Thursday, 30 June 2022


Covid Belum Pamit, Kini PMK Berjangkit, Bagaimana Mengusirnya ?

13 Jun 2022, 10:17 WIBEditor : Gesha

Peternak di Boyolali terkena imbas PMK | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---  Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sudah menghilang dari bumi Nusantara tiba-tiba berjangkit kembali. Entah bagaimana caranya dia menyelinap. Sementara, tak perlu dibahas bagaimana cara masuknya, tapi yang penting adalah bagaimana menanganinya dengan sangat segera.

Dahulu kita memerlukan waktu seratus tahun untuk bebas dari penyakit ini. Kini kita kebobolan. Mudah-mudahan sekarang, dengan mengerahkan upaya terbaik, dan dengan dukungan teknologi tinggi, penyakit ini bisa dimusnahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kejadian ini memang kritis, karena Idul Adha di depan mata dan qurban identik dengan pemotongan hewan. Penyediaan dan bahkan pembelian hewan qurban banyak yang sudah dilakukan jauh-jauh hari. Tapi bagaimana dengan kondisi hewan yang sekarang sakit? Walaupun dinyatakan bahwa PMK bukan penyakit zoonosis, yang menular ke manusia, tetapi bagaimana dari sudut pandang syariah apakah hewan sakit memenuhi syarat untuk jadi hewan kurban?

Salah satu informasi yang tersedia adalah hasil Musyawarah tentang Qurban pada kondisi Wabah PMK yang dilaksanakan di Fakultas Peternakan UGM pada tanggal 20 Mei 2022. Musyawarah dihadiri nara sumber para ahli bidang Peternakan (Prof. Endang Baliarti), Kesehatan Hewan (Drh. Hendra Wibawa, MSi., PhD dan drh. Tjahyani) dan Ahli Fiqih (Prof. Makhrus Munajat), dan diskusi dipimpin oleh Prof. Yuny Erwanto.

Berikut ini Rumusannya. Penyakit mulut dan kuku pada ternak dikatagorikan bukanlah penyakit zoonosis sehingga tidak akan menular kepada manusia, namun mempunyai kecepatan penularan yang tinggi kepada hewan ternak dan menyebabkan kematian kepada ternak muda. Dengan pertimbangan mengurangi mudarat yang akan terjadi maka Hewan yang secara klinis telah dinyatakan sakit PMK oleh ahlinya maka hewan tersebut tidak sah digunakan untuk hewan qurban.

Dalam hal sohibul qurban sudah melakukan akad dengan penjual, hewan secara klinis sehat dan sudah memastikan bahwa hewan tersebut dijadikan hewan qurban, dan dalam perjalanan waktu mengalami sakit yang secara klinis dinyatakan PMK maka apabila masa menunggu tinggal sehari dan dipastikan bisa dipotong pada hari nahar atau pemotongan, maka dalam kondisi darurah tersebut hewan qurban tersebut dinyatakan sah sesuai niat dari awal.

Namun apabila sakitnya terjadi masih dalam jangka yang tidak mungkin sampai pada hari nahar, maka hewan tersebut bisa dipotong sebagai sodaqah. Cara pemotongan hewan yang terkena penyakit PMK mengikuti prosedur sesuai dengan rekomendasi instansi yang berwenang termasuk penanganan daging pasca pemotongan

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018