Wednesday, 21 October 2026


Ketua Umum GPPI: Jaga Perkebunan Tetap Tumbuh Positif

12 Dec 2022, 06:56 WIB

Petani sedang menjemur hasil rajangan tembakau

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Subsektor perkebunan menjadi salah satu tonggak perekonomian Tanah Air, bahkan menjadi penopang utama  pertumbuhan positif PDB sektor pertanian. Lantas bagaimana langkah selanjutnya menjaga kinerja subsektor perkebunan ini agar bisa terus melaju positif di masa depan?

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Delima Hasri Azahari mengemukakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2022 terhadap triwulan II Tahun 2021 tumbuh sebesar 5,44  persen (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada  Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 13,15 persen.

“Semua  subsektor pada Triwulan II mengalami pertumbuhan positif. dan subsektor yang menjadi penopang utama  pertumbuhan positif PDB sektor pertanian pada Triwulan II  Tahun 2022 adalah subsektor Perkebunan,” katanya dalam webinar Hari Perkebunan Nasional bertema: Membangkitkan Kejayaan Perkebunan Nusantara yang diselnggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Kamis (8/12).

Hingga Juli 2022, subsektor perkebunan juga mendominasi kontribusi ekspor pertanian. Tak tanggung-tanggung dari pertumbuhan ekspor pertanian sebesar 6,53 persen, sekitar 6,72 persen disumbang dari perkebunan. Untuk nilainya, terdapat peningkatan dari Juli 2021 sebesar Rp 310,94 trilliun menjadi Rp 331,85 trilliun. “Ekspor perkebunan memang big money, big volume,” tambah Delima yang juga Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI).

Delima menjelaskan, kinerja menggembirakan dari ekspor subsektor perkebunan ini tentunya harus dijaga sebaik mungkin untuk terus bertumbuh dikemudian hari. Potensi peningkatan ekspor, selain kelapa sawit, yaitu kopi (saat ini kopi Brasil sedang mengalami  masalah/kerusakan), kelapa, karet, kakao dan rempah-rempah.

Jika melihat produksi subsektor perkebunan, Delima mengaku ada beberapa jenis komoditas yang perlu diwaspadai keberlanjutan produksinya. Seperti kelapa kopra, karet, lada, teh, sagu, kayu manis dan vanili yang memiliki prosentase pertumbuhan produksi dibawah 1 persen, bahkan minus.

Delima melihat, rata-rata produktivitas komoditas perkebunan belum mencapai titik optimal, sehingga peningkatan produktivitas perlu dilakukan. Begitupula rata-rata tanaman menghasilkan (TM) pada komoditas perkebunan baru 70 persen. Artinya, masih ada potensi untuk meningkatkan produktivitas dari TBM (tanaman belum menghasilkan) ke TM.

Pemerintah menargetkan produksi 10 komoditas perkebunan yang melesat pada tahun 2022 ini. Ke-10 komoditas tersebut adalah kelapa sawit, karet, cengkeh, kelapa. kopi, kakao, tebu, mete, lada, dan pala. Untuk pengembangan perkebunan nasional, Delima lebih setuju pembagian proporsi ideal APBN sebesar 50 persen untuk ekstensifikasi, 15 persen intensifikasi, 25 persen hilirisasi dan 10 persen untuk dukungan manajemen.

Dengan keterbatasan anggaran, pemerintah perlu memprioritaskan komoditas? Baca halaman selanjutnya. 

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018