pelatihan reguler, didukung sarana dan anggaran cukup untuk aktivitas penyuluhan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018