
Eduwisata di Cireundeu
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Untuk mempertahankan eksistensi dan menyebarluaskan virus pangan lokal, milenial masyarakat adat Cireundeu dengan kreativitasnya membuat aneka olahan (kuliner) dari singkong hingga eduwisata yang bisa menarik wisatawan.
“Kita buat diversifikasi produk dari singkong, dengan mengintegrasian kegiatan wisata kuliner, kesenian, belajar kearifan pertanian dan konservasi alam, tinggal di homestay warga dan promosi melalui internet. budaya termasuk kuliner, musik dan tarian,” beber Humas Masyarakat Adat Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat, Kang Yana dalam Focus Group Disscusion " Nutrisi, Konsumsi dan Potensi Singkong sebagai Pangan Pokok" yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (18/8).

Eduwisata yang diusung Masyarakat Adat Cireundeu adalah menghadirkan keindahan alam. Daya tarik utama Kampung Adat Cireundeu terletak pada Hutan Larangan dan Hutan Tutupan yang sekaligus menjadi kawasan hutan lindung. Warga adat Cireundeu yang terdiri dari 70 kepala keluarga sangatlah menjaga Hutan Larangan atau hutan sakral seluas 30 hektar tersebut, antara lain dengan tidak mengganggu ataupun merusak kelestariannya. Termasuk terpesona dengan keindahan pesona pemandangan yang ditawarkan Batu Cadas Gantung yang berada disana.
Keunikan lainnya adalah dengan menawarkan menikmati budaya masyarakat Cireundeu dengan menyaksikan hiburan kecapi, menyediakan penginapan bagi mereka yang akan menginap dan menyuguhkan nasi singkong serta olahan singkong lainnya seperti opak, rengginang, ranggining dan lain-lain kepada pengunjung.

Tak hanya kreativitas masyarakat sendiri, Kang Yana menuturkan pihaknya melakukan kerjasama pentahelix mulai dari pemerintah, perguruan tinggi dalam dan luar negeri, bisnis, masyarakat /komunitas/lembaga donor international hingga media.
“Kampung Adat Cireundeu ini menjadi lokus summercourse bidang budaya, pertanian, sosiologi/antropolog. Mahasiswa luar negeri datang dan makan nasi singkong disini. Dan cukup menarik bagi mereka. Tukar pikiran dengan warga masyarakat,” jelasnya.
Masyarakat juga melakukan pengembangan model usaha kewirausahaan sosial berdasarkan prinsip–prinsip atau aturan adat, sebagai usaha bersama (komunal) bukan untuk akumulasi modal/pribadi tetapi gerakan sosial edukasi ketahanan pangan, konservasi alam, dan pelestarian.