
Tembakau Golden Djawa yang dibudidayakan di Jember , Jawa Timur.
Di tengah geopolitik global yang semakin kompleks, diplomasi tidak lagi sebatas penyelesaian konflik, kerja sama politik, atau keamanan kawasan. Memasuki abad ke-21, diplomasi juga menjadi instrumen strategis untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi melalui perluasan akses pasar, penguatan citra bangsa (nation branding), dan peningkatan nilai tambah produk dalam negeri.
Di sinilah diplomasi ekonomi menemukan relevansinya. Dunia tidak hanya memperdagangkan komoditas, tetapi juga reputasi, kualitas, dan cerita di balik produk. Negara yang mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk premium bernilai tinggi akan memiliki posisi lebih kuat dalam persaingan global. Indonesia memiliki modal besar untuk memainkan peran tersebut.
Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada komoditas ekspor seperti kelapa sawit, batu bara, nikel, dan kopi. Padahal, Indonesia juga memiliki cerutu premium yang telah lama diakui dunia. Produk ini bukan sekadar olahan tembakau, melainkan perpaduan kualitas agrikultur, keterampilan pelinting, tradisi, dan seni.
Sejarah mencatat tembakau Deli Nusantara dari Deli, Sumatera Utara, dan Tembakau Golden Djawa dari Jember, Jawa Timur, dikenal sebagai daun pembungkus (wrapper) cerutu terbaik dunia. Karakternya yang elastis, halus, tipis, dan seragam menjadikannya pilihan produsen cerutu premium internasional. Reputasi ini menjadi keunggulan Indonesia yang tidak dimiliki banyak negara.
Prospek industri cerutu premium juga terus menguat. Permintaan di Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, hingga Asia menunjukkan konsumen semakin menghargai kualitas, eksklusivitas, dan pengalaman. Kinerja Habanos S.A. mencatat penjualan $ 827 juta pada 2024, naik 16 persen dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan cerutu premium tetap menjadi komoditas bernilai tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Lalu, bagaimana Indonesia memperkuat posisi di pasar dunia? Jawabannya bukan hanya kualitas produk, tetapi diplomasi ekonomi yang mampu membuka akses pasar sekaligus memperkuat citra produk nasional.
Diplomasi ekonomi pada dasarnya merupakan upaya negara membuka jalan bagi dunia usaha. Ketika Kedutaan Besar Republik Indonesia memfasilitasi business matching, mempertemukan eksportir dan importir, serta mempromosikan produk Indonesia dalam pameran internasional, diplomasi ekonomi sedang bekerja. Diplomasi modern tidak berhenti di ruang perundingan, tetapi menjadi jembatan antara produk nasional dan pasar global.
Cerutu premium memiliki potensi besar sebagai instrumen nation branding. Indonesia tidak cukup menjual tembakau atau cerutu, tetapi juga cerita di baliknya: sejarah, keterampilan pelinting, budidaya berkelanjutan, hingga filosofi yang melahirkan setiap batang cerutu. Narasi tersebut menciptakan nilai tambah sekaligus membedakan produk Indonesia dari pesaing.
Karena itu, diplomasi ekonomi perlu melampaui promosi dagang konvensional. PTPN I melalui jaringan perwakilannya di luar negeri dapat menjadi etalase produk premium Indonesia dengan membangun jejaring distributor internasional, memperkuat kemitraan bisnis, dan menghadirkan produk Indonesia dalam berbagai forum ekonomi dunia.
Strategi ini sejalan dengan agenda hilirisasi yang tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga nilai tambah dan daya saing global. Cerutu premium menjadi contoh bagaimana komoditas perkebunan dapat menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi ketika diolah, dipasarkan, dan diposisikan sebagai produk premium.
Kini saatnya Indonesia memperkuat diplomasi ekonomi yang mampu mengubah potensi menjadi pengaruh dan pengaruh menjadi kesejahteraan. Diplomasi harus mampu membuka peluang, menciptakan nilai, serta mengangkat martabat bangsa melalui karya terbaik anak bangsa.
Oleh : Anita Ariyani, Komisaris Independen PTPN I (Persero) & Ketua Umum DPN Wanita Tani Indonesia