
BOC Agribisnis Teh langsung dari kebun teh
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Teh menjadi komoditas perkebunan andalan ekspor. Sayangnya, posisi Indonesia sebagai produsen teh dunia kini justru menyurut. Untuk mengangkat kembali kejayaan teh Tanah Air, perlu didorong upaya perbaikan tanaman teh dan inovasi teknologi. Banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan.
Ketua Umum Peragi (Perhimpunan Agronomi Indonesia), Prof. Andi M. Syakir mengatakan, teh termasuk salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai histroris. Teh juga merupakan komoditas strategis dan Indonesia adalah negara penghasil teh di dunia.
“Bagaimana sekarang ini kita meningkatkan keunggulan komparatif teh dalam negeri. Saat ini teh Indonesia nomor enam di dunia, padahal kita pernah the big five penghasil teh dunia,” katanya saat Bertani on Cloud di Bogor, Kamis (5/1).
Menurut mantan Kepala Badan Litbang Pertanian, saat ini hampir 78 persen perkebunan the ada di Jawa Barat. Namun produktivitas tanaman the hanya 1 ton/ha, padahal potensinya bisa mencapai 2,5 ton/ha. “Ini artinya ada peluang meningkatkan produktivitas. Salah satunya dari sisi agronomi,” katanya.
Misalnya ungkap Syakir, dengan perbaikan varietas teh yang baru. Pada masa lalu, wilayah pertanaman teh yang umumnya berada di pegunungan suhunya sangat dingin, tapi kini ada peningkatan suhu udara. Padahal peningkatan suhu mempengaruhi produktivtas.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah, masalah pasca panen. Selain itu, dalam berbudaya teh, petani dibimbing tidak hanya berkebun seperti biasa, tapi juga harus mulai memperhatikan konservasi. “Peragi sebagai perkumpulan ahli agronomi siap membantu perkembangan tah dalam negeri,” ujarnya.
Sementara itu Iriana Ekasari, founder Sila Tea mengakui, komoditas teh dalam negeri tengah menghadapi banyak masalah, baik di hulu hingga hilir. Di hulu, petani teh umumnya miskin dan tidak mendapatkan kesejahteraan dari usaha taninya. Hal ini karena harga pucuk teh sangat murah, di Garut ada petani yang menjual hanya Rp 1.500/kg dan dibeberapa wilayah lainnya Rp 2.000-2.500/kg.
“Ini kan tidak. Petani tidak mendapatkan kesejahteraan dari apa yang dia rawat. Kalau kita membiarkan terus terjadi, maka tanaman akan rusak dan produksi pun makin menurun,” katanya.
Masalah kedua adalah banyak lahan teh yang beralih fungsi. Padahal kebun teh umumnya berada di pegununganya yang menjadi penyangga lingkungan. Untuk itu kata Iriana, pihaknya mendorong petani menghasilkan teh premium agar mendapat apresiasi dari konsumen, khususnya soal harga.
Sedangkan maslaah dihilir, Iriana mengatakan, habit masyarakat dalam mengonsumsi teh adalah yang berwarna. Selain itu, ekspor teh Indonesia makin menurun, dan impor kian naik. “Di luar negeri, citra teh Indonesia berkualitas rendah,” katanya.
Kerena itu, menurut Iriana, perlu edukasi ke konsumen. Pihakny kini berupaya mengubah image teh Indonesia bahwa teh bukan hanya persoalan budidaya, tapi juga budaya. “Di negara penghasil dan peminum teh, minum teh untuk kesehatan. Ini yang akan kami dorong. Jadi teh menjadi kebanggaan Indonesia. Dengan inovasi akan meningkatkan kebanggaan,” ujarnya.
Untuk meningkatkan daya saing, ini saran Kepala BPPSDMP. Baca halaman selanjutnya.