Sabtu, 25 Mei 2024


Ubah Gaya Hidup untuk Meredam Perubahan Iklim?

27 Agu 2023, 19:30 WIBEditor : Herman

Kegiatan Menanam Untuk Jaga Kelestarian Alam | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ternyata kita sangat rentan. Kenaikan suhu rata-rata 2 derajat Celcius saja dapat menghancurkan ekosistem global yang berakhir buruk pada kehidupan manusia. Gaya hidup penyebabnya dan gaya hidup pula solusinya.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA), badan penelitian iklim pemerintah Amerika Serikat, permukaan laut telah naik hampir 25 sentimeter dalam 140 tahun terakhir. Sekitar sepertiga dari peningkatan itu terjadi hanya dalam 25 tahun terakhir saja. 

Menurut Lynas, bila temperatur Bumi naik 2 derajat Celcius, akan terjadi kekeringan parah, kekurangan air, kenikan suhu air laut dan berbagai bencana yang memporakporandakan kehidupan manusia. Oleh karena itu, Kesepakatan dalam Perjanjian Paris meminta semua negara untuk menjaga suhu tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Dunia perlu mengambil langkah tegas, segera, dan skala besar untuk mengurangi emisi. Hal ini harus dilakukan agar suhu rata-rata global tidak melewati ambang batas pemanasan 1,5 derajat Celsius dalam waktu 20 tahun. Kenaikan 1,5 derajat Celsius umumnya dipandang sebagai yang paling bisa diatasi umat manusia, tanpa menderita pergolakan ekonomi dan sosial yang meluas.

Pemanasan global 1,1 derajat Celsius yang sudah terjadi saat ini nyatanya sudah cukup mengakibatkan cuaca buruk yang menyiksa. Jika kita berhasil mengurangi emisi dalam dekade berikutnya, suhu rata-rata masih bisa naik 1,5 derajat Celsius pada tahun 2040 dan mungkin jadi 1,6 derajat Celsius pada tahun 2060 sebelum akhirnya stabil.

Akan berhasilkah kita mengerem agar kenaikan suhu bumi tidak berlanjut? Itu semua tergantung kepada komitment kita. Kita semua, masyarakat dunia. Namun jika dunia tidak melakukan perubahan, suhu bisa meningkat sampai 2 derajat Celsius pada 2060 dan 2,7 derajat Celsius pada akhir abad ini.

Bill Gates meramalkan Bumi akan melampaui kenaikan suhu di ambang batas 1,5 derajat Celcius. Gates menambahkan upaya mitigasi iklim yang tak kunjung jelas itu bisa memperlambat kemajuan dalam memperbaiki kondisi manusia. Data menunjukkan lebih dari 10% anak meninggal dunia sebelum menginjak usia 5 tahun. Sementara itu, lebih dari 30% tidak cukup makan di beberapa negara. Skenario lain adalah pemanasan 1,5 derajat Celcius menyebabkan 19 hari ekstra panas ekstrem per tahun. Periode hangat terjadi 17 hari lebih lama dari biasanya.

Tentang TerraPower, reaktor nuklir dengan mengembangkan natrium cair untuk pendingin dan sumber bahan bakar dari uranium, menurutnya mungkin  jadi solusi. TerraPower, menurutnya, telah memiliki kemajuan luar biasa. 

TerraPower adalah perusahaan rekayasa desain dan pengembangan reaktor nuklir Amerika yang berkantor pusat di Bellevue, Washington. TerraPower sedang mengembangkan kelas reaktor cepat nuklir, namun rencana itu terhambat akibat perang Ukraina, sementara TerraPower berencana menggunakan bahan bakar dari Rusia. Nah!

Tidak tahu apakah itu solusi atau ilusi. Akankan itu benar-benar jadi kenyataan?

Itu ibarat memadamkan kebakaran hutan raya di beberapa titik di mana orang kaya berada. Dengan biaya mahal pula. Yang suatu saat akan kembali terbakar karena bencana terus meluas.  Upaya manusia yang sangat terbatas itu mungkin akan menyelamatkan sejumlah kecil kelompok manusia dalam jangka pendek saja.

Lalu perusahaan yang memproduksi daging palsu (fake meat), seperti Beyond Meat dan Impossible Foods yang sedang dikembanhgkan, sejauh manakah dia akan mampu menggantikan pangan kebutuhan manusia.

Alternatif daging atau pengganti daging, adalah produk makanan yang terbuat dari bahan-bahan vegetarian atau vegan, yang dimakan sebagai pengganti daging adalah impian yang sungguh ribet. Walapun produk alternatif daging itu mendekati kualitas jenis daging tertentu, seperti rasa, penampilan, atau karakteristik kimiawi, apakah bisa diandalkan untuk mencegah pemanasan global yang efektif?  

Solusi terbaik adalah menjaga alam. Pertanian, peternakan, kehutanan dan ekstraksi bahan bakar fosil yang jadi kambing hitam penyebab emisi gas metan, CO2 serta saudata-saudaranya itu harus dikelola dengan pola yang ramah. Dengan dukungan seluruh dunia, bukan hanya negara yang jadi pemiliknya saja.

Yang lebih rasional adalah manusia mengubah gaya hidup ke arah yang lebih bersahabat. Dan lebih sehat. Inilah yang lebih efektif dalam mengurangi emisi  gas di rumah kaca. Karena semua ini akibat gaya hidup manusia yang cenderung boros sumberdaya alam karena mengekstraksi alam secara berlebihan. Maka solusinya adalah kembali ke pola dan gaya hidup yang bersahabat dengan alam.

Menghemat energi di rumah, karena sebagian besar listrik dan panas menggunakan batu bara, minyak, dan gas.  Ubahlah sumber energi rumah, beraktivitas dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum. Beralih ke kendaraan listrik dan bijak dalam merencanakan dalam perjalanan. Kurangi, gunakan kembali, perbaiki, dan daur ulang jadi semboyan dalam menggunakan semua barang. Makan lebih banyak sayuran, dan jangan banyak membuang makanan.

Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisinya dalam kerangka kerja Kesepakatan Kopenhagen dan Perjanjian Paris. Terlepas dari dampak perubahan iklim yang signifikan terhadap negara ini, survey menunjukkan bahwa Indonesia memiliki proporsi yang tinggi dalam hal penyangkalan terhadap perubahan iklim.

Sejak tahun 2010, Indonesia telah secara aktif terlibat dalam program REDD+ (Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan), yang memberikan insentif kepada negara-negara berkembang untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca mereka. Program REDD+ ini tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia, tetapi juga melindungi keanekaragaman hayati dan memberi manfaat bagi masyarakat lokal. Program ini terlihat menjanjikan untuk masa depan, tapi implementasinya di Indonesia terhambat oleh berbagai kendala, seperti tata kelola, kapasitas kelembagaan, pendanaan yang tidak mencukupi, dan masalah tenurial.

Selain REDD+, Indonesia juga memiliki potensi untuk meningkatkan langkah-langkah mitigasi perubahan iklim berbasis hutan lainnya seperti pengelolaan hutan lestari dan wanatani. Hal ini penting karena dapat memastikan bahwa hutan dikelola dengan cara yang menyeimbangkan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan mempromosikan konservasi dan pemanfaatan sumber daya hutan secara berkelanjutan sambil tetap menjaga cadangan karbonnya.

Meskipun Indonesia memiliki target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada akhir tahun 2030, Indonesia hanya membuat sedikit kemajuan dalam mengurangi emisi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dukungan finansial, prevalensi pembangkit listrik tenaga batu bara, dan deforestasi yang masih terus berlangsung.

Dari tahun 2014 hingga 2019, emisi Indonesia meningkat sebesar 2,2%. Untuk mengatasi semua tantangan ini, pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan dan mencoba untuk menghentikan penggunaan batu bara secara bertahap. Untuk mencapai hal ini, diperlukan tindakan yang lebih konkret dan kebijakan yang efektif untuk mengatasi emisi gas rumah kaca.

(Diolah dari berbagai Sumber di Google)

 

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018