Kamis, 09 Februari 2023


Mendorong Pertanian Regeneratif

19 Jan 2023, 00:53 WIBEditor : Gesha

Petani milenial dalam Pertanian regeneratif | Sumber Foto:Istimewa

Oleh : Ridwan Diaguna dan Maryati Sari

(Dosen Fakultas Pertanian – Institut Pertanian Bogor)

Pertanian regeneratif telah mendapat perhatian yang serius dewasa ini untuk mengatasi tantangan lingkungan dan sosial, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerawanan pangan.

Sederet alasan meningkatnya perhatian tersebut adalah pengakuan bahwa praktik pertanian regeneratif mampu mengurangi dampak perubahan iklim, meningkatkan kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, dan menurunkan kebutuhan pupuk dan pestisida sintetis.

Alasan lain yang tidak kalah strategis adalah meningkatnya kesadaran konsumen terahdap pangan sehat dan ramah lingkungan. Pertanian regeneratif tidak hanya dipandang sebagai jalan memenuhi kebutuhan pangan saat ini, namun juga sebagai solusi untuk melindungi sumberdaya di masa depan.

Kampanye pertanian regeneratif dimulai sekitar 1960-an oleh sejumlah petani dan peneliti di Amerika. Mereka mengkampanyekan praktik pertanian regeneratif sebagai cara mengatasi isu negatif aktivitas pertanain terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Penelusuran asal usul pertanian regeneratif bahkan dapat dibaca dengan detail dalam karya J.I. Rodale yang merupakan pelopor pertanian organik Amerika, dan populer dengan konsep "pertanian organik". Menyarikan dari berbagai referensi, pertanian regeneratif didefinisikan sebagai pendekatan praktik pertanian holistik yang bertujuan mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tanah dan keanekaragaman hayati.

Praktik pertanian regeneratif diharapkan menciptakan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan dan tangguh yang meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanah dari waktu ke waktu.

Dukungan Implementasi

Praktik pertanian regeneratif perlu didorong dengan serius di Indonesia ditengah berbagai tantangan yang dihadapi terkait produksi pangan berkelanjutan. Promosi dan penerapan praktik pertanian regeneratif perlu dukungan dari berbagai stakeholders yang tentunya memiliki kepentingan yang sama akan produksi pangan berkelanjutan.

Dukungan pendidikan dan pelatihan tentang praktik pertanian regeneratif sangat penting dilakukan agar petani mampu menerapkannya dengan baik, dan tentunya disertai pendampingang teknis untuk memecahkan masalah yang mungkin mereka hadapi.

Insentif bantuan keuangan perlu hadir baik dari pemerintah maupun non pemerintah untuk memastikan petani beralih ke praktik pertanian regeneratif yang dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk sesuai perannya.

Lembaga penelitian dan perguruan tinggi perlu didorong dan diberikan insentif untuk melakukan penelitian dan pengembangan optimalisasi teknik dan metode pertanian regeneratif yang lebih efektif dan efisien.

Petani harus diberikan insentif pasar dan keuangan atas produk makanan dan serat yang diproduksi secara regeneratif melalui promosi, kebijakan dan pengembangan pasar.

Pada akhirnya yang tidak kalah pentingnya praktik konsep ini membutuhkan kolaborasi dan jejaring multistakeholders (petani-peternak-peneliti- pembuat kebijakan-konsumen) agar dapat diterapkan dengan berhasil. Jaringan dan kolaborasi multistakeholders dapat mendorong akses informasi, sumberdaya, dan best practices, serta hadirnya komunitas pertanian regeneratif.

Libatkan Milenial

Indonesia memiliki bonus demografi yang signifikan dengan 30% penduduk berusia 15-29 tahun, dan generasi muda ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

Mereka dianggap sebagai bonus karena jumlah yang besar dan potensi produtivitas dan inovasi yang akan mereka telurkan. Kebijakan dan program untuk mendukung pengembangan dan pemberdayaan generasi muda secara masif dilakukan mulai dari program pendidikan, pelatihan, dan kewirausahaan.

Terlepas dari berbagai dukungan tersebut, faktnyanya generasi muda ini masih akan menghadapi tantangan kurangnya lapangan kerja untuk untuk memanfaatkan potensi mereka secara maksimal.

Generasi muda dapat memainkan peran penting dalam mempromosikan dan menerapkan pertanian regeneratif. Mereka kerap diasosiakan sebagai tumpuan pemimpin masa depan dan pengambil keputusan di sektor pertanian di masa mendatang.

Keterlibatan mereka dalam praktik pertanian regeneratif harus segera didorong sedini mungkin dengan berbagai cara yang mungkin dilakukan. Mereka yang dididik dan diberikan kesadaran mengenai praktik pertanian regeneratif dapat memainkan peran dalam meningkatkan kesadaran akan pertanian regeneratif dan manfaatnya dalam lingkungan interaksi sosialnya.

Keterlibatannya juga dapat dalam bentuk riset dan eksperimen untuk meningkatkan praktik dan teknologi pertanian regeneratif, seperti menguji varietas tanaman baru, atau mengembangkan metode baru untuk pengelolaan kesehatan tanah.

Keberadaan mereka sebagai generasi dengan akses teknologi dan informasi tanpa batas juga dapat didorong untuk mengadvokasi kebijakan dan peraturan yang mendukung pertanian regeneratif, seperti kebijakan yang memberikan bantuan keuangan dan teknis kepada petani yang menerapkan praktik regeneratif, atau peraturan yang membatasi penggunaan bahan kimia dan pestisida berbahaya.

Mendorong kewirausahaan mereka dalam pertanian regeneratif, mengembangkan model bisnis baru dan menciptakan peluang pasar baru untuk makanan dan serat yang diproduksi secara regeneratif juga menjadi peran yang signifikan.

Kemahiran-kemahiran meraka dalam menjalin relasi dapat memainkan peran kunci dalam membangun jaringan dan kolaborasi multistakeholders (petani-peneliti-pembuat kebijakan-konsumen). Kepekaan dan keluwesan interaksi yang mereka miliki dapat menjadi modal dalam keterlibatan masyarakat dengan mendidik dan melibatkan komunitas interaksi sosialnya dalam praktik pertanian regeneratif, membuat kebun masyarakat, atau mempromosikan sistem pangan lokal.

Terakhir tentunya mereka dapat dilatih untuk menjadi pemimpin dalam pertanian regeneratif, dengan berpartisipasi dalam program pelatihan, lokakarya dan bimbingan, dan mengambil peran kepemimpinan dalam organisasi yang mempromosikan pertanian regeneratif.

Reporter : Ridwan Diaguna/Maryati Sari
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018