
Pelatihan Pada PBT di Sulwesi Utara
TABLOIDSINARTANI.COM, Manado --- Tingkatkan kompetensi, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Sulawesi Utara memberikan Bimbingan Teknis bagi para Pengawas Benih Tanaman (PBT). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sentra Manado (28/2 hingga 1/3) ini dimasksudkan agar PBT dapat melakukan tugasnya dengan optimal.
Pengawas Benih Tanaman (PBT) bertugas melaksanakan Pengawasan Peredaran Benih, Penanganan Kasus Perbenihan, Pelaporan terhadap pelanggaran aturan perbenihan yang berlaku, yang dilakukan oleh oknum tertentu baik secara offline atau online.
Dijelaskan Koordinator Fungsional Pengawasan Mutu Benih, Catur Setiawan, bahwa benih merupakan komoditas agribisnis, sehingga harus unggul dan bersertifikat agar mampu bersaing memenuhi tuntutan pasar yang semakin berkembang.
“Agar benih-benih yang diproduksi tersedia dan tercukupi, maka dalam proses produksinya harus benar-benar diawasi sesuai prosedur atau ketentuan yang berlaku serta direncanakan secara baik disesuaikan dengan kebutuhan petani,” ujarnya.
Catur menambahkan prinsip dasar dalam Perbenihan adalah Suatu Kelompok Benih bisa diedarkan harus dilabel, Suatu Kelompok Benih bisa dilabel produksinya harus disertifikasi, Suatu Kelompok Benih bisa diedarkan/disertifikasi Varietasnya harus dilepas, lalu Produsen Benih wajib bertanggung jawab atas mutu benih yang diproduksi.
"Penerapan penggunaan QR-Code pada simperbenihan dalam proses sertifikasi diharapkan dapat digunakan sebagai akses dalam pengawasan peredaran benih, sehingga alur distribusi, jumlah stok dan peredaran benih tanaman pangan dapat lebih akurat.” Jelas Catur.
Selain itu, Catur menekankan bahwa penggunaan QR-Code diharapkan dapat meminimalisir pemalsuan untuk melindungi produsen dan petani, efisiensi waktu dan monitoring peredaran benih (dengan adanya notifikasi scan).
Sebagai informasi Aplikasi Simperbenihan Versi 5 saat ini masih terus dalam proses pengembangan, diharapkan dapat berintegrasi dengan aplikasi atau sistem lainnya seperti Sistem CPCL dan Sistem BAST Banpem sehingga semakin meningkatkan kinerja yang efektif dan efisiensi yang membuat tercapainya Integrasi Database Nasional.
Pada kesempatan tersebut, seluruh peserta juga mendapatkan penjelasan dan bimbingan teknis pembuatan elisitor biosaka.
Kepada para peserta, Mentor memberikan penjelasan singkat tentang biosaka yang merupakan molekul signal yang memacu terbentuknya metabolit sekunder di dalam kultur sel. Elisitor yang berasal dari bahan hayati disebut Elisitor Biotik. Elisitor Biotik yaitu Polisakarifa, protein, glikoprotein atau fragmen-fragmen dinding sel yang berasal dari fungi, bakteri dan tanaman.
Diterangkan juga dengan Pengaplikasian Elisitor Biosaka pada tanaman dapat mengurangi konsentrasi penggunaan pupuk kimia, dikarenakan elisitor biosaka dapat meningkatkan penyerapan pupuk yang diberikan walau dengan konsentrasi yang lebih rendah karena dapat memicu bahan-bahan dalam pupuk bekerja dengan lebih optimal.
Hal ini juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan pengurangan aplikasi pupuk kimia, dan manfaat lainnya dengan pengaplikasian elisitor biosaka untuk budidaya pertanian.