Sunday, 26 June 2022


Memecah Masalah Klasik Petani Kopi di tengah Geliat Bisnis Kopi Nasional

18 Mar 2022, 18:52 WIBEditor : Gesha

Petani kopi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bisnis kopi di tanah air menggeliat, cafe baru menjamur, tapi bagaimana imbasnya terhadap petani kopi? Seperti biasanya, peluang dan dampak manfaat ke petani selalu datang paling belakang. 

Genderang kopi Indonesia di pasar dunia sedang ramai ditabuh seiring dengan tumbuh suburnya penikmat kopi di negeri ini. Apalagi produsen kopi utama, Brazil dan Vietnam mengalami penurunan produksi dan ekspor sehingga kesempatan ini merupakan momentum buat kopi Indonesia tampil gagah di pasar dunia.

Satu studi menyimpulkan bahwa 90 persen kopi petani dijual ke pasar melalui pedagang pengumpul, yang ternyata bertingkat-tingkat, di desa, kabupaten dan agen. Ketiganya memang memberikan layanan kepada petani, antara lain berupa pemberian pinjaman modal, penyediaan pupuk dan benih berkualitas, serta melakukan pelatihan. Tapi tentu ada komitmen harga jual kopi yang perlu dikaji, siapa yang paling diuntungkan?

Gerakan kemajuan kopi sementara terbentur Pandemi Covid-19. Banyak cafe dan restoran tutup, sehingga stok biji kopi di kebun para petani menumpuk, khususnya kopi arabica. Konon pandemi kurang berpengaruh pada kopi robusta karena jenis ini umumnya diserap oleh industri kopi siap seduh. Saat ini kopi arabica turun serapannya. Di Indonesia kopi arabica hanya 26 persen, sementara robusta 74 persen dari produksi nasional.

Selain itu akses produk kopi ke beberapa negara pun tergaggu karena pembatasan transportasi selama pandemi sehingga berimbas pada menurunnya ekspor. Ditambah dengan banyaknya pembatalan pesanan akibat kesulitan transportasi, terjadilah penumpukan stok di tingkat petani dan penurunan harga kopi arabica yang membuat petani ketiban sial berkali-kali. Semua ini umumnya diderita petani, bukan pedagang.

Selain kenyataan bahwa petani selalu ada di bawah bayang-bayang pedagang pengumpul, produktivitas kopi petani, yang merupakan 99 persen produksi produksi Indonesia, juga masih rendah. Padahal Vietnam yang merupakan pendatang baru di bisnis kopi, produktivitasnya sudah mencapai 1,2 ton per hektare per tahun.

Kopi yang enak tidak lepas dari kepiawaian petani, roasting dan barista. Jadi jelas sekali petani memerlukan dukungan agar mampu memproduksi kopi berkualitas tinggi, dengan menyediakan bagi mereka sarana produksi, sistem pemasaran yang baik dan pelatihan/penyuluhan yang kontinu.

Tragis bahwa lima negara pengeskpor kopi terbanyak ke Australia, tetangga dekat Indonesia, di tahun 2020 antara lain adalah Swiss, Brazil, Kolumbia, Jerman, dan Vietnam. Sementara Indonesia menempati posisi ke-12, setelah India di urutan ke-10 dan Prancis di urutan ke-11. Kopi Indonesia disukai tetapi dianggap mahal, mungkin karena biaya produksi tinggi akibat produktivitas rendah.

Jadi kesimpulannya, walaupun peluang dan potensi kopi kita sangat baik, untuk meraih peran besar, di pasar lokal maupun internasional yang mapan dan berkelanjutan, petani penting untuk diperhatikan. Petani memerlukan dukungan dan ketersediaan sarana produksi, teknologi, penyuluhan dan sistem pasar yang berkeadilan. Selain untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, juga untuk meningkatkan posisi kopi kita dalam percaturan dunia.

 

 

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018