
Kampung Adat Cireundeu
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Lebih dari satu abad masyarakat Adat Cireundeu, Cimahi telah mengkonsumsi singkong menjadi makanan pokok sehari-hari. Tak mudah memang mengubah kebiasaan baik ini. Namun, dengan keteguhan hati, diversifikasi pangan lokal, khusussnya singkong sudah mandarah daging disini.
Beralihnya makanan pokok masyarakat adat Cireundeu dari nasi beras menjadi nasi singkong dimulai sejak 1918 karena tekanan penjajah pada masa itu. Penggagasnya ialah Aki Ali atau disebut juga Mama Ali yang mencetuskan pemikiran bahwa sumber pangan yang dikuasai penjajah harus segera dilawan.
Kondisi masyarakat kala itu dalam keadaan semakin terdesak dengan penguasaan terhadap ladang rakyat dan perampokan lumbung masyarakat. Setelah adanya kesepakatan dari para sesepuh, maka warga kampung adat berhenti makan beras sebagai perlawanan. Jika sesepuh bilang harus berhenti makan nasi dari beras, semuanya ikut serta.

“Alasan beralih (dari beras nasi) karena ingin merdeka lahir batin,” ungkap Humas Masyarakat Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, Kang Yana dalam Focus Group Disscusion " Nutrisi, Konsumsi dan Potensi Singkong sebagai Pangan Pokok" yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (18/8).
Kang Yana mengaku, sesepuh bersama masyarakat awalnya dicoba beberapa makanan yang ada di kebun, mulai dari jagung, ubi, bunut dan lainnya. Sampai akhirnya memilih singkong yang cukup direbus atau dibakar.
Diakui Kang Yana, selama masa transisi peralihan dari nasi ke pangan lokal tersebut, banyak kejadian yang menjadi pembelajaran masyarakat. “Ketika makan nasi beras lagi ada muntah, nasinya basi. Seperti ada penolakan di dalam tubuh. Namun karena keteguhan hati, bisa mengarahkan masyarakat dari beras ke yang lain,” tuturnya.

Hingga akhirnya, pada 1924, menantu Mama Ali, Omah Asnamah mengembangkan makanan pokok non beras ini menjadi beras singkong. Omah Asnamah menjadi pelopor dan promotor makan beras singkong. Tidak hanya masyarakat adat, namun juga kepada warga sekitar.
Omah Asnamah ini juga yang menemukan teknologi mengolah singkong menjadi beras. “Kami konsumsi singkong karikil yang rasanya pahit namun bagus kandungan patinya dan diolah menjadi sangu sampeu, mungkin di daerah lain sebutnya Tiwul, tapi kami anggapnya nasi, tapi dari sampeu (singkong). Seiring berjalannya waktu, dikenal ke dunia luar, dan dikasih nama rasi (singkong nasi),” jelasnya.
Hingga sekarang, ada sekitar 70 Kepala Keluarga yang masih memegang teguh untuk tidak memakan Nasi dari Beras, tetapi hanya memakan nasi dari Singkong. Mereka akan membawa Rasi ke lokasi tempat-tempat mereka bekerja atau beraktifitas. Jika tidak ada, mereka akan memakan apa saja kecuali Nasi dari Beras.
Falsafah Hidup
Kang Yana menuturkan budaya menjadikan singkong sebagai makanan pokok sehari-hari ini menjadi bagian adaptasi lingkungan alam dan sosial yang dilakukan masyarakat adat Desa Cireundeu. Bahkan masih memegang teguh falsafah leluhur yaitu teu boga sawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat.
“Kalau dicermati, falsafah leluhur itu, mengingatkan tidak makan nasi dari padi pun, masyarakat bisa kuat. Singkong bagi masyarakat adat Cireundeu telah membuktikan selama bertahun-tahun bahkan 100 tahun lebih, terbebas dari krisis pangan,” jelasnya.
Kemudian, falsafah leluhur kedua yakni “Jaga tempat urang heurin ku tangtung, mana urang aya di lingkung gunung taringgul batu, merenahna mindah-mindah rasa”. Dimana mengandung arti masa depan penuh dengan manusia dan dipastikan membutuhkan pangan yang semakin meningkat. “Kami ada di lingkung gunung yang tidak terlalu subur dan sumber air berbatas untuk bertani padi. Sehingga menempatkan batiniah untuk kebiasaan makan dari makan nasi selain padi,”jelasnya.
Karenanya, masyarakat Adat Cireundeu tetap berpegang teguh kepada budaya dan sistem kepercayaan termasuk cara hidup tidak memakan nasi (beras) dan pengelolaan lahan/hutan sesuai pengetahuan lokal. Namun Kang Yana menegaskan, pihaknya membutuhkan keterlibatan dari pemerintah.
“Terlebih lagi lokasi Kampung Adat Cireundeu ini terletak di Kelurahan Leuwih Gajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. 6 km dari Pusat Kota Cimahi dan dekat dengan Kota Bandung. Sehingga pastinya makanan dari kota mempengaruhi masyarakat adat jika tidak dijaga,” pesannya.