Wednesday, 21 October 2026


Refleksi, Gejolak Harga Beras Warnai Tahun 2023

28 Dec 2023, 13:56 WIBEditor : Yulianto

Lonjakan harga beras warnai Tahun 2023

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tahun 2023 bangsa Indonesia mengalami tantangan berat dalam pembangunan pertanian, terutama dalam menjaga ketahanan pangan. Bukan hanya sinyal krisis pangan yang melanda dunia, tapi perubahan iklim yang menyebabkan El Nino membuat upaya peningkatan produksi pangan menjadi berat.  Dampaknya lonjakan harga beras mewarnai sepanjang tahun 2023.

Pergerakan kenaikan harga beras yang dimulai sejak awal semester II tahun 2022 akibat rendahnya produksi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), ternyata terus berlanjut selama tahun 2023. Kenaikan harga beras juga imbas dari tingginya harga gabah. Panen raya pada Maret 2023 tidak memberi efek signifikan pada pemulihan harga gabah dan beras, meskipun tingkat produksi membaik.

Akibatnya titik kenaikan harga yang biasa terjadi di bulan Mei-Juni, namun di tahun 2023 telah terjadi sejak April. Data BPS mencatat, pada Juli 2022 harga gabah kering panen (GKP) di petani masih sebesar Rp 4.569/kg, namun pada Desember naik menjadi Rp 5.624/kg.

Bahkan saat panen raya pun harga GKP masih cukup tinggi yakni Rp 5.583/kg. Begitu juga harga gabah kering giling (GKG) di penggilingan. Jika pada Juli 2022 hanya Rp 5.323/kg, maka pada Mei 2023 mencapai Rp 6.200/kg.

Tingginya harga gabah tersebut mendorong kenaikan harga beras. Jika pada Juli 2022 harga beras masih sebesar Rp 11.487/kg, maka pada April mencapai Rp 12.915/kg.  Belum pulihnya tingkat harga produsen membawa potensi harga akhir tahun merupakan harga tertinggi selama beberapa tahun terakhir.

Serupa dengan kondisi di produsen, titik harga di akhir tahun 2023 diprakirakan dapat menjadi harga tertinggi selama beberapa tahun terakhir akibat belum adanya pemulihan kenaikan sejak tahun 2022. Harga beras di tingkat konsumen pada akhir tahun 2023 mencapai Rp 13.700/kg.

Merujuk data Panel Harga Pangan dari Badan Pangan Nasional, rata-rata harga beras pada Januari 2023 mencapai Rp11.550/kg, menunjukkan kenaikan sebesar 6,64% (yoy) dari harga pada Januari 2022 yang sebesar Rp10.830/kg.

Begitu pula, harga beras pada bulan Desember 2023 mencapai Rp 13.180/kg, mengalami kenaikan sebesar 16,22% (yoy) dari harga pada Desember 2022 sebesar Rp 11.340/kg. Dalam periode satu tahun terakhir, dari Januari hingga Desember 2023, harga beras mengalami kenaikan sebesar 14,11% (ytd).

BPS juga mencatat pada Agustus 2023, harga beras mengalami inflasi tahunan tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Tingkat inflasi beras sebesar 13,76% (year-on-year/yoy) pada Agustus 2023 merupakan yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Terakhir kali terjadi inflasi beras secara tahunan yang cukup tinggi adalah pada Oktober 2015, mencapai 13,44% [yoy]. Dengan tingkat bulanan sebesar 1,43%, inflasi beras pada Agustus 2023 mencapai titik tertinggi sejak Maret 2023. Sedangkan pada Februari 2023 harga beras mengalami inflasi sebesar 2,34%.

Sejak harga beras merangkak naik, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Maret 2023 resmi mengumumkan penyesuaian harga eceran tertinggi (HET) untuk beras melalui Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No. 7/2023. HET beras medium ditetapkan dalam kisaran Rp10.900 hingga Rp11.800/kg, sementara HET beras premium berkisar antara Rp13.900 dan Rp14.800/kg.

Tidak hanya itu, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras di tingkat petani juga mengalami kenaikan menjadi Rp 5.000/kg dari sebelumnya Rp 4.200/kg. Penyesuaian HET dan HPP ini dilakukan selama periode panen raya 2023.

Tingkat harga beras yang cukup tinggi dapat meningkatkan andil harga beras terhadap inflasi, kemudian berimbas pada potensi penurunan daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, diperlukan penanggulangan yang sistemik dan melibatkan multi-institusi.

Upaya Jaga Stabilisasi Beras

Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Budi Waryanto mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa upaya strategis, khususnya di sektor hilir agar komoditas pangan yang bergejolak seperti beras bisa ditekan harganya. Misalnya, membuat tata kelola kebijakan pangan dengan membuat kebijakan pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah, kegiatan stabilisasi pasokan dan harga pangan, serta penguatan sistem logistik pangan, khususnya beras.

“Selama ini komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar adalah beras, yakni sebesar 0,55% year on year. Jadi salah satu kunci terkendalinya inflasi nasional adalah dengan menjaga stabilitas stok dan harga pangan, terutama beras,” katanya.

Untuk menjaga stabilitas harga beras, Budi mengungkapkan, pihaknya telah membuat kebijakan bantuan pangan sebanyak 10 kg kepada 21,353 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada Mei-Juli 2023. Karena dinilai efektif dan mampu menekan inflasi, pemerintah akan melanjutkan program bantuan pangan tersebut. Bahkan Presiden meminta dilanjutkan September, Oktober dan November. Keputusan terakhir, bantuan pangan dilanjutkan sampai April 2024.

Kebijakan itu menurutnya, untuk mengantisipasi masih minusnya neraca produksi-konsumsi karena mundurnya musim tanam di akhir 2023. Apalagi pemerintah juga harus mengantisipasi Hari Raya Besar Keagamaan Natal dan Tahun Baru, serta adanya pesta demokrasi pada Februari 2023, kemudian dilanjutkan Ramadhan dan Idul Fitri. ”Jadi kita harus memperhatikan cadangan pangan agar terjaga dengan baik,” katanya.

Direktur Utama Peru Bulog, Bayu Krisnamurthi mengatakan, dalam rangka program stabilisasi harga beras, Pemerintah melalui BULOG sudah menggelontorkan cadangan beras pemerintah sebanyak 2,56 juta ton sepanjang tahun 2023. Untuk program SPHP sudah disalurkan sebanyak 1,1 juta ton dan untuk program beras bantuan pangan sudah sebanyak 1,46 juta ton.

Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikuasai BULOG saat ini ada sebanyak 1,26 juta ton. Lalu masih ada stok beras yang masih dalam perjalanan menuju gudang-gudang BULOG sebanyak 494 ribu ton serta juga masih ada sisa kuota tambahan penugasan pengadaan sebanyak 500 ribu ton. “Jadi untuk stok beras ini jumlahnya sangat kuat untuk program stabilitas harga menghadapi tahun 2024,” kata Bayu.

Kemudian Bayu juga mengemukakan pelaksanaan program Bantuan Pangan berupa beras sampai dengan tanggal 20 Desember 2023 sudah terealisasi sebesar 97% atau sebanyak 1,46 juta ton dari pagu total sebanyak 1,49 juta ton. Disamping itu juga BULOG sudah menggelontorkan beras Operasi Pasar atau yang sekarang bernama Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun 2023 ini sebanyak 1,1 juta ton.

Di Tahun 2024 bangsa Indonesia akan menggelar hajatan besar, Pemilihan Umum Presiden, persoalan pangan di tahun politik menjadi tantangan bagi pemerintah. Presiden Joko Widodo juga sempat mengungkapkan keheranannya terhadap lonjakan harga beras yang terjadi saat panen raya. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018