
Merica Petani Sebatik lebih harum
TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Merica Pulau Sebatik banyak diminati warga Tawau Malaysia.
Kelompok Tani Sinar Harapan yang berada di Desa Bambangan Kecamatan Sebatik Barat Kabupaten Nunukan sudah puluhan tahun membudidayakan tanaman merica (Piper nigrum L), luasnya lebih dari 15 hektar.
Selama ini hasil produksi Merica asal Sebatik kebanyakan dijual ke Kota Tawau Malaysia, dengan harga bervariasi antara Rp 60.000 sampai 70.000 per kg.
Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Sebatik Barat, Karyadi mengatakan biasanya saat harga merica turun petani menahan dulu untuk tidak menjual, kalau harga dirasa sudah cocok baru merica dilepas.
“Kalaupun terpaksa karena kebutuhan biaya keluarga, biasanya petani menjual sedikit itu pun hanya sesuai keperluan saja, pengepul merica mengambil atau membeli langsung ke rumah petani, kemudian pengepul tersebut menjual kembali,” ujar Karyadi.
Ia menambahkan secara umum pasaran merica yang berasal dari Pulau Sebatik dijual ke Malaysia dan Nunukan, kalau dijual ke Malaysia sebanyak apapun dibeli, sementara kalau dipasarkan ke Nunukan masih terbatas dan harganya pun terkadang belum sesuai.
“Jenis merica yang ditanam poktan Sinar Harapan ini kebanyakan Malonan satu, jenis ini biasanya bisa panen terus menerus atau berbuah hampir sepanjang tahun asalkan perawatan dan pemeliharaannya bagus seperti pemangkasan, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman bisa terkendali dengan baik selain itu umur merica ini bisa bertahan sampai 20 tahun,” katanya.
BACA JUGA:
Masih menurut Karyadi, merica Sebatik ini memiliki butiran agak besar dengan rasa lebih pedas berdasarkan penelitiannya seperti itu. Biasanya petani di Desa Bambangan untuk melepaskan kulit merica dilakukan proses perendaman selama 14 hari sampai kulit merica lunak, lalu pencucian kemudian dikeringkan atau penjemuran sekitar 1-3 hari untuk memperoleh warna putih kekuningan, setelah itu bisa disimpan kalau prosesnya bagus merica bisa bertahan sampai tahunan.
“Proses perendaman merica selama 14 hari itu membuat merica lebih harum, jika dibandingkan dengan perebusan,” imbuhnya.
Merica kelompok tani Sinar Harapan ini sudah pernah dilakukan pengolahan menjadi lada bubuk kemudian dikemas dengan label “Mericaku” dan itu hanya berjalan sekitar 4 bulan lalu terhenti salah satunya disebabkan belum memperoleh izin dari dinas teknis, karena ada persyaratan tertentu secara kesehatan yang belum dipenuhi oleh kelompok tani, akhirnya petani kembali menjual merica dalam bentuk bulat.
Menurut Karyadi kalau diolah dalam bentuk bubuk, ada kemungkinan petani memiliki nilai tambah lebih karena menurut hitungannya lebih untung jika dibandingkan dengan menjual merica bulat, “kalau di olah ini bisa menambah pendapatan petani,” tutupnya.
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/